
"Bagaimana, Alan? Apa kamu mau ikut papa kembali ke rumah? Semua keputusan ada di tanganmu. Bunda juga akan ikut jika kamu ada," tanya Andre.
Sudah berulangkali Andre meminta dan membujuk Alan untuk ikut pulang ke rumah. Namun sedari tadi Alan hanya diam saja dan membiarkan Andre mengoceh. Padahal Andre menunggu jawaban dari Alan agar bisa segera kembali berkumpul dengan yang lainnya.
"Aku tak pernah meminta bunda untuk tetap bersama Alan. Kalau memang bunda mau ikut pulang, ya silahkan saja. Lagian di sini Alan hanya ingin mencari ketenangan. Rumah yang dimaksud adalah sebuah tempat tinggal yang hangat, aman, dan penuh kenyamanan," ucap Alan dengan menatap lurus ke depan.
"Sedangkan rumah di sana? Itu Alan kaya orang asing yang hanya menumpang tinggal di sana," ucapnya sambil terkekeh miris.
Mendengar ucapan Alan itu membuat Andre langsung saja terdiam. Padahal ada saudara dan nenek juga kakeknya namun sepertinya Alan masih kurang nyaman. Ia yakin kalau Alan itu sebenarnya hanya butuh sosok ayah yang mampu mendengar dan melindunginya.
"Itu rumah Alan, mana ada kamu numpang. Alan, papa tahu kalau papa ini bukan seorang ayah atau kepala keluarga yang baik. Jangan contoh papa ya, nak. Kembalilah pada kami, bantu papa agar tak emosian dan bisa membagi kasih sayang sama rata pada kalian semua." ucap Andre dengan tatapan sendunya berusaha untuk membujuk Alan.
Alan menatap mata Andre yang terlihat kesungguhan di dalamnya. Namun ada setitik kefrustasian di sana sehingga membuat Alan sedikit menghela nafasnya.
Greppp...
Andre langsung saja memeluk Alan yang masih menatapnya itu. Alan tersentak kaget merasakan perlakuan Andre ini. Sangat jarang Andre ini memeluknya seperti ini. Bahkan usapan tangan ini hampir tak pernah ia rasakan. Alan memejamkan matanya menikmati gelenyar aneh yang merasuki hatinya.
"Maaf... Maaf... Muka papa sudah bonyok. Kamu mau buat papa kaya apa lagi biar bisa maafin papa?" bisik Andre dengan suara seraknya karena menahan tangis.
"Alan maafin papa," ucap Alan lirih kemudian membalas pelukan Andre itu.
Alan menangis dalam pelukan Andre begitu pula laki-laki dewasa itu. Keduanya saling meluapkan perasaan yang selama ini terpendam. Bahkan Alan memukul punggung Andre untuk melepaskan segala rasa sesak dalam dadanya.
"Alan juga anak papa. Kenapa papa pilih kasih? Kenapa papa lebih mementingkan yang lainnya? Alan juga ingin ditanya bagaimana sekolahnya? Hari ini ada apa? Papa juga jarang peluk Alan," ucap Alan berkeluh kesah mengenai sikap papanya itu.
__ADS_1
"Papa nggak pernah mau dengar penjelasan Alan dulu sebelum bertindak. Alan nggak maksud celakain Abang Arnold. Kalaupun boleh, Alan aja yang kena pukul daripada abang melindungi adiknya." lanjutnya sambil menangis.
Andre yang mendengar itu merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Ia pikir Alan itu sudah dewasa dan tak mau dipeluk seperti Arnold itu. Ternyata Alan masihlah seorang anak kecil yang membutuhkan pelukan dan perhatian lebih.
"Maafkan, papa. Tolong tegur papa kalau mulai lalai memberikan kasih sayang sama kamu. Pukul saja kepala papamu ini biar sadar secepatnya. Kalau papa sampai main tangan sama kamu lagi, hajar papa." pinta Andre pada anaknya.
"Nanti Alan jadi anah durhaka kalau bantah papa terus," ucap Alan yang masih menangis sesenggukan dalam pelukan papanya.
"Enggak dong. Kan ini papa yang minta. Lagian papa yang udah jahat sama kamu. Maafin papa ya, nak. Ayo kita mulai lagi dari awal dan papa akan mencoba untuk bersikap lebih dekat dengan anak-anak papa yang lainnya juga. Kayanya papa terlalu sibuk bekerja juga sampai lupa sama semuanya," ucap Andre yang kemudian melepaskan pelukannya.
Andre dan Alan saling menatap dengan mata yang sudah banjir dengan air mata. Bahkan Andre langsung menghapus air mata yang masih mengalir pada kedua pipi Alan. Anaknya ini sungguh lucu apalagi wajahnya yang memerah karena sehabis menangis.
"Duh... Wajahnya lucu, merah gitu. Kaya bayi baru lahir," ucap Andre sambil terkekeh pelan.
"Alan kan memang imut, lucu, dan tampan sejak lahir. Nggak ada yang bisa mengalahkan ketampanan Alan ini," ucap Alan dengan percaya dirinya.
Alan terkekeh pelan melihat papanya yang bercanda itu. Ada rasa aneh dalam hatinya saat melihat sisi lain dari Andre. Nadia yang sedari tadi melihat interaksi keduanya itu, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tak menyangka setelah adu jotos tadi malah mereka kini baikan.
"Terimakasih, Tuhan. Semoga nggak ada lagi permasalahan berat yang bisa menghancurkan kehidupan keluarga kami," gumam Nadia.
Nadia segera saja mendekati keduanya kemudian memeluk Andre dan Alan dengan erat. Andre dan Alan terkejut dengan sebuah pelukan yang tiba-tiba dirasakan mereka. Keduanya langsung melihat kearah seseorang yang memeluknya.
"Baik-baik dan akur kalian berdua. Bunda sayang sama kalian berdua," ucap Nadia.
"Alan juga sayang bunda," ucap Alan yang langsung membalas pelukan bundanya itu.
__ADS_1
"Sayang papa juga kan?" tanya Andre.
"Ya, sayang papa yang durhaka sama anaknya itu." ucap Alan.
Andre sama sekali tak marah mendengar ucapan dari Alan itu. Justru Andre langsung memeluk istri dan anak bungsunya itu. Andre sangat bahagia karena kini dapat lagi memeluk dua orang yang sangat ia sayangi.
"Kurang nenek, kakek, Abang Arnold, Kak Nara, dan Kak Bel ini." ucap Andre.
"Kurang Paman Frank, Nenek Hulim, dan Fikri juga." ucap Alan menambahi.
"Sama Opal dan Rivan juga," ucap Andre.
Mendengar hal itu langsung saja Alan melepaskan pelukannya. Ia menatap kearah Andre yang tersenyum penuh arti. Alan mengetahui maksud dari papanya itu.
"Opal sama Kak Rivan sudah pulang dari negara jauh di sana?" tanya Alan dengan tatapan penasarannya.
"Iya. Mereka pulang, nungguin ketemu kamu lho. Tapi sayangnya sekarang Rivan itu menyebalkan. Masa kemarin papa dijemput pakai sepeda ontel," ucap Andre mengadu kelakuan Rivan itu.
"Sepeda ontel? Bagaimana bisa?" tanya Nadia.
"Nggak tahu tuh anak. Jemput orang kan bisa pakai motor atau mobil, eh ini pakai sepeda ontel. Aneh sekali tingkahnya, mirip Alan." ucap Andre sambil geleng-geleng kepala.
Alan yang mendengar hal itu langsung tersenyum antusias. Dalam otaknya sudah berpikiran untuk melakukan sesuatu bersama Rivan dan Naufal. Ia yakin kalau kombinasi ketiganya akan membuat ricuh dalam rumah. Ia tak sabar untuk bertemu dengan mereka.
"Jadi kalian mau kan pulang sama papa?" tanya Andre tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Bagaimana Alan? Bunda ikut bagaimana Alan saja. Soalnya kan nggak mungkin bunda jauh dari Alan," ucap Nadia menatap anaknya yang masih terdiam.