Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Mati Kutu


__ADS_3

"Cieee... Yang belum ngungkapin cinta tapi udah ditolak duluan. Rasanya tuh, kaya ada manis-manisnya gitu." ledek Alan pada Dania yang wajahnya muram.


Apalagi wajah tengil Alan yang mengikuti ucapan sebuah iklan air mineral di TV. Bahkan Arnold dan Kenny sudah menahan tawanya. Kenny juga tak menyangka kalau adik dari Arnold itu sifatnya berbeda 180 derajat dibandingkan kakaknya. Pasti Arnold di rumah juga tak sedingin ketika berada di sekolah. Apalagi ada adiknya itu.


"Nggak boleh tuh nyindir-nyindir kaya gitu. Tahu apa anak kecil tentang cinta? Nggak sopan," ucap Kaka dengan ketus.


"Cieeee... Yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Soalnya sebelah tangannya buat cebok sih," ucap Alan dengan meledek Kaka.


Hahaha...


Arnold dan Kenny sudah tak dapat menahan tawanya lagi. Sungguh ocehan Alan itu walaupun tak keras atau pakai otot, namun menohok di hati. Bahkan Kaka kini kedua tangannya sampai mengepal dengan eratnya. Sungguh ia tak menyangka dipermalukan seperti ini oleh Alan.


Bahkan Kaka juga tak menyangka kalau Alan bisa tahu mengenai masalah percintaannya. Padahal selama ini ia selalu menyimpannya rapat-rapat. Namun baru saja bertemu Alan dalam hitungan menit, namun sudah terbuka semuanya.


"Ayo kita pulang, bang. Kasihan bunda dan nenek yang sudah sangat merindukan ketampanan Alan ini," ucap Alan mengajak abangnya segera pulang.


"Hmm... Kami pulang duluan," pamit Arnold pada semuanya walaupun mereka tak menganggapnya.


Tak hanya Arnold dan Alan yang pergi, namun Kenny dengan dua temannya juga. Di sana tinggallah Kaka dan Dania yang masih memerah menahan malu. Seumur hidup, belum pernah ia merasa dipermalukan seperti ini oleh anak kecil.


"Kita harus balas adiknya Arnold itu. Aku nggak terima dipermalukan seperti ini," ucap Kaka dengan wajah memerah menahan emosinya.


"Iya, aku juga nggak terima. Enak saja dia gagalin rencanku buat pdkt sama Arnold." ucap Dania dengan mata berkilat marah.


Bahkan Kaka langsung membisikkan sesuatu kepada Dania. Gadis itu menganggukkan kepalanya karena setuju dengan rencana yang diungkapkan oleh Kaka. Ia yakin kalau rencana ini akan berhasil, terlebih terlihat dari segi fisik sudah menang.

__ADS_1


***


"Abang dapat teman-teman kaya gitu darimana sih? Besok kalau mau temanan sama orang, suruh ketemu Alan dulu deh. Biar Alan seleksi pakai tes kompetensi, keahlian, dan wawancara juga," seru Alan bertanya saat dirinya kini ada di boncengan sang abang.


"Dikira mau daftar kerja pakai tes kaya gitu," ucap Arnold dengan kesal.


"Penting itu, kalau mau temanan sama orang harus melewati tes dulu. Biar nggak salah pilih yang bermuka dua kaya gitu," ucap Alan tak mau kalah.


"Kaya kamu nggak punya teman kaya gitu aja deh," ucap Arnold.


Pasalnya Arnold ingat dengan teman-temannya Alan yang sama menyebalkannya itu. Namun Arnold sedikit memaklumi, adiknya tak mungkin berteman dengan anak-anak yang sopan atau lemah lembut. Dengan sikap Alan yang tengil begitu, pasti cari temannya juga harus sefrekuensi.


"Teman Alan itu sudah lolos seleksi lho. Walaupun mereka kelihatan nakal, tapi sholat dan ngaji rajin. Adzan kumandang langsung ke masjid. Cuma bedanya kita, kalau bel bunyi masuk sekolah kitanya malah ke kantin bukan ke kelaa. Itu saja kok," ucap Alan dengan santainya.


Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kriteria teman-teman Alan yang sangat berbeda itu. Bahkan Alan tak pernah yang namanya menjelek-jelekkan temannya. Ia pun juga tak terlalu ikut terpengaruh pergaulan bebas mereka.


"MasyaAllah... Rajinnya kedua kakakku yang cantik ini. Bisalah kalau sekalian kerjain PR Alan," seru Alan yang langsung duduk di samping Abel.


"Dih... Ogah. Berani bayar berapa? Pakai nyuruh-nyuruh kita," ucap Anara dengan sedikit menantang.


"Langsung Alan bayar ini. Sebentar..." ucap Alan.


Alan langsung mengeluarkan kotak bekal makanannya yang tadi ia simpan di tasnya. Alan membukanya kemudian meletakkan kotak bekal berisi kue dan puding yang tadi tak sempat dimakan saat di restorant itu.


"Kenapa ini kue dan puding acak-acakan jadi satu?" tanya Anara sambil menatap kotak bekal makanan itu.

__ADS_1


"Ya namanya habis kena goncangan gempa dan badai tornado," jawab Alan dengan asal.


Anara hanya bisa mendengus kesal. Ia yakin kalau ini adalah makanan yang belum sempat dimakan adiknya. Alan itu selalu begitu, tak mau rugi orangnya. Apapun yang dipesan, kalau tak sempat dimakan pasti akan dibawanya pulang. Entah meminta plastik dari restorantnya atau dengan bawa kotak bekal kemana-mana.


"Sana mandi, dek." ucap Abel menyuruh adiknya segera mandi.


Bahkan Arnold saja sudah pergi sedari tadi ke kamarnya untuk membersihkan diri setelah menyapa kedua kakaknya. Sedangkan Alan malah memilih berdebat dulu dengan kedua kakaknya. Alan segera saja pergi berlalu ke kamar setelah mencium dahi Abel dan Anara.


"Pasti bakalan sepi ya, Kak Bel. Kalau nggak ada Alan di rumah ini. Apalagi kita nih sebentar lagi akan semakin sibuk," ucap Anara.


"Iya, mana kita juga akan pisah sama keluarga. Kamu jadi ambil program pertukaran mahasiswa di luar?" tanya Abel.


"Iya, buat nambah pengalaman. Siapa tahu saja nanti kalau mau lanjut S2 sudah ada bayangan," ucap Abel dengan antusias.


Abel menganggukkan kepalanya mengerti. Kecerdasan Anara memang sudah tak bisa diragukan lagi sehingga direkomendasikan kampus agar mengikuti program pertukaran mahasiswa itu. Ia juga sama cerdasnya dengan Anara, hanya saja semenjak kejadian waktu SD dulu membuat kemampuan berpikirnya agak lambat.


"Sukses untuk kita semua. Yang penting kita bisa saling dukung dan terus komunikasi. Lagian nanti Abel bisa minta papa buat nyusulin Anara ke sana sekalian jalan-jalan," ucap Abel agar Anara tak terlalu sedih.


"Jangan lupa bawa Alan. Mau ku jadiin badut di luar negeri, mayan kan dapat pemasukan tambahan." ucap Anara sambil terkekeh pelan.


"Jangan sampai tuh kedengaran sama Alan, bisa diceramahi sampai panas nih kuping." ucap Abel dengan sedikit berbisik pada Anara.


Keduanya juga langsung mengedarkan pandangannya kearah sekitar yang mereka pikir aman atau tidak. Pasalnya Alan itu suka kadang muncul secara tiba-tiba. Setelah memastikan aman, mereka melanjutkan bergosip kemudian makan cake yang dibawa oleh Alan itu.


"Lumayan juga dapat makan gratis gini. Biasanya tuh anak kan nggak mau kalau suruh bayar-bayar," ucap Anara.

__ADS_1


"Halah... Ini mah pasti juga yang bayar Arnold. Mana lengkap gini kok belinya, ada cake sama puding. Kalau dia yang pesan, pasti dapatnya nasi goreng sama air mineral doang." ucap Abel yang tak percaya dengan pendapar Anara.


__ADS_2