Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Pertemuan


__ADS_3

"Tuan Frank sedang tidak ada di tempat karena ada acara penting di luar. Tuan Frank sedang berada di kampus tempat kuliahnya Nak Fikri," jawab satpam itu memberitahu.


"Fikri? Cucunya Nenek Hulim?" tanya Andre lagi untuk meyakinkan satpam itu kalau memang dia tahu semua informasi mengenai Frank.


"Iya, pak. Kok anda tahu kalau Nak Fikri cucunya Nenek Hulim? Pemilik perusahaan ini," tanya satpam itu.


"Dulu Frank dan Fikri itu sering menginap di rumah saya. Fikri kecil sangat akrab sama anak-anak saya tapi hilang komunikasi karena kepindahannya ke luar negeri," jawab Andre penuh keyakinan.


Satpam itu menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin kalau tak salah dalam memberikan informasi. Apalagi Andre seperti mengetahui tentang seluk beluk dari Frank dan Nenek Hulim. Mungkin memang benar jika laki-laki di depannya ini merupakan salah satu kerabat dekat atau sahabat dari Frank.


Andre yang sudah mendapatkan informasi itu pun langsung saja menuju ke kampus Fikri. Dalam hatinya, ia senang sekali karena dengan mudah mengelabuhi satpam di perusahaan Nenek Hulim. Namun ia kasihan jika satpam itu kena imbasnya karena dirinya nanti. Biarlah itu urusan belakang, yang penting dia bisa menemukan anak dan istrinya.


***


"Dimana mereka?" gumam Andre yang sudah memasuki area kampus Fikri.


Tadi Andre langsung saja pergi ke kampus Fikri dengan semangat. Sesampainya di sana ia langsung mencari keberadaan dari Frank. Namun sudah hampir setengah jam ia mengelilingi kampus itu, tak ada sama sekali kelihatan batang hidungnya.


"Mungkin aku harus bertanya pada mahasiswa di sini. Apalagi di situ ada banyak orang yang sepertinya sedang menanti acara," ucapnya.


Andre segera saja mendekat kearah salah satu mahasiswa di sana. Dengan menggunakan bahasa negara itu yang fasih, ia mencoba menanyakan keberadaan Fikri. Ia hanya berharap kalau memang Fikri ikut dalam kegiatan ini.


"Apa diantara kalian ada yang mengenal Fikri? Mahasiswa dari Indonesia dengan jurusan managemen bisnis," tanya Andre.


"Ya, kami mengenal Fikri. Sebentar lagi dia akan tampil dengan bandnya. Mungkin sekarang dia ada di backstage," ucap salah satu mahasiswa yang ada di sana.


Andre menganggukkan kepalanya dengan senyum puas. Ia akan menunggu Fikri tampil dalam acara ini. Ia yakin kalau Frank juga akan berada di tempat ini. Ia terus saja melihat kearah sekitar untuk memastikan jika tak melewatkan apapun dari sana.

__ADS_1


Prok... Prok... Prok...


Tak berapa lama, Fikri naik ke atas panggung bersama teman-temannya yang lain. Sontak saja semua yang melihatnya langsung bertepuk tangan seru. Andre yang melihatnya kini bertambah yakin. Apalagi pemuda yang ada di atas panggung itu memang benar Fikri yang dikenalnya.


"Kak Fikri... Main gitarnya yang bagus," teriak seorang pemuda tanggung menggunakan Bahasa Indonesia yang tegas.


Mendengar suara yang tidak asing dalam kehidupannya, sontak saja Andre langsung mengalihkan pandangannya. Mata Andre membelalak saat melihat anak bungsunya juga berada di sana. Yang berteriak memberikan semangat kepada Fikri itu ternyata adalah Alan.


"Alan..." gumam Andre dengan mata yang berkaca-kaca.


Di sana Alan berdiri sambil terus bersorak untuk memberikan semangat pada Fikri. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Berbeda dengan saat bersama dirinya. Hanya ada wajah tertekan dan sendu saja. Padahal ia adalah ayahnya sendiri, namun untuk memberikan senyum pada Alan saja sangat susah.


