
"Alan, kamu masuk kelas B ya. Di sana banyak anak cerdas sesuai dengan nilai yang kamu peroleh. Semoga kamu bisa membuat sekolah ini lebih maju dan terkenal akan prestasinya," ucap kepala sekolah itu setelah melihat Alan selesai mengisi data dirinya.
"Mending saya masuk kelas yang paling biasa saja, pak. Saya di sini buat belajar bukan mau memajukan sekolah ini. Pindah saja, pak." ucap Alan yang malas menanggapi kepala sekolahnya.
"Kamu ini, biar ngobrolnya kalau diskusi itu nyambung sama temannya yang juga pintar." ucap kepala sekolah itu kekeh dengan keputusannya.
"Saya itu nggak pintar. Masa karena nilai tinggi bisa menilai kalau orang itu pintar. Bisa saja itu keberuntungan saat menjawab soal. Sudahlah... Saya mau pindah kelas yang biasa saja. Kalau tidak dipindah, saya akan duduk di sini saja." ucap Alan yang tetap ngeyel dengan apa yang diinginkannya.
Kepala sekolah itu hanya bisa mengelus dadanya sabar. Ia pikir menerima Alan yang data prestasi akademik dan non akademiknya baik itu akan membuat sekolah ini lebih maju. Namun ia salah, ternyata dibalik prestasinya itu mempunyai sifat yang bikin mengelus dada.
"Baiklah. Kamu di kelas E. Tapi ingat, jangan pernah kamu ikut-ikutan sifat mereka yang urakan. Kalau sampai seperti itu, kamu saya pindahkan." ucap kepala sekolah itu.
"Suka-suka Alan dong. Kok bapak ngatur saya sih?" ucap Alan dengan acuh.
Kepala sekolah yang bernama Pak Gogon itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh ia kesal dengan Alan yang malah seenaknya sendiri itu. Alan segera diantar Pak Gogon ke kelasnya agar tak tersesat di jalanan.
***
"Bapak kenapa ngikutin saya?" tanya Alan pada Pak Gogon.
"Saya nggak ngikutin kamu, bocah. Saya ngantar kamu biar nggak tersesat di sekolah ini. Memangnya kamu tahu dimana kelas kamu?" tanya Pak Gogon dengan raut wajah kesalnya.
"Kan ada peta sekolah, pak. Tuh lihat," ucap Arnold dengan menunjuk sebuah peta sekolah yang ada di beberapa tempat.
Pak Gogon hanya bisa menepuk dahinya pelan. Niatnya dia ingin mengantar Alan itu untuk mengetahui bagaimana sikap siswa barunya itu saat menghadapi teman-temannya. Apalagi kelas yang akan ditempati oleh Alan ini siswanya lumayan badung-badung.
"Bapak penasaran ya gimana ketika saya di kelas?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Siapa bilang? Saya ini hanya ingin siswa baru di sini tak tersesat. Kadang ada orang yang ingin ke ruang kelas malas melihat peta duluan," ucap Pak Gogon beralasan.
Alan hanya menganggukkan kepalanya. Pak Gogon masih saja mengikuti Alan dari belakang. Bahkan tingkah Alan yang seperti anak kecil yang tengah melompat-lompat itu membuat Pak Gogon merasa heran. Ucapannya pedas dan kadang sok bijak namun tingkahnya seperti anak kecil biasa.
"Pak Gogon kaya anak ayam, yang suka ngikutin induknya. Apa Pak Gogon ngefans dengan Alan yang tampan ini ya?" ucap Alan sambil terkekeh geli.
"Mana ada orang yang ngefans sama kamu, Alan. Menyebalkan sekali," ucap Pak Gogon.
"Banyak. Apalagi mantan saya ada sepuluh lebih lho, pak. Bapak punya mantan berapa?" tanya Alan sambil terkekeh geli.
