
"Woh... Ku kila malin, telnata malah pada noblol dan matan-matan. Ndak ajak-ajak Alan pula," ucap Alan sambil berkacak pinggang.
Di ruang keluarga, sudah ada Anara, Andre, Nadia, Naufal, Mbok Imah, dan Ibu Rivan. Mereka sedang membuat lotis buah dengan sambal yang begitu pedas. Sedangkan Abel sendiri masih berada di kamarnya untuk istirahat.
Mendengar suara Alan itu, semua yang ada di sana langsung mengalihkan pandangannya. Terlebih Naufal yang langsung mengulurkan kedua tangannya ke atas. Alan yang melihat hal itu langsung mendekat kearah Naufal kemudian duduk di sampingnya.
"Kalau masuk rumah itu salam dulu, nak. Jangan langsung marah-marah," ucap Nadia menegur anaknya itu.
"Alan tuh ndak malah-malah. Unda cuka cuudon cama Alan nih. Olang tadi Alan lancung macuk gala-gala dengal cuala milip malin," ucap Alan dengan santainya.
"Jadi kamu pikir kami itu maling? Yang benar saja," ucap Andre tak terima dengan ucapan anaknya itu.
Alan menatap sinis kearah Andre kemudian ia seperti mengingat sesuatu. Alan langsung mengedarkan pandangannya kearah seluruh rumahnya. Namun tak dapat ia temukan sesuatu yang tengah dicarinya. Semua kebingungan dengan apa yang dicari oleh Alan itu.
"Kamu cari siapa, nak?" tanya Ibu Rivan mewakili semuanya.
"Papa, unda... Mana Kak Bel? Talian tindalin Kak Bel di lumah cakit cendilian? Talo talian ndak bica daga Kak Bel tuh bilang cama Alan. Dangan ditindalin ditu caja, kacian kan Kak Bel itu." ucap Alan yang langsung berdiri dengan wajah paniknya.
Ada rasa takut dan khawatir akan keadaan Abel saat ini. Alan bahkan langsung ingin berlari pergi keluar rumah. Ia akan meminta Ridho mengantarkannya ke rumah sakit. Pantas saja rasanya Alan ingin pulang, ternyata ia malah melihat kedua orangtuanya bersantai di rumah. Tentunya tanpa ada sang kakak di sana.
Namun saat Alan ingin berlari, Andre langsung menangkap tubuh anaknya itu. Andre menggendong Alan walaupun anaknya itu memberontak. Andre menghela nafasnya lelah setelah melihat tingkah anaknya ini yang selalu nyerocos tanpa mendengarkan penjelasan mereka dulu.
"Tulunin Alan, papa. Talian ndak bepeliteanatan. Macak nanak cakit tapi malah ditindalin," ucap Alan yang masih tak terima dengan apa yang dilakukan oleh papanya itu.
"Dengarkan dulu penjelasan kami, baru ngomong kamu tuh." kesal Andre pada anaknya yang asal mengambil kesimpulan itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan papanya itu sontak saja langsung membuat Alan diam. Melihat Alan terdiam, Andre langsung menurunkan anaknya dari gendongannya. Andre segera saja menarik tangan Alan untuk duduk di samping Nadia.
Bahkan kini Alan langsung melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap menyelidik kearah kedua orangtuanya. Nadia dan Andre yang melihat Alan seperti itu tentunya merasa sangat gemas dengan tingkahnya.
"Jelastan. Alan ndak cuka baca-baci, nini celius." ucap Alan dengan raut wajah seriusnya.
"Baiklah. Kak Abel itu sudah boleh pulang dari rumah sakit. Sekarang dia ada di kamar bawah, sedang istirahat. Jadi kami tak meninggalkan Kak Abel di rumah sakit sendirian," ucap Nadia menjelaskan.
Nadia dan Andre sendiri sedari tadi sudah menahan tawanya melihat wajah serius Alan. Namun keduanya tak ingin memancing kemarahan Alan sehingga memilih langsung menjelaskan. Mendengar penjelasan dari Nadia, Alan langsung berdiri dan menatap tak percaya kearah kedua orangtuanya.