"Kok kaya ada yang ngelihatin Alan ya," gumam Alan yang langsung mengedarkan pandangannya kearah sekitarnya.


Andre yang melihat hal itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Bahkan ia langsung memperbaiki posisi kacamata hitamnya. Ia langsung berpura-pura fokus melihat pertunjukkan yang disajikan oleh Fikri dan teman-temannya.


***


"Tapi kalau buta kok lihatnya kearah panggung terus sih. Ah atau mungkin itu hanya orang kurang waras saja," gumamnya yang kemudian fokus pada panggung.


Setelah Fikri selesai melakukan aksi di panggungnya, Alan langsung saja menuju belakang panggung. Di sana sudah ada Frank, Nenek Hulim, dan Nadia. Memang ketiganya tadi memilih duduk sebentar di belakang panggung karena kaki Nenek Hulim sedang sedikit nyeri.


Andre yang melihat Alan pergi pun langsung ikut menyusulnya. Ia takkan pernah rela jika kembali kehilangan jejak anaknya. Ia mengikuti Alan dari jauh agar laki-laki itu tak menyadari keberadaannya.


"Bunda..." seru Alan yang langsung berlari memeluk Nadia.


"Uluh... Manjanya anak bunda yang tampan ini. Bagaimana pertunjukannya Kak Fikri?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Bagus. Main gitarnya luar biasa. Alan ingin juga belajar gitar," seru Alan dengan antusias.


"Mending kamu belajar drum aja, dek. Kamu kan suka mukul-mukul tuh," ucap Fikri memberi saran.


"Alan nggak suka mukul drum. Sukanya mukul orang," ucap Alan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan melepaskan pelukannya dari Nadia.


"Nggak boleh mukul orang gitu, nak. Nggak baik," peringat Nadia.


"Tapi suami bunda kemarin mukul pipi Alan. Berarti suami bunda nggak baik dong," ucap Alan membuat hati Nadia tercubit.


Deg...


Bahkan tanpa mereka semua sadari, Andre berada tepat di belakang tempat duduk kelimanya. Jantung Andre terasa ditikam dan diremat benda tak kasat mata. Hatinya sakit saat anak bungsunya tak mau memanggilnya dengan panggilan papa.


Bahkan kini Nadia, Nenek Hulim, Frank, dan Fikri langsung terdiam. Mereka tak bisa mengelak dan membantah ucapan dari Alan itu. Apalagi semua itu memang sudah terjadi dan terlihat di depan mata.


"Kok pada diam gini sih? Ayo kita nonton tari-tarian itu," ajak Alan pada Fikri.


Bahkan Alan langsung mengajak Fikri pergi dengan wajah antusiasnya. Tanpa menghiraukan para orang dewasa yang wajahnya sendu. Mereka seperti tengah memikirkan sesuatu yang hanya orang dewasa yang bisa menyelesaikannya.


"Apa kau dengar, Nad? Panggilan untuk Andre sudah berubah. Bahkan ia menyebut Andre sebagai suamimu," ucap Nenek Hulim yang masih terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya, nek. Nadia juga nggak menduga kalau Alan akan mengucapkan hal seperti itu. Apa dia sampai sekarang masih sakit hati? Sepertinya membawa dia pergi jauh dari keluarga yang lain, masih susah buatnya mengikis sakit hati itu." ucap Nadia dengan mata yang berkaca-kaca.


Nadia ingin sekali kalau keluarganya itu bisa bersama dan bersatu kembali. Namun sepertinya susah karena Alan terlihat menyimpan dendam pada Andre itu. Nadia menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya.


"Sabar... Mungkin dia bisa bilang biasa saja atau sudah memaafkan Andre karena peristiwa itu. Namun otaknya pasti takkan mudah untuk melupakannya," ucap Nenek Hulim menenangkan Nadia.

__ADS_1


"Nadia..."


__ADS_2