Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Antusias


__ADS_3

Kini keluarga Andre sudah berada di rumah sakit yang digunakan untuk merawat Mama Anisa dan Papa Reza. Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit itu dan langsung disambut oleh Frank. Sedangkan Nenek Hulim sendiri sekarang tengah berada di kantornya karena ada pekerjaan.


"Paman Plenk, napa ini mau ke tempat nenek dan akekna halus dalan dauh? Napa ndak ada ekalatol di cini?" tanya Alan yang kini berada di gandengan Frank.


"Kalau ada eskalatornya berarti sedang ada di mall dong, bukan di rumah sakit." jawab Frank dengan sedikit bingung.


"Woh... Tapi capek lho ini dalanna," keluh Alan.


"Terus saya harus bagaimana kalau Alan ini capek?" tanya Frank yang bertambah bingung dengan ucapan Alan.


Alan mencebikkan bibirnya kesal karena Frank tak peka dengan kode yang diberikannya. Mereka memang berjalan paling depan dengan diikuti oleh yang lainnya. Andre dan Nadia hanya bisa menahan tawanya karena kali ini Frank yang akan menjadi sasaran kejahilan dari Alan.


"Dendong Alan dong. Maca ditu caja ndak peta. Tayakna lati-lati di dunia ini yang peta cuma Alan doang," ucap Alan dengan kesal.


Tanpa basa-basi, Frank segera saja menggendong Alan membuat bocah kecil itu masih kesal. Pasalnya dia sampai harus mengeluarkan suara emasnya hanya demi meminta gendong Frank. Frank memang bukan laki-laki yang peka terhadap hal seperti itu. Namun dia sangat peka kalau sudah berhubungan dengan kejahatan dan pekerjaannya.


"Alan itu Dora ya? Kok punya peta segala," ledek Frank.


"Ndak papa Alan dadi Dola. Talo ditu paman Plenk dadi itu yang celalu belcama Dola," ucap Alan dengan santainya.


Frank memelototkan matanya karena disamakan dengan hewan peliharaan Dora. Namun ia tak berani juga memarahi bocah cilik itu karena Alan punya segala cara membalasnya. Tak berapa lama mereka berjalan, segera saja semua masuk dalam lift.


"Nenek Hulim memindahkan Nyonya Anisa dan Tuan Reza ke ruangan khusus di rumah sakit ini. Kebetulan ruangan itu ada di lantai paling atas dan hanya ada 5 kamar saja," ucap Frank memecah keheningan di sana.


"Maaf karena Nenek Hulim belum sempat memberitahukan hal ini kepada kalian. Apalagi meminta persetujuan," lanjutnya.

__ADS_1


Nadia dan Andre memang sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Frank. Pasalnya mereka hanya mampu memberikan ruangan biasa pada Mama Anisa dan Papa Reza. Ruangan biasa di sini saja per harinya sudah hitungan jutaan, apalagi yang ruang khusus.


Terlebih Mama Anisa dan Papa Reza selama hampir sebulan harus berada di ruang ICU. Tentunya biayanya sudah tak bisa mereka bayangkan lagi. Sepertinya mereka harus berterimakasih pada Nenek Hulim karena sudah membantu banyak dalam hal ini.


"Ucapkan terimakasih kami pada beliau. Kami sampai tak tahu harus membalas kebaikan mereka dengan cara apa," ucap Andre yang begitu terharu.


"Justru beliau yang berhutang nyawa pada kalian. Kalau tak ada anak-anak ini dulu, mungkin cucu Nenek Hulim nasibnya entah bagaimana." ucap Frank mengingatkan kebaikan keluarga Andre.


"Yang tembat-tembatan itu? Becok talo dituan ladi ajak Alan ya, paman. Alan bica lho," ucap Alan dengan antusias.


Nadia dan Andre semakin melihat kalau Alan ini memang mempunyai kepribadian yang lebih ekstrim dibandingkan saudaranya yang lain. Bahkan kesukaannya pun lebih kepada kekerasan dan kegiatan yang membuat jantung deg-degan.


