Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Kembali


__ADS_3

"Iya, Alan mau pulang ke rumah." ucap Alan memutuskan.


Andre menghela nafasnya lega mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Bahkan kini Andre langsung memeluk anaknya dan mengecupi pelipisnya. Matanya sudah berkaca-kaca karena begitu terharu.


"Terimakasih, nak. Papa akan berusaha untuk takkan pernah menyakitimu dan keluarga kita yang lain. Terimakasih atas kesempatan yang kamu berikan," bisik Andre pada Alan.


"Buktikan sama kita semua kalau papa bisa menjaga emosi dan keluarga kita," ucap Alan membuat Andre menganggukkan kepalanya mengerti.


Nadia ikut masuk dalam pelukan keduanya. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi keluarganya akan kembali bersatu. Nenek Hulim dan Frank yang melihat juga mendengar percakapan mereka hanya bisa tersenyum tipis.


"Kita akan kehilangan Alan sebentar lagi. Pasti rumah ini akan sepi lagi dan nggak ada yang ngajak debat saya. Padahal saya kira kalau Alan akan tumbuh dewasa di tengah-tengah kita," ucap Nenek Hulim.


"Alan akan selalu menjadi cahaya dan pelita dalam lingkungannya. Keluarganya takkan pernah mungkin untuk mau melepaskan cahayanya itu dengan mudah. Lagi pula tanpa kita pun, Alan bisa meraih kesuksesannya sendiri. Jangan tertipu dengan wajah frustasi dia saat disuruh belajar," ucap Frank pada Nenek Hulim.


Tentu saja Nenek Hulim paham dengan apa yang diucapkan oleh Frank. Ia juga yakin kalau sebenarnya dibalik wajah frustasi itu ada rasa malas karena sudah paham dengan bahan belajarnya. Alan tentunya akan menjadi orang yang sukses dengan caranya sendiri.


***


"Nenek bakalan rindu sama celotehan pedas bak bon cabe level 100 itu," ucap Nenek Hulim saat Alan mengutarakan keinginannya untuk pulang ke rumahnya.


"Beli saja ayam geprek level 100, nek. Pasti nenek akan merasakan kehadiran Alan di situ," ucap Alan dengan santainya.


"Mana bisa begitu, Alan. Kamu mah nggak peka, nenek ini kan sedih karena kehilanganmu. Sebentar lagi kita akan berpisah lho," ucap Nenek Hulim dengan wajah yang disedih-sedihkan.


"Alan kan cowok yang memang terlahir dengan ketidakpekaannya. Lagian nenek ini kaya, tinggal naik pesawat dan temui Alan di Indonesia. Teknologi juga canggih, nanti Alan tiap menitnya bakalan kirim foto terbaru ke nenek." Ucap Alan.

__ADS_1


Nenek Hulim begitu gereget dengan ucapan Alan itu. Bahkan Alan terlihat biasa saja ketika akan berpisah dengannya. Nenek Hulim merasa kalau Alan itu tidak sedih pergi darinya.


"Alan kaya nggak berat gitu ninggalin nenek. Alan nggak sayang ya sama nenek?" Tanya Nenek Hulim.


"Berat, nek. Sangat berat Alan ninggalin nenek yang cantiknya melebihi Ratu Cleopatra itu. Bahkan ini lebih berat dari beban hidup Alan," ucap Alan dengan melebih-melebihkan.


Perdebatan keduanya yang berawal dari Alan ingin berpamitan pada Nenek Hulim itu pun membuat seru orang yang melihatnya. Bahkan kelihatan sekali kalau keduanya sangat menikmati permainan drama itu. Padahal aslinya Alan itu juga kehilangan sosok Nenek Hulim jika berjauhan nanti.


"Alan, jangan bantah mulu omongan nenekmu. Kasihan kan beliau, harus mikir lawan omonganmu yang bikin orang frustasi." Tegur Nadia.


"Nenek duluan yang ngajak debat. Alan cuma menyahuti. Setelah perdebatan ini, Alan jadi yakin kalau besok mau calonin diri sebagai capres. Alan kan pintar berdebat, pasti bisalah lawan semuanya." Ucap Alan dengan percaya dirinya.


"Kalau mau calonin diri sebagai calon presiden, nenek nggak akan mau pilih kamu." Ucap Nenek Hulim.


