
"Apa? Jadi Andre menginap di sel penjara sudah dua hari? Sampai sekarang belum keluar? Karena menghajar anak-anak yang membuat Arnold celaka," tanya Papa Reza yang terkejut.
Pantas saja anaknya itu beberapa hari ini tak bisa dihubungi. Bahkan setelah kejadian di kantor waktu itu, Papa Reza hanya beberapa kali bertemu di rumah sakit. Namun akhir-akhir ini Andre sama sekali tak datang dan menghubungi keluarganya.
Entah bagaimana reaski Mama Anisa dan kedua anaknya mendengar berita mengejutkan ini. Ia tak menyangka kalau anaknya sampai rela masuk penjara demi melampiaskan emosinya. Di sisi lain, Papa Reza senang karena Andre mau membalas orang yang mencelakai cucunya. Namun di sisi lain, ia sangat kesal dengan tindakan ceroboh itu.
"Pelaku babak belur. Bahkan sampai Pak Andre melempar hasil pemeriksaan Arnold kearah wajah polisi dan pelaku. Yang akhirnya jadi seperti ini. Pak Andre tak mengijinkan saya untuk bilang sama Pak Reza, tapi saya takut bohong sama orangtua." ucap Bayu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sudah tak apa. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Biarkan saja Andre berada di penjara dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Lagian ini bisa sebagai bentuk pembelajaran buat Andre," ucap Papa Reza mencoba tenang.
"Bapak yakin nggak mau bantu Pak Andre keluar dari penjara?" tanya Bayu dengan sedikit terkejut.
"Ya. Biar mikir di sana. Dia juga sama jahatnya kok sama para pelaku. Ini dia sudah menyakiti dan melukai batin istri juga anak-anaknya," ucap Papa Reza dengan santainya.
Bayu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Reza. Tak menyangka juga kalau Papa Reza bisa membiarkan anaknya sendiri menyelesaikan masalah. Tapi itu juga bukan urusannya karena setiap orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya.
***
"Sialan... Awas saja. Saat aku keluar nanti dari sini, akan ku habisi orang-orang yang berperan penting dalam kejadian ini. Terutama dalang dari kejadian ini. Hanya karena di bawah umur, mereka nggak ditahan dan hanya wajib lapor. Pasti mereka memanipulasi data umur biar nggak dihukum begini," ucap Andre dengan kesalnya.
Sudah dua hari dirinya tertahan di sel jeruji besi. Padahal ia ingin memberikan pelajaran langsung pada pelakunya. Apalagi Arnold sampai kritis dan Alan pergi. Kehidupan keluarganya sudah nyaman dan tenteram namun ada-ada saja ulah orang-orang itu.
"Dimakan itu makanannya, mas. Melawan orang-orang culas juga butuh tenaga," ucap salah satu napi yang berada pada satu sel yang sama dengannya.
__ADS_1
"Saya kira bisa buat beli otak-otak licik kalau punya tenaga," ucap Andre sambil terkekeh pelan.
Ternyata hidup di sel seperti ini mengubah pandangan Andre tentang orang-orang di dalamnya. Ada beberapa orang yang memang dikambinghitamkan menjadi pelaku padahal ia tak melakukan kesalahan apapun. Makanya siapa yang licik dan cerdik pasti akan menang dalam masalah seperti ini.
"Biarkan saja mereka menemui karmanya. Kalau nggak kena di dunia ya di akhirat," ucap Soni, salah satu napi di sana.
"Sok bener loe, Son." ucap Ricky yang juga merupakan teman Soni.
"Sekali-kali kan ngomong yang bener," ucap Soni sambil tertawa.
Selama dua hari di sini, Andre belajar banyak hal. Apalagi tentang pertemanan yang ada di dalam sini. Bukan pertemanan yang buruk, bahkan pemikiran mereka luas. Ada yang cerdas dalam mengasah bakatnya dan menuangkan ilmu bisnisnya.
"Gimana keadaan anak loe yang kritis?" tanya Soni.
