Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Keadaan


__ADS_3

Andre dibuat kelabakan oleh anak bungsunya, Alan. Pasalnya Alan kesal dan ngambek padanya karena telah berbohong kepadanya mengenai keadaan nenek juga kakeknya. Bahkan kini Alan masih membuang mukanya saat ia menampilkan wajah memelas.


"Ayo tepon nenek. Toba talo meleka bait-bait caja, pati batalan di antat." ucap Alan menantang papanya.


Andre hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya kedua orangtuanya itu kini masih tak sadarkan diri. Di sana bahkan mereka hanya dijaga oleh dokter dan perawat khusus yang Andre sewa. Beruntung Nenek Hulim akan membantu menjaga keduanya dengan menyuruh bodyguardnya.


Nenek Hulim juga tak segan-segan untuk berada di sana selama kedua orangtua Andre itu sakit. Namun ia menitipkan Fikri pada penjagaan keluarga Andre karena tak mungkin jika bocah kecil itu terus berpindah tempat. Andre pun menyanggupinya, terlebih ia juga harus mengurus perusahaannya yang ada di sini.


"Telfon, nak. Bukan tepon," ucap Andre membenarkan ucapan anaknya.


"Cuka-cuka Alan dong. Citu tok libet," ucap Alan acuh.


Nadia hanya bisa terkekeh geli mendengar apa yang diucapkan oleh Alan. Apalagi melihat raut wajah Andre yang kesal karena anaknya itu begitu pintar membalas setiap ucapannya. Sedangkan Anara kini sudah tertidur di pangkuan Arnold karena ternyata badan gadis kecil itu sedikit demam.


"Kalian itu kalau ketemu ribut terus. Tapi kalau nggak ketemu, kangen." ledek Nadia.


"Woh... Tu pati papa yang tangen tama Alan. Talo Alan mah, ndak pelnah tangen cama papa." ucap Alan menyindir papanya.


Andre hanya bisa mengelus lembut dadanya sabar karena tak menyangka dengan ucapan anaknya itu. Ia lebih memilih tak lagi menanggapi ucapan Alan yang nantinya malah akan membuatnya sakit hati.


"Bund, pa... Ini Kak Nara badannya demam. Apa karena efek terlalu memikirkan kembarannya yang belum sadar ya?" tanya Arnold sambil terus mengelus rambut kakaknya itu.


"Mungkin Kak Nara ini lagi merasa bersalah pada kembarannya. Bukannya kemarin Arnold bilang kalau Kak Nara mengigau nama kembarannya terus saat tidur ya?" ucap Nadia sambil tersenyum.

__ADS_1


Memang kemarin Arnold menceritakan tentang kakaknya yang mengigau tentang minta maaf kepada kembarannya. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab saat ini Anara jadi lebih pendiam dan malah demam. Apalagi sebelum kejadian Abel sakit ini, Anara sempat bersitegang dengan kembarannya itu.


Nadia dan Andre juga sudah memeriksakan keadaan Anara pada dokter. Namun dokter bilang kalau ini hanyalah demam biasa saja. Walaupun begitu, Andre dan Nadia tengah berusaha agar anaknya itu tak terlalu memikirkan keadaan kembarannya.


"Abang hanya sedikit khawatir, bunda. Kok semua anggota keluarga kita pada sakit. Kalau nanti semua pada sakit, yang jaga siapa dong?" ucap Arnold lirih.


"Bunda dan papa jangan sampai sakit ya. Pokoknya kalian harus jaga kesehatan. Kalian jangan terlalu banyak pikiran ya, apalagi sering kepikiran abang. Abang pasti bisa jaga diri baik-baik," lanjutnya dengan memberi pesan.


Nadia dan Andre yang mendengar hal itu begitu terharu. Mereka tak menyangka kalau dulu Arnold yang selalu jahil itu ternyata bisa sedewasa ini di usianya yang masih dibawah 10 tahun. Nadia langsung memeluk Arnold dari samping kemudian mengelus lembut kepala Anara.


