Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Kabar Abel


__ADS_3

Rivan, Naufal, dan ibunya sudah tinggal di rumah keluarga Farda selama 3 hari. Keluarga Rivan diperlakukan dengan baik oleh Nadia juga keluarganya. Bahkan Naufal sangat dekat dengan Alan dan Arnold. Mereka sering bermain bersama dan Nadia juga Andre tak pernah melarangnya.


Kini Andre dan Nadia sedang berada di rumah sakit. Kondisi Abel semakin membaik bahkan semalam sudah sadar. Hanya saja kini gadis itu seperti orang linglung yang terkadang ingat atau tidak dengan keluarganya itu. Hal ini membuat Nadia dan Andre sedikit sedih.


"Abel, makan yuk." ajak Nadia pada anaknya yang kini tengah menatap lurus kearah langit-langit ruangannya.


"Kalau makan, nanti Abel dipukul. Abel nggak mau makan," ucap Abel dengan pandangan yang berubah sendu.


Nadia dan Andre mengernyitkan dahinya heran dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Mereka saling pandang karena tak paham dengan ucapan Abel. Pasalnya selama ini tak ada yang memarahi atau memukul Abel jika ingin makan.


"Nggak ada yang mukul Abel kalau anak bunda ini mau makan. Siapa coba yang berani mukul anak bunda yang cantik ini?" tanya Nadia sambil tersenyum.


"Siapa bunda? Siapa anaknya bunda? Abel mau jadi anaknya bunda biar nggak dipukul kalau mau makan," ucap Abel yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


Nadia langsung meletakkan kembali mangkok berisi soup untuk sarapan Abel. Nadia langsung memeluk Abel yang tatapannya begitu linglung. Bahkan terus merapalkan kalimat kalau tak mau dipukul. Andre langsung mengingat ucapan dokter kemarin kalau anaknya itu bisa saja teringat dengan masa lalunya atau bahkan berpikir sedang berada di zona itu.


"Tenang, nak. Kamu yang anaknya bunda. Abel anaknya bunda dan akan selalu begitu," ucap Nadia terus membisikkan kalimat penenang pada telinga anaknya itu.


Bahkan Nadia terus mengelus punggung Abel agar gadis cilik itu merasa tenang. Andre juga langsung memeluk keduanya untuk menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya. Terlebih anaknya itu pasti kini terjebak dalam ingatan traumanya dulu saat masih tinggal bersama dengan keluarga mama kandungnya.

__ADS_1


"Pada faktanya, trauma yang Abel miliki itu sangat susah untuk hilang dalam ingatannya. Walaupun kamu dan orang-orang yang menyakiti Abel telah mendapatkan hukumannya," gumam Andre lirih.


Andre hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena tak bisa menjaga anaknya itu. Seharusnya dulu ia tak seceroboh ini dengan melepas Abel pada ibu kandungnya. Namun semuanya hanya andai, ia tak bisa lagi mengubah semua yang sudah terjadi di masa lalu anaknya itu.


Brakk...


Di saat mereka masih saling berpelukan, tiba-tiba saja pintu ruang rawat inap Abel dibuka dengan kerasnya. Abel, Nadia, dan Andre sampai berjengit kaget kemudian melihat kearah seseorang yang kini masuk ruangan Abel dengan raut wajah tanpa bersalahnya. Dia adalah Alan yang datang pagi-pagi ke rumah sakit karena mendengar kakaknya sudah sadar.


"Hello... Alan yang aling danteng atang. Ada yang ungguin Alan ndak? Ada dong, pati ada." seru Alan dengan antusiasnya.


Bahkan Alan juga langsung melempar tas sekolahnya sembarang arah. Di belakangnya, ada Arnold dan Ridho yang berjalan mengikuti bocah cilik itu. Seharusnya mereka pergi ke sekolah, namun Alan meminta Ridho agar menjenguk kakaknya dulu. Anara kini sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya sehingga tak berada di sisi Abel.


"Alan, kamu tuh ngagetin aja sih. Bisa kan kalau buka pintu itu ucapin salam dulu dan pelan-pelan saja," ucap Nadia menegur anak bungsunya itu.


"Apa Alan halus leka ulang ladi, unda? Api bayal ya, unda. Leka ulang tuh utuh naga coalna," ucap Alan yang malah mendekat kearah brankar Abel.


Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya. Anaknya ini selalu membuatnya geregetan dan ingin sekali membuangnya ke selokan. Ia dan Andre tak mempunyai tingkah seperti Alan yang bikin pusing seperti ini. Jadi entah darimana sifat dari anak bungsunya ini.


"Kamu kok nggak berangkat ke sekolah? Ini tinggal 10 menit lagi jam masuk sekolah lho," tanya Andre setelah melihat waktu pada jam tangannya.

__ADS_1


"Malas Alan. Alan dah pintal, ndak ucah cekolah uga ndak papa. Ending papa dan unda ndak ucah cekolahin Alan, anti uangna habis. Uangna pate caja buwat bayal lumah cakitna Kak Bel. Bayal lumah cakit tan mahal, apaladi cakitna palah, ucap Alan.


Walaupun hanya kalimat sederhana, namun Andre dan Nadia langsung tertegun. Mereka tak menyangka kalau anak bungsunya bisa mengucapkan hal itu. Walaupun mungkin itu hanya ucapan tanpa aksi, namun keduanya sebagai orangtua cukup bangga dengan kepedulian Alan pada kakaknya.


"Minggil cana. Nenak caja ekat-ekat cama unda dan Kak Bel na atu," ucap Alan yang menyenggol badan Andre.


Alan mengusir Andre agar tak berdekatan dengan Abel dan Nadia. Kejadian itu membuat Nadia dan Andre langsung tersadar kalau ternyata anaknya itu memang perusak suasana. Padahal tadinya mereka begitu bangga bahkan terharu, namun langsung kesal seketika saat melihat tingkah anaknya itu.


"Kak Bel yang cantik, macih inat cama Alan tan? Inat dong, talo ndak inat mali tita tenalan bulu. Ini Alan yang dantengna lebih dalipada papa Andle. Angan yupa talo Alan nih yang aling cayang cama Kak Bel. Cayangna Alan nih celuas camudla lho, ndak pelcaya? Angan pelcaya cama Alan, muclik. Pelcayalah cama Allah" ucap Alan terus berceloteh.


Abel langsung terkekeh geli melihat tingkah dan mendengar celotehan amburadul dari Alan itu. Abel sangat nyaman dan merasa kalau ia sangat dekat dengan bocah kecil yang ada di hadapannya ini. Walaupun Abel sedikit lupa dengan Alan, namun kedekatan keduanya dulu membuat gadis cilik itu langsung menyambutnya dengan terbuka.


"Alan sayang sama Abel?" tanya Abel dengan hati-hati.


"Cayang dong. Kak Bel inat cama namana cendili?" tanya Alan penasaran.


Pasalnya semalam kedua orangtuanya menghubunginya kalau Abel itu tak mengingat namanya atau lebih tepatnya kadang-kadang ingat. Abel pun langsung menganggukkan kepalanya, bahkan pandangan matanya kini berbinar cerah. Sungguh hal ini membuat Nadia dan Andre senang karena ternyata kehadiran Alan membawa perubahan besar untuk Abel.


"Woh... Talian ni dimana cih unda, papa. Tatana Kak Bel ndak inat namana capa. Butina nih inat namana capa. Cudahlah... Talian telja caja cana, bial Alan caja yang daga Kak Bel. Pati talo Kak Bel yang dagain tu Alan, atan aman celalu." ucap Alan dengan percaya dirinya.

__ADS_1


__ADS_2