"Anak kecil sepertimu mana boleh punya mantan pacar lebih dari sepuluh. Kamu itu nggak boleh kenal pacar-pacaran dulu. Belajarlah dulu, Alan." ucap Pak Gogon memberi peringatan.
"Dih... Yang bahas pacaran juga siapa, pak? Orang ini mantan teman kok," ucap Alan sambil menepuk dahinya pelan.
Pak Gogon hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar dan melipat bibirnya ke dalam. Ia sudah berceramah panjang lebar namun ternyata apa yang dipikirkannya dengan Alan sangat berbeda. Usil sekali Alan ini kepada kepala sekolah yang ada di sini.
Tok... Tok... Tok...
"Bu Tami..." seru kepala sekolah itu setelah mengetuk pintu ruang kelas.
Tak ada suara yang menjawab dari dalam kelas. Hal itu membuat Alan dan Pak Gogon mengernyitkan dahinya heran. Pak Gogon yang hendak membuka pintu pun langsung dilarang oleh Alan. Apalagi Alan merasa curiga dengan pintu kelas ini.
"Pak, mundur. Jangan dibuka dulu," ucap Alan yang langsung menarik tangan Pak Gogon untuk menjauh.
"Ada apa? Ini sudah keburu siang dan kamu belum masuk kelas lho," ucap Pak Gogon dengan sedikit kesal.
"Diam saja sih, pak. Daripada wajah dan kepala bapak benjol, mending nurut sama saya." ucap Alan membuat Pak Gogon terdiam.
__ADS_1
Alan segera saja mengambil kursi yang ada di depan kelas. Ia juga mengambil cutter yanh ada di dalam tasnya kemudian memotong sebuah tali yang ada di atas ventilasi pintu. Pak Gogon terkejut dengan aksi Alan ini, pasalnya ia sama sekali tak melihat tali itu.
Brugh...
Clontang... Clontang...
Wooooo....
Huuuu....
Setelah tali dipotong, sontak saja terdengar suara gemuruh dari dalam kelas. Sorakan dari orang yang ada di dalam dan beberapa barang yang jatuh. Alan hanya bisa terkikik geli mendengarnya karena ia memang paling paham kalau dalam hal kejahilang seperti ini.
"Gimana, Pak Gogon? Saya hebat, kan? Saya itu suhunya anak usil. Nggak bisalah kalau dikadalin sama anak buahnya. Pak Gogon makanya harus nurut sama Alan, biar nggak kena keusilan mereka." ucap Alan sambil terkekeh geli.
"Astaga... Bisa tambah depresi saya ini," gumam Pak Gogon sambil menepuk dahinya.
Sangat tak dipercaya jika Alan mampu mengetahui situasi seperti ini. Setelah mendengar suara gaduh dari dalam kelas, Alan pun membuka pintunya dan melambaikan tangan kearah semua siswa yang ada di sana.
"Hallo guys... Gimana? Rencana kalian gagal kan? Kasihan... Pasti semalaman buat giniannya tapi dibayar kegagalan paginya ya," ledek Alan membuat beberapa siswa di sana menatapnya dengan sinis.
"Siapa sih kamu?" tanya salah satu siswa yang kesal.
"Kenalin Babang Alan yang tampan. Aku adalah ketua kelas di sini. Jadi kalian semua harus nurut sama Alan," ucap Alan dengan percaya dirinya.
"Hei... Kita sudah ada ketua kelas. Lagian kamu itu murid baru, mana ada jadi ketua kelas." ucap siswa itu.
"Tanya saja sama Pak Gogon. Iya kan, pak? Saya ketua kelas di sini," tanya Alan sambil menatap Pak Gogon untuk meminta persetujuan.
__ADS_1
Pak Gogon hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia masih shock dengan apa yang terjadi. Apalagi melihat beberapa alat dapur yang sudah penyok berserakan di lantai. Kalau tak ada Alan yang memperingatinya, pasti nasibnya akan berbeda. Alan memang cocok jadi pawangnya kelas ini