"Kalian anak-anak yang hebat dan tidak merepotkan kami. Walaupun kami sibuk, kami pasti akan menjaga kalian dengan sekuat tenaga. Walaupun dalam kondisi sakitpun." ucap Nadia.


"Cunduh pemandangan yang menghalukan. Tayak di cinetlon itan telbang," celetuk Alan.


"Woo... Alan telbang tayak dinosaulus di pilm-pilm," serunya yang malah senang dengan perlakuan papanya itu.


Arnold yang melihat tingkah adiknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pasalnya adiknya itu memang pintar dalam menikmati moment kebersamaan dengan keluarga. Buktinya kini Alan malah bisa merasakan kasih sayang seorang papa dengan kejahilannya.


***


Alan dan Arnold kini sudah melakukan kegiatannya dengan normal. Keduanya sudah masuk sekolah, bahkan semalam mereka tidur di rumah ditemani oleh Andre. Sedangkan Nadia yang berjaga di rumah sakit karena Anara tak mau berjauhan dengannya dan Abel.


Keduanya saling bahu membahu untuk meluangkan waktu demi anak-anaknya. Beruntung Arnold dan Alan mengerti kalau harus lebih memprioritaskan kedua kakak kembarnya itu.

__ADS_1


"Jangan berbuat aneh-aneh di sekolah. Kalau ada apa-apa, langsung lapor guru atau orang dewasa yang ada di sana. Nanti siang, papa yang jemput kamu," ucap Andre memberi pesan pada Alan yang kini sudah berdiri di depan gerbang.


"Alan ukan nanak nakal ya, papa. Angan camakan atu engan dilimu yang nakal caat tecil duyu," ucap Alan yang kemudian berlalu meninggalkan Andre yang menganga tak percaya.


Bahkan beberapa orangtua murid yang mendengar ucapan Alan itu hanya bisa menahan tawanya. Mereka seperti tak menyangka kalau orangtua dari Alan pun ternyata tak luput dari ucapan nyinyir Alan. Andre hanya bisa mendengus kesal kemudian masuk dalam mobilnya.


"Anak siapa sih itu si Alan. Astaga... Perasaan dulu aku nggak kaya gitu deh. Apa itu nurun dari Nadia ya?" gumamnya sambil mengemudikan mobilnya menuju kantornya.


***


"Halo bebeb Cia. Alan telah tembali, Cia tangen ndak cama Alan?" seru Alan saat memasuki kelasnya.


Ternyata saat Alan memasuki kelasnya, sudah ada sahabatnya yang duduk di sana. Cia yang mendengar panggilan padanya itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Pandangan mata Cia langsung berbinar cerah karena melihat Alan yang kembali masuk sekolah.


"Alan, tenapa tamu temalin ndak blangkat cekolah? Halusna Alan tacih tabal atu dong talo ndak blangkat cekolah. Bial Cia uga ndak blangkat," kesal Cia yang langsung protes karena kemarin sahabatnya tidak berangkat sekolah.


"Huh... Alan tan temalin ladi menyelecaikan macalah kelualga. Alan cibuk, adi nggak cempat ubungi Cia." ucap Alan memberi alasan.


Cia mengerucutkan bibirnya kesal karena Alan begitu tak peka. Pasalnya dia rindu dengan Alan karena saat di sekolah hanya dia yang mau berteman dengannya. Yang lainnya seakan takut berteman dengan Cia karena tingkah gadis kecil itu yang terlalu berani.


"Cibuk cepelti apa?" tanya Cia penasaran.


"Cudahlah, Cia ndak pelu tau. Ini ulucan olang dewaca tayak Alan. Cia macih tecil, ndak oleh itut-itutan." putus Alan membuat Cia hanya bisa menganga tak percaya.

__ADS_1


Pasalnya usia keduanya itu sama namun Alan malah menganggap dirinya sudah dewasa. Cia hanya bisa sabar melihat sikap sahabatnya yang suka seenaknya sendiri itu. Akhirnya Alan duduk kemudian belajar setelah guru memasuki kelas.


__ADS_2