
Rivan duduk di kursi mobil dengan canggung dan penuh kehati-hatian. Bahkan terlihat sekali kalau Rivan merasa tak nyaman dan seperti duduk menggantung. Semua itu tak luput dari pandangan Alan yang melihat teman kakaknya itu seperti takut untuk duduk.
"Citu ambeyen atau napa? Uduk tu yang benal. Angan-angan ambeyen atau biculan agi antatna," ucap Alan dengan sedikit menyindir Rivan.
Mendengar sindiran yang dilontarkan oleh Alan itu membuat Arnold segera saja melihat kearah Rivan. Memang benar adanya kalau Rivan malah kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tingkahnya ketahuan. Arnold hanya bisa menghela nafasnya kasar melihat tingkah adiknya yang terlalu julid itu.
"Alan, nggak boleh kaya gitu sama orang yang lebih tua. Berucaplah yang sedikit lembut kalau menegur orang. Bisa saja lho nanti kalau ucapanmu itu malah menyakiti hati oranglain. Mereka bisa tersinggung dan malah sakit hati dengan ucapanmu," ucap Arnold menegur adiknya.
"Cala abang tama Alan tuh deda. Alan memang cuka ceplas-ceplos talo belucap, api tujuanna baik. Alan ndak cuka baca-baci, lebih baik tayak dini. Apa adana Alan," ucap Alan sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Arnold hanya bisa menghela nafasnya pasrah karena mendengar apa yang diucapkan oleh Alan itu. Memang caranya berucap dengan Alan sangatlah berbeda. Dulunya ia juga sering berucap ketus namun saat beranjak besar membuatnya berubah.
Arnold hanya bisa berharap kalau kelak adiknya itu bisa lebih menjaga ucapannya setelah usianya bertambah. Sedangkan Rivan merasa kebingungan dan sedikit merasa bersalah karena sepertinya dua orang bersaudara itu marahan karena dirinya.
"Maafin Rivan. Gara-gara Rivan, kalian malah berantem." ucap Rivan dengan pelan.
"Ini bukan salah kamu, memang dasarnya adik aku saja yang suka julidin orang baru." ucap Arnold menepuk bahu temannya itu.
Alan tak peduli dengan ucapan kakaknya yang seakan menyindir dirinya itu. Alan lebih memilih melihat video dengan ponselnya dibandingkan mengurusi urusan kakaknya dan temannya itu. Alan sebenarnya masih heran karena melihat Arnold akrab dengan orang tak dikenalinya.
"Kamu kenapa duduknya kaya gitu? Duduklah dengan nyaman," ucap Arnold bertanya dengan hati-hati.
"Ambeyen tuh, bang. Toba belitan obat di potek," timpal Alan.
__ADS_1
Arnold yang mendengar hal itu segera saja menatap kesal kearah adiknya itu. Sedangkan Alan terus saja fokus pada ponsel yang dipegangnya itu.
"Aku takut kalau kursinya kotor karena kena celanaku yang lusuh. Aku juga takut kalau kursi mobilnya rusak dan aku harus ganti," ucap Rivan dengan polosnya.
Tentu saja jawaban dari Rivan itu langsung mengalihkan perhatian Alan. Bahkan kini Alan langsung menegakkan tubunya dan menatap kearah Rivan. Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya saat tahu pemikiran dari teman Arnold itu.
Arnold sendiri masih terkejut dan menatap tak percaya kearah teman barunya. Arnold kini menatap adiknya yang seakan tahu mengenai pikirannya. Alan menghembuskan nafasnya pelan sambil memikirkan sesuatu. Bahkan Alan dan Arnold juga langsung melihat seragam Rivan yang memang terlihat lusuh.
"Talo bajuna cudah yusuh tuh ya danti dong, maca macih dipatek." ucap Alan dengan santainya.
"Ndak punya uang," ucap Rivan sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Alan yang mendengar hal itu hanya bisa menepuk keningnya pelan. Arnold yang melihat Alan akan mengucapkan sesuatu lagi pun langsung membekap mulut adiknya itu. Arnold tak ingin adiknya itu mengeluarkan kalimat ajaib lagi yang bisa membuat oranglain tersinggung.
