
Sudah satu minggu berlalu sejak Andre bebas dari penjara. Ia sudah mulai menjalankan aktifitasnya dan terus memperbaiki hubungan dengan ketiga anaknya. Ketiganya masih sedikit ketus dan cuek karena sampai hari ini adik bungsunya masih belum ditemukan.
"Bay, coba kamu cari keberadaan Nenek Hulim. Aku yakin kalau dia pasti tahu dimana keberadaan Alan dan Nadia. Apalagi Alan sangat dekat dengan beliau," ucap Andre memberi perintah pada Bayu.
"Bukannya Nenek Hulim yang dimaksud itu sekarang tengah berada di luar negeri? Beliau kan memang membangun bisnisnya di sana sejak beberapa tahun terakhir. Belum ada berita mengenai kepulangan beliau ke sini," ucap Bayu menjelaskan.
Pasalnya Nenek Hulim ini sangat susah dihubungi dan dicari informasinya. Terakhir yang Bayu ingat, ia melakukan rapat namun pihak perusahaan Nenek Hulim diwakili oleh Frank. Pihak sana pun memberitahu jika beberapa tahun ini memang Nenek Hulim akan fokus mengembangkan bisnis di luar negeri.
"Dia bisa mengelabuhi siapapun dengan informasi palsunya. Sudahlah, hubungi saja dulu asistennya. Bilang saja kalau Andre ingin bertemu langsung. Kalau mereka ada di luar negeri, biar saya yang samperin ke sana," ucap Andre.
Bayu menganggukkan kepalanya mengerti dan segera keluar dari ruangan Andre. Andre menghela nafasnya lelah karena pencarian istri dan anaknya itu begitu menguras tenaga dan pikirannya.
"Huft... Semoga kita segera bertemu dan berkumpul kembali," gumam Andre.
***
"Bos, saat ini Tuan Frank dan Nenek Hulim sedang berada di Amerika Serikat. Apa kita akan ke sana? Selama 3 bulan ke depan, Tuan Frank berada di sana dan setelahnya kembali ke sini." ucap Bayu memberi laporan.
"Kamu yakin kalau mereka di sana?" tanya Andre.
"Yakin, bos. Saya bertanya pada resepsionis di perusahaan Nenek Hulim dan memeriksa data penerbangannya terakhir kali. Ternyata beberapa minggu yang lalu, keduanya ada di sini. Bahkan bersama cucunya juga, tapi nggak tahu juga keperluannya apa." ucap Bayu dengan sedikit bingung.
Sepertinya Nenek Hulim dan Frank lupa menghapus data penerbangan keduanya. Mereka terlalu sibuk dengan penghapusan data Nadia dan Alan sehingga melupakan itu. Andre yang mendengar itu sontak saja menganggukkan kepala dengan senyuman penuh arti.
"Terimakasih informasinya, Bay. Pesankan saya tiket penerbangan ke sana esok hari," ucap Andre yang sedikit lega mendapatkan petunjuk keberadaan anak dan istrinya.
__ADS_1
"Tapi pekerjaan anda banyak sekali ini, pak." ucap Bayu sedikit tak setuju dengan kepergian atasannya itu.
"Hanya satu minggu, Bay. Kamu selesaikan pekerjaan di sini. Tenang saja, setelah pulang dari sana saya akan lembur untuk mengerjakan semua ini." ucap Andre.
Bayu hanya bisa mendengus kesal mendengar apa yang diucapkan oleh Andre itu. Pasalnya selama Andre di penjara, dia juga yang menggantikan semua pekerjaannya. Ia berpikir saat Andre keluar penjara akan bisa santai-santai, namun malah bertambah semakin banyak.
***
Keesokan harinya, Andre sudah bersiap untuk pergi ke luar negeri. Ia belum memberitahukan rencana keberangkatannya ini kepada ketiga anak dan kedua orangtuanya. Ia tak ingin memberikan harapan palsu pada mereka. Ia akan memberitahu kalau memang sudah bertemu dengan anak dan istrinya.
"Kok bawa koper? Mau kemana, Ndre?" tanya Papa Reza dengan dahi yang mengernyit heran.