"Napa ndak bilang dali tadi talo Kak Bel cudah ulang cih. Bikin capet Alan caja halus dlama lali-lali bial dikejal," kesal Alan.
Bahkan kini dengan entengnya Alan langsung pergi menuju kamar yang dimaksud oleh Nadia. Sedangkan Andre dan Nadia merasa tertipu karena ternyata Alan yang ingin berlari keluar rumah itu hanyalah drama belaka. Astaga... Ada-ada saja tingkah anak bungsu keduanya itu.
"Den Alan itu kok beda dari yang lain ya, neng." ucap Mbok Imah sambil geleng-geleng kepala.
"Saya saja yang ibunya juga bingung, mbok. Itu anak udah mulutnya pedas, pintar drama, terlalu percaya diri, tapi kepeduliannya luar biasa. Entahlah... Nurun dari siapa tuh sifatnya," ucap Nadia yang juga takjub melihat tingkah anaknya.
***
"Kak Bel... Yuhuu Alan yang danteng dan milip Jepli Nikol datang. Kak Bel tangen ndak cama Alan?" seru Alan saat memasuki kamar.
Saat memasuki kamar, ternyata Abel masih tertidur pulas. Alan yang melihat hal itu langsung saja berseru dengan kencangnya. Ia sangat bahagia karena kakaknya itu ternyata sudah sembuh. Abel pun merasa terganggu dengan kehadiran Alan yang berseru itu.
Hingga kini Abel langsung membuka matanya dan melihat kearah Alan. Mata Abel langsung berbinar cerah melihat sosok anak kecil yang selalu ia ingat sebagai adiknya. Abel langsung melambaikan tangannya kearah Alan agar bocah cilik itu segera mendekat.
__ADS_1
"Alan ndak bica dekat-dekat Kak Bel. Alan beyum andi nih, dali lual banak tuman." ucap Alan yang langsung menolak.
Abel pun langsung beranjak duduk dari posisi baringannya. Sedangkan Alan duduk di kursi sofa yang ada di kamar itu. Ia memang tak ingin duduk di dekat kakaknya karena takut membawa kuman akibat dia baru saja pulang.
"Abel kangen sekali sama Alan. Kenapa nggak jenguk Abel selama satu mingguan ini?" tanya Abel yang langsung protes pada Alan.
Memang benar adanya, selama satu minggu ini Alan tidak menjenguk kakaknya itu. Hanya Anara yang sering menemani Abel di rumah sakit. Sedangkan Arnold dan Alan yang memang sekolah jadi jarang ke rumah sakit.
"Alan ladi cibuk kelja," jawab Alan dengan percaya dirinya.
"Kerja apa? Kan Alan masih kecil, belum bisa kerja." ucap Abel sambil mengerutkan keningnya.
"Woh... Dangan calah. Alan tuh cudah bica kelja, cali uwang." ucap Alan dengan wajah songongnya itu.
"Lha iya... Kerja apa?" tanya Abel dengan tatapan penasarannya.
"Eting. Alan tan altis telkenal. Alan bica eting, cinetlonna banak lho." ucap Alan.
Tentu saja Abel langsung saja menatap heran kearah adiknya. Selama dia di rumah sakit, ia selalu melihat tontonan TV. Namun tidak ada wajah Alan di sana. Hal itu membuat Abel tak percaya dengan ucapan adiknya itu.
"Abel nggak pernah lihat ada Alan di TV tuh," ucap Abel.
"Yang biyang Alan macuk tipi capa? Alan tan keldana eting di depan Paman Lidho dan papa bial dikacih uwang cama meleta," ucap Alan dengan santainya.
Abel mendengus kesal dengan adiknya ini. Masa iya akting di depan Andre dan Ridho bisa dikatakan bekerja. Tentunya kalau akting di depan keduanya itu untuk membohongi atau melakukan aksi prank.
__ADS_1