"Tunjukkanlah arah rumahmu dan duduklah dengan tenang. Duduk dengan nyaman takkan merusak kursi mobilnya, jangan khawatir." ucap Arnold menenangkan temannya itu.
Rivan pun menganggukkan kepalanya kemudian mencoba duduk dengan santai. Sebenarnya dia seperti ini karena belum pernah berada di dalam sebuah mobil yang bagus. Tentu saja melihat benda yang mewah dan bersih itu membuat dirinya khawatir.
Rivan segera menunjukkan arah rumahnya. Ia tak jadi pergi ke tempat lain karena tidak enak pada Arnold yang mengantarnya. Tak berapa lama, mobil masuk dalam sebuah perkampungan kumuh. Terlihat sekali kalau jalanan hanya muat satu mobil saja dengan kanan kiri jalan banyak sampah.
"Woh... Napa di cini campahna banak cekali? Jolokna... Talo mawu buang campah ya di tempatna, napa di dalanan tayak dini." celoteh Alan yang mengomentari jalanan yang dilaluinya.
Memang benar adanya kalau jalanan ini begitu banyak kantong plastik berisi sampah berserakan. Bahkan tadi Alan sempat melihat ada seseorang yang melemparkan kantong plastik dengan sembarangan.
__ADS_1
"Mungkin tempat pembuangan sampahnya penuh, dek." ucap Arnold memberi alasan.
"Tapi ndak oleh cembalanan tayak dini juda dong. Ini bica nimbulin penakit lho," ucap Alan memberikan komentar.
Arnold memilih diam saja karena memang benar adanya kalau membuang sampah tak sepatutnya di jalanan ini. Namun mungkin saja mereka sedang kebingungan dimana akan membuang sampahnya di saat tempat pembuangan akhir ditutup selama beberapa bulan.
"Itu rumah Rivan," seru Rivan sambil menunjuk sebuah rumah yang terbuat dari kardus dan berada di samping tempat pembuangan sampah.
Kedatangan mobil mewah di kawasan pembuangan sampah ini tentu saja membuat semua oeang di sana menjadi gaduh. Pasalnya mereka yakin kalau takkan ada orang kaya yang mau untuk terjun langsung di lingkungan yang kumuh seperti ini.
Rivan yang tahu kalau adik temannya itu merasa terganggu dengan orang-orang yang berkerumun itu hanya bisa menatap tak enak hati. Pasalnya warga di sana kini langsung berkumpul untuk melihat siapa pemilik mobil itu.
"Semua warga di sini baik-baik kok. Maafkan kami yang terlalu norak karena baru pertama kalinya melihat mobil mewah dari dekat," ucap Rivan.
Walaupun Rivan bersekolah di sekolah internasional, namun bocah kecil itu sama sekali belum pernah mendekat kearah mobil teman-temannya. Rasa khawatir kalau akan merusak mobil itu membuatnya enggan berdekatan.
Selain itu, Rivan juga tak mempunyai teman di sekolah yang mau mengajaknya berdekatan dengan mobil itu. Rivan segera saja keluar dari mobil yang langsung disambut warga sekitar. Banyak yang terkejut dengan keluarnya Rivan dari mobil itu.
"Abang, napa lumahnya dali taldus? Anti talo tena ail ujan, bacah dan bocol cemua dong. Tacian meleta," ucap Alan yang masih memperhatikan semua rumah yang ada di sana dari dalam mobilnya.
"Jangan keras-keras. Kalau dengar mereka, nanti tersinggung lho. Ayo keluar atau kamu mau di sini saja?" tanya Arnold.
"Itut..." seru Alan.
__ADS_1
Tentunya Alan akan mengikuti kakaknya itu. Sepertinya berpetualan di sini akan sangat seru bagi Alan. Alan dan Arnold pun keluar dari mobil sambil tersenyum membuat warga di sana menyambutnya dengan suka cita.