
Proses surat dan dokumen yang dibutuhkan untuk pergi ke luar negeri telah diurus. Bahkan Andre dan keluarganya terlihat santai saja. Mereka sama sekali tak ikut serta mengurus semua dokumen itu. Ada Frank, asisten Nenek Hulim yang malah langsung sigap mengurus semuanya.
Bahkan mereka hanya tinggal duduk ikut wawancara dan foto saja. Entah seberapa besar kekuasaan Nenek Hulim itu sehingga sangat mudah bagi Frank meminta keinginannya. Andre hanya membuatkan surat ijin untuk kedua anaknya dari sekolah. Alan dan Arnold tidak akan masuk sekolah selama 2 minggu. Mereka akan diberikan materi secara online setiap harinya.
"Napa cuma dua mindu ndak cekolahna? Cetelusna cajalah, malas Alan tuh. Olang cekolahna cuma ditu-ditu caja kok. Belangkat, duduk, itilahat, dan pulang," ucap Alan menggerutu.
"Kamu itu, banyak anak-anak di luaran sana yang tidak bisa sekolah kaya kamu lho. Kamu harusnya bersyukur dan menikmati moment sekolah itu," ucap Andre menegur anaknya.
"Papa tuh ndak tau apa? Gala-gala cekolah, Kak Bel celata. Dia cakit, Alan malas talo cekolahna tayak ditu." seru Alan tak mau kalah.
Alan langsung saja berlari masuk dalam kamar Abel yang berada di lantai bawah. Mendengar seruan Alan itu sontak saja membuat Andre tertohok. Andre tak menyangka kalau kejadian kecelakaan Abel itu ternyata membekas dalam ingatan Alan. Saking dirinya sibuk dengan pekerjaan, orangtua, dan Abel membuatnya lupa kalau ada Alan juga lainnya yang kemungkinan psikisnya terganggu.
"Astaga... Kenapa aku sebodoh ini? Seharusnya aku paham atau mencari tahu tentang Alan dan lainnya apakah mereka trauma atau takut akan kejadian yang dialami Abel atau tidak," gumam Andre yang merutuki kebodohannya sendiri.
Di ruang keluarga itu memang tadi hanya ada Andre dan Alan saja. Sedangkan yang lainnya tengah bersama Abel di kamar. Bahkan Nadia pun di sana karena tengah menyiapkan beberapa barang milik Abel yang akan dibawa ke luar negeri. Andre akan berbicara hal ini dengan Nadia agar lebih membagi rata kasih sayang dan perhatian kepada anak-anaknya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, kini semuanya sudah berada di halaman rumah termasuk Naufal, Mbok Imah, dan Ibu Rivan. Sedangkan Rivan sendiri pergi ke sekolah, walaupun begitu dia sudah memeluk saudaranya yang lain ketika berpamitan dengan dirinya.
"Opal, dangan cali abang-abang lain ya celama atu tindal. Ndak ada abang lain ya celain atu yang paling telbaik," ucap Alan memberi pesan pada Naufal.
__ADS_1
"Hilih... Yang paling terbaik itu abang Arnold dong," ucap Arnold yang tak mau kalah dari adiknya.
Alan tak menggubris ucapan dari Arnold itu. Namun bocah cilik itu menatap sinis kearah abangnya yang malah ikut-ikutan. Arnold hanya terkekeh pelan melihat wajah adiknya yang seakan mengibarkan bendera perang kepadanya. Setelah berpamitan, mereka pun naik mobil dengan Ridho yang mengemudikannya.
"Paman Lidho, dangan tangen cama Alan ya. Tau kok talo Alan nih nangenin. Tapi Paman Lidho ndak boleh tangen cama Alan, coalnya tan ndak bica temu cama atu." ucap Alan yang mulai mengusili sopir keluarganya itu.
"Saya bisa nyusul, den Alan." ucap Ridho dengan tersenyum paksa.
Biasanya Ridho akan menjahili anak majikannya itu dan asal ceplas-ceplos. Namun di sini ada Andre yang membuatnya canggung. Terlebih raut wajah Andre yang seakan tidak sedang bersahabat. Kalau dengan Nadia atau Arnold, ia sudah terbiasa jika melihat keduanya saling menjahili.
"Mana bica nucul? Dangan mimpi tamu ya, Paman Lidho. Memangna tamu puna uwang? Oh puna uwang, ambil dali celenanna Alan ya?" tuduh Alan seenaknya.
"Napa ndak didawab? Paman Lidho ndak acik. Ndak tayak biacana yang banak nomong. Ladi putus cinta tayakna," ucap Alan.
Alan kesal pada Ridho yang sikapnya terlihat lebih kaku dari biasanya. Pasalnya saat bersama dengan dia, Ridho tak pernah bersikap seperti ini. Ia selalu saja menimpali apa yang dilontarkan oleh Alan. Suasana di dalam mobil menjadi seperti tenang walaupun Alan masih menggerutu sebal.
"Papa... Pati dala-dala papa nih. Pati ancam-ancam Paman Lidho ya," tuduh Arnold pada papanya.
"Papa ngelakuin apa sama dia? Orang sedari tadi papa hanya diam saja kok," ucap Andre yang memang merasa tak bersalah sama sekali.
"Kalian ini kalau ketemu selalu ribut terus. Ayo turun, kita sudah sampai di