Namun apapun itu, keduanya sebagai orangtua akan mengarahkannya agar tak menyalahgunakan keinginannya itu. Mereka harus mengajari anaknya agar bisa membedakan mana hal baik dan buruk. Terlebih Alan yang memang begitu aktif dan rasa ingin tahunya sangat tinggi.


"Kalau Alan sudah besar, pasti akan paman ajak. Kalau sekarang, Alan cukup belajar yang rajin saja." ucap Frank memberitahu.


Alan juga memperlihatkan lengan atasnya yang begitu gembul itu. Frank hanya bisa menahan tawanya melihatnya, pasalnya tak terlihat sama sekali ototnya. Hanya terlihat buntalan lemak yang siapapun akan gemas dan ingin mencubitnya.


Ting...


Pintu lift terbuka, mereka segera keluar kemudian berjalan menuju sebuah ruangan. Memang benar kalau di lantai atas itu hanya ada lima ruangan saja. Tiga ruangan kosong karena tak ada pasien sedangkan yang dua ditempati oleh Mama Anisa dan Papa Reza.


Mama Anisa dan Papa Reza ditempatkan pada ruangan berbeda karena kondisi keduanya. Mama Anisa yang memang belum stabil membuat ia harus mendapatkan pengawasan intens. Sedangkan Papa Reza yang kondisinya lebih baik tentu sudah tak perlu alat medis yang banyak di tubuhnya.


"Woh... Itu Akek dicuapin capa? Tok Alan ndak dibilanin talo akek cudah cadal. Wah ini ndak bica dibialtan," ucap Alan yang melihat dari pintu yang ada jendela kacanya.

__ADS_1


"Itu perawat. Dia yang menyuapi dan mengurus papamu selama di sini," ucap Frank memberitahu.


"Napa pelawatna tantik cekali. Bica dawat nih, akek bica belpaling dali nenek. Ayo tita macuk," seru Alan.


Alan tentunya tak terima kalau kakeknya itu disuapi oleh perawat. Nadia dan Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keposesifan Alan itu. Mereka pun masuk membuat Papa Reza langsung mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka. Mata tuanya berkaca-kaca karena melihat kedatangan anak, menantu, dan cucu-cucunya.


"Akek..." seru Alan yang langsung memberontak turun dari gendongan Frank.


Frank menurunkan Alan dari gendongannya kemudian berlari menuju Papa Reza yang tersenyum. Perawat yang tadinya duduk menyuapi Papa Reza itu pun langsung diberi kode untuk menyingkir dan keluar. Alan dengan gaya bossynya langsung duduk di kursi dibantu oleh Frank.


"Cucu kakek kok masih cadel saja setelah sekian lama nggak ketemu," ucap Papa Reza dengan terkekeh pelan.


"Alan ndak cadel tuh. Ini tuh talna bial lucu caja," ucap Alan mengelaknya.


Papa Reza tersenyum dengan sudut matanya yang telah berair. Bahkan kini Arnold, Anara, dan Abel juga langsung memeluk Papa Reza. Abel sebenarnya canggung dipeluk oleh orang yang tak ia ketahui. Walaupun dalam hatinya merasakan kalau dia mengenal orang yang ada di hadapannya ini.


"Kakek rindu sekali dengan cucu-cucu kakek ini. Kalian apa kabar?" tanya Papa Reza.


"Baik. Kami baik, kek. Kami juga rindu sama kakek. Cepat sembuh ya, kakek." ucap Arnold dengan senyum tulusnya.


"Woh... Abang Anol bitin akektu nanis. Dahat cekali kau, mas." ucap Alan sambil memegang dadanya dan raut wajah disedih-sedihkan.


"Dih... Drama basi," ucap Arnold yang mengajak berdebat adiknya itu.


Hahaha...

__ADS_1


Papa Reza tertawa melihat perdebatan cucunya itu. Nadia dan Andre tersenyum melihat keakraban semuanya. Bahkan mereka sama sekali tak membahas sakitnya Papa Reza. Yang ada di sana terus saja membuat hati dan pikiran Papa Reza bahagia.


__ADS_2