"Pendukung dan fans Alan sudah banyak. Alan nggak butuh juga dipilih nenek," ucap Alan dengan sombongnya


"Malaslah Alan berdebat sama nenek. Apalagi nenek itu cepat emosian dan menganggap ucapan Alan serius. Intinya Alan mau pamit. Terimakasih nenek, Kak Fikri, dan Paman Frank sudah membantu Alan selama ini. Alan yang tampan dan suka menabung ini ijin pamit pulang. Sampai jumpa di kemudian hari dengan Alan yang sudah punya pasangan hidup," ucapnya setelah menghentikan perdebatan itu.


"Kamu ingin ketemu nenek saat nanti sudah punya pasangan hidup? Kamu nggak akan jenguk nenek di sini setelah balik ke rumah?" Tanya Nenek Hulim dengan tatapan kesal.


"Kasih dulu pesawat pribadi nenek itu buat Alan. Pasti Alan akan bolak-balik jenguk nenek setiap hari," ucap Alan dengan santainya.


"Dasar bocah tengil. Pintar ya kamu," ucap Nenek Hulim dengan gemasnya langsung mengapit kedua pipi Alan dengan tangan keriputnya.


Alan hanya tertawa karena hidungnya dikecup berulangkali oleh Nenek Hulim. Nenek Hulim yang gemas bercampur kesal tentu saja langsung mengecup hidung kecil itu. Sungguh pemandangan yang mengharukan orang di sekitarnya.

__ADS_1


***


"Andre, jaga Nadia dan cucu-cucuku. Awas saja kalau kau sampai menyakiti mereka lagi. Nenek takkan segan-segan untuk membawa mereka pergi dari kehidupanmu," ucap Nenek Hulim mengancam Andre.


Saat ini mereka tengah berada di Bandara. Semalam telah disepakati bahwa Andre akan membawa pulang anak dan istrinya keesokan harinya. Nenek Hulim sempat tak setuju karena belum membelikan apa-apa untuk keluarga lainnya. Akhirnya pagi tadi, Nadia menemani Nenek Hulim berbelanja oleh-oleh.


Pada siang harinya langsung saja mereka pergi ke Bandara. Mata Nenek Hulim sedari tadi sudah berkaca-kaca karena tak menyangka jika hari ini tiba juga. Setelah ini ia akan mulai menyibukkan diri kembali dengan kertas-kertas. Sebelum nantinya perusahaan itu akan diambil alih Fikri setelah lulus kuliah.


"Saya akan membuktikan kalau takkan pernah menyakiti keluarga Andre lagi. Kalau itu sampai terjadi, saya yang akan melepaskan mereka untuk mencari kebahagiaannya sendiri." Ucap Andre dengan tegasnya.


"Saya pegang janji kamu itu," ucap Nenek Hulim dengan wajah seriusnya membuat Andre menganggukkan kepalanya.


"Alan jadi terharu. Nenek Hulim ternyata sayang sekali sama Alan yang tampan ini," ucap Alan sambil berpura-pura mengusap sudut matanya seperti orang habis menangis.


Padahal sama sekali tak ada air mata di sana. Tingkah Alan itu membuat Nenek Hulim memelototinya. Namun tak ayal bocah cilik itu langsung memeluk wanita tua itu. Alan sangat menyayangi Nenek Hulim yang sudah seperti keluarganya sendiri.


"Jaga diri baik-baik, nek. Jangan terlalu banyak kerja, biar Paman Frank saja yang mengurus perusahaan. Biar dia kelamaan jadi duda karatannya," bisik Alan yang masih terdengar oleh Frank.


"Padahal sebentar lagi saya punya istri, tapi kok malah dijemput sama suaminya." Ucap Frank tiba-tiba.


"Definisi cinta bertepuk sebelah tangan. Soalnya tangan sebelahnya buat cebok," ucap Alan sambil terkekeh geli.


Andre menatap Frank kesal. Namun ia tak berani jika menghadapi laki-laki yang wajahnya seperti mafia itu. Setelah selesai acara pamitannya, Alan digandeng oleh kedua orangtuanya untuk memasuki area pesawat pribadi milik Nenek Hulim.


"Terimakasih, nenek. Alan sayang banyak-banyak sama nenek. I love you," seru Alan tanpa mempedulikan banyak orang yang melihatnya.

__ADS_1


"Nenek juga sayang banyak-banyak sama Alan," teriak Nenek Hulim dengan mata yang berkaca-kaca.


Perpisahan itu membuat raga mereka berjauhan. Namun mereka percaya kalau akan ada waktu untuk bisa berkumpul kembali. Apalagi mereka hanya dipisahkan oleh jarak saja, bukan kematian.


__ADS_2