"Belum tahu. Kan saya di sini, mana bisa tahu keadaan dia di rumah sakit. Mau telfon saja dipersulit," ucap Andre sambil geleng-geleng kepala.
"Itu kan dua hari yang lalu. Kalau sekarang, keadaannya ya belum tahu. Keluarga belum ada yang jenguk. Waktu itu yang datang asisten di kantor," jawab Andre.
Mengingat tentang keluarganya, Andre langsung menundukkan kepalanya. Dibalik kepalanya yang menunduk, ia menyembunyikan kesedihannya. Di saat seperti ini, tak ada keluarga yang menjenguknya. Ia menyadari kalau sedikit ceroboh dalam berbuat sesuatu hingga masuk dalam bui seperti ini.
"Ah... Andai ada Alan di sini. Pasti aku sudah diledekin karena masuk penjara begini," gumam Andre yang langsung mengingat kecerewetan anak bungsunya itu.
"Nadia yang ngomel-ngomel karena tingkahku yang malah menjerumuskan ke hal-hal yang tidak baik," lanjutnya.
__ADS_1
Semua memory tentang kebersamaan dia dan keluarganya langsung masuk dalam ingatannya. Kalau bisa, ia ingin mengulang hal yang sama seperti dulu. Di saat ada masalah, semuanya bahu membahu. Bahkan jika ada yang sakit, semuanya ikut khawatir dan saling menjaga. Bukan malah terpecah belah seperti ini.
"Maafkan papa, Alan. Papa memang tak becus jadi kepala keluarga dan sosok yang jadi panutan kamu. Jika ada kesempatan, tolong bantu papa jadi orang yang lebih baik. Jangan tinggalkan papa sendirian seperti ini," gumamnya pelan.
Air matanya meluncur deras pada kedua pipinya. Ia mengingat kesalahannya pada Alan yang sudah berulangkali dilakukannya. Bahkan Alan terlihat sangat tak menyukai dirinya kemarin. Sepertinya Alan sudah tak bisa memaklumi kesalahannya kali ini.
"Nadia, kembalilah. Aku, anak-anak, mama, dan papa butuh kamu. Kami butuh kalian berdua yang menjadi penerang dalam kehidupan kami," gumamnya.
Semua yang ada di dalam sel tahanan itu pun hanya diam dan membiarkan Andre menangis. Lagi pula mereka tak tahu masalah detailnya seperti apa. Mungkin ada masalah berat yang tak mungkin diceritakan pada mereka.
***
"Bagaimana, dok? Apa yang terjadi dengan cucu saya," Tanya Papa Reza yang kini berada tepat di depan ruang ICU.
Tadi beberapa dokter dan perawat berlarian masuk dalam ruang ICU. Sontak saja Papa Reza yang duduk di luar bersama Bayu langsung terkejut. Apalagi keduanya baru sadar kalau lampu di atas pintu ruang ICU itu menyala berwarna merah.
"Tenang, pak. Cucu anda kondisinya sudah membaik. Bahkan pasien sudah melewati masa kritisnya. Tadi sempat kejang-kejang, hanya saja itu efek normal dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita pantai terus 24 jam ke depan, kalau kondisinya terus stabil kami akan pindahkan ke ruang rawat inap biasa." ucap dokter itu menjelaskan.
Sontak saja penjelasan dari dokter itu membuat Papa Reza begitu lega. Setidaknya satu masalah telah mereka lewati. Keadaan yang membuat tertekan akan segera dilewati walaupun masalah lain ada di depan mata.
"Bay, ini nyata kan?" tanya Papa Reza yang masih merasa kalau ini sebuah mimpi.
Plakkk...
__ADS_1
Awww...
Bayu langsung menggeplak lengan atas Papa Reza dengan lumayan kencang. Hal itu membuat Papa Reza langsung tersadar kalau semua ini bukan mimpi. Ia sangat bahagia dan tak marah dengan apa yang dilakukan oleh Bayu itu.