"Mau ke AS, pa. Ada urusan pekerjaan yang harus Andre selesaikan." jawab Andre dengan santai.
"Client baru, pa. Setidaknya ini untuk melebarkan sayap perusahaan ke negara maju itu," ucap Andre memberikan alasan.
Papa Reza hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mama Anisa dan ketiga anak Andre memilih diam sambil menyelesaikan sarapannya. Arnold juga sudah pulang ke rumah dua hari yang lalu, walaupun harus melakukan terapi dua minggu sekali.
"Baiklah, hati-hati kalau begitu. Setidaknya sarapan dulu dan biarkan anak-anakmu mengantar keberangkatanmu ke sana," ucap Papa Reza.
"Apa kalian ada yang mau untuk mengantar papa ke bandara?" tanya Andre yang menatap ketiga anaknya itu.
"Anara mau ke kampus, ada kuliah pagi sekaligus persiapan pertukaran mahasiswa." jawab Anara singkat.
"Abel ikut Arnold, jadi terserah dia." ucap Abel sambil mengedikkan bahunya acuh.
__ADS_1
"Ya, kami berdua akan mengantar ke Bandara." putus Arnold.
Andre menganggukkan kepalanya. Sudah biasa bagi dirinya mendapatkan respons seperti ini dari anak-anaknya. Apalagi semenjak keluar dari penjara itu, mereka seakan menjauhinya. Apalagi Arnold sudah mengetahui bagaimana sikapnya saat menampar Alan.
Andre makan sarapannya dengan cepat. Tak berapa lama, mereka semua selesai sarapan dan Andre langsung menyusul Arnold dan Abel yang sudah keluar lebih dahulu.
"Andre pamit dulu ma, pa. Do'akan Andre semoga selamat sampai tujuan dan segera bertemu dengan istri juga anak Andre," ucap Andre dengan sedikit berbisik kepada Mama Anisa.
Sontak saja bisikan itu membuat Mama Anisa terkejut. Apalagi kepergian anaknya ini ternyata menyangkut menantu dan cucunya. Papa Reza hanya diam saja dan menanggapi datar ucapan anaknya.
Andre segera masuk dalam mobil setelah berpamitan dengan orangtuanya itu. Mobil yang dikendarai oleh Abel itu langsung melaju dengan kecepatan sedang. Mama Anisa dan Papa Reza hanya menatap kepergian mobil itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Semoga Andre bisa membawa Nadia dan Alan kembali ya, pa. Setidaknya biar keluarga kita tetap utuh. Mama dan papa juga sudah tua, ingin melihat semuanya akur juga rukun." ucap Mama Anisa pada suaminya.
"Iya, ma. Semoga saja Alan mau memaafkan Andre yang sifatnya udah kaya anak kecil minta mainan itu," ucap Papa Reza.
***
"Terimakasih sudah mengantar papa sampai Bandara. Kalian berhati-hatilah untuk sekolah dan kuliahnya. Terlebih kamu, Arnold. Hindari orang-orang yang membuat rusuh kemarin. Jaga kepalamu yang masih sering pusing itu," ucap Andre memberi pesan pada kedua anaknya.
Hari ini juga merupakan hari pertama Arnold masuk sekolah. Efek sebentar lagi akan ujian, Arnold yang sudah lumayan lama tak berangkat sekolah pun hari ini memutuskan untuk masuk. Arnold dan Abel menganggukkan kepalanya kemudian memeluk singkat Andre.
"Arnold yakin kalau kepergian papa kali ini bukan karena pekerjaan. Silahkan pergi sejauh mungkin, asalkan itu bukan karena perempuan lain selain bunda. Jika itu terjadi, maka Arnold nggak akan segan-segan buat menghabisi papa." ucap Arnold dengan berbisik di sela-sela pelukannya.
Andre sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Setelah melepaskan pelukan itu, Arnold dan Abel segera pergi dari Bandara. Meninggalkan Andre yang terdiam di tempatnya hingga ia mendengar suara panggilan untuk dirinya agar segera masuk dalam pesawat.
__ADS_1