Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Jangan Sakiti, Cucuku!


__ADS_3

"Apa yang kalian perbuat pada cucuku?" sentak seorang wanita tua yang masih cantik memasuku ruang kepala sekolah.


Dia adalah Nenek Hulim. Seorang wanita tua yang berperan penting dalam kemajuan yayasan sekolah ini. Bahkan beberapa kali ia ditunjuk sebagai kepala yayasan, hanya saja ia memilih bekerja di belakang. Ia lebih memilih menjadi donatur dan pembuat keputusan tertinggi di sekolah itu namun tak bekerja secara langsung.


Alan yang melihat Nenek Hulim datang pun segera saja berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju wanita tua itu. Sedangkan yang lainnya masih terkejut dengan kehadiran Nenek Hulim yang tiba-tiba karena menurut informasi yang beredar, beliau sedang tak berada di Indonesia.


Apalagi ucapannya yang mengatakan kalau orang di depannya ini adalah cucunya. Padahal setahu mereka, hanya Fikri saja yang merupakan cucunya. Semuanya begitu kebingungan kecuali Andre, Nadia, dan Papa Nilam. Mereka sedikit bersyukur karena kedatangan Nenek Hulim bisa menguatkan posisi semuanya.


"Nyonya Hulim..." seru mereka yang langsung berdiri dan menundukkan kepalanya sebentar.


Alan sudah berada di depan Nenek Hulim. Ternyata Nenek Hulim datang bersama dengan Fikri dan lima orang bodyguardnya. Nenek Hulim segera saja pulang ke Indonesia sejak semalam demi membantu cucu-cucunya yang terkena masalah di sekolah. Apalagi Nenek Hulim sudah mendengar kalau salah satu cucunya sampai masuk rumah sakit.


Sebenarnya beberapa bulan ini, setelah pergantian pengurus baru dan kepala sekolah terjadi sedikit pergunjingan. Bahkan Nenek Hulim merasa kalau beberapa guru seperti tak terima dan bahkan saling memprovokasi untuk menjatuhkan satu sama lain. Rencananya Nenek Hulim akan menyelesaikan semua masalah itu setelah pulang dari luar negeri, namun ternyata cucunya menjadi korban di sini.

__ADS_1


"Nenek, tu nanak buahna pada akal. Kak Abel campe macuk lumah cakit. Hutum meleta, nek. Macukin penjala atau embak aja tuh tepalana," adu Alan saat sudah berhadapan dengan Nenek Hulim.


Fikri langsung menarik tangan Alan dan memeluknya dengan erat. Apalagi melihat wajah Alan yang sudah kesal dan matanya terlihat berkaca-kaca. Ia sungguh tidak tega, apalagi mendengar Abel yang dikabarkan masuk rumah sakit.


Mendengar aduan dari bocah kecil yang tak mereka kenali, tentu beberapa orang oknum di sana langsung menundukkan kepalanya. Bahkan mereka saling melirik satu sama lain seakan memberi kode. Sepertinya mereka begitu gugup dan takut karena seperti akan terjadi sesuatu yang tak baik.


"Jangan memutarbalikkan fakta, anak kecil. Abel itu terkena musibah karena kecelakaan biasa makanya pihak sekolah tak berani mengusiknya. Kemungkinan Abel itu jatuh dan kepalanya terantuk pohon besar," elak salah satu orang di sana.


"Tidak mungkin. Kak Abel waktu terbaring lemah itu tak berada di dekat pohon besar. Kalaupun ada pohon besar di halaman belakang sekolah, jaraknya lumayan jauh dari lokasi ditemukannya Kak Abel." ucap Arnold menentang apa yang diucapkan oleh orang itu.


"Jangan sakiti, cucuku. Siapapun yang menyakiti cucuku, harus berhadapan denganku," sentak Nenek Hulim dengan matanya menatap tajam kearah orang-orang di sana.


Padahal Arnold melakukan ini semua sebagai pancingan agar orang yang merasa terpojokkan itu emosi dan menunjukkan batang hidungnya. Pasti mereka yang merasa kalau tak sesuai dengan apa yang direncanakan, tentunya akan langsung mengelak dan berapi-api. Walaupun mereka belum masuk dalam pokok pembahasan yang sebenarnya.

__ADS_1


Mereka berkeringat dingin mendengar sentakan dari Nenek Hulim. Nenek Hulim berjalan mendekat kearah semua orang yang ada di sana dan segera menarik Arnold menjauh. Ia tak ingin cucu-cucunya kembali terluka karena ulah orang yang tak bertanggungjawab. Sedangkan orang yang ingin menampar Arnold tadi langsung saja menurunkan tangannya.


"Nadia, Andre... Kenapa kalian tak memberitahu nenek kalau cucuku terluka?" kesal Nenek Hulim yang langsung memarahi kedua orang itu.


"Nenek kan lagi sibuk kerja di luar negeri. Khawatirnya kami mengganggu nenek," ucap Nadia memberi alasan.


"Nenek kan memang sibuk. Beberapa kali Arnold hubungi nenek kemarin, tapi nggak diangkat sama sekali." ucap Arnold sambil tersenyum tipis.


Arnold menimpali alasan yang diberikan oleh Nadia agar orangtuanya tak disalahkan Nenek Hulim. Nenek Hulim hanya bisa tersenyum canggung mendengar apa yang diucapkan oleh Arnold. Ia memang tak sempat memeriksa ponselnya karena ada beberapa masalah dalam pekerjaannya.


Informasi tentang Abel pun ia dapatkan langsung dari asisten kepercayaannya. Nenek Hulim segera saja menundukkan kepalanya di depan Arnold agar sejajar dengan bocah kecil itu. Nenek Hulim mengelus rambut Arnold sambil tersenyum kecil.


"Maafkan nenek. Nenek memang tak sempat membuka ponsel karena masalah yang ada di perusahaan. Kalau memang sangat penting, nanti langsung saja hubungi asisten nenek yang standby 24 jam," ucap Nenek Hulim.

__ADS_1


Arnold hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Nenek Hulim segera saja duduk di sebelah Nadia kemudian menatap kearah orang-orang yang berdiri di depannya ini. Tatapan mereka seakan menantang dirinya walaupun pada matanya terlihat sekali kalau nyalinya ciut.


"Siapa kalian?..."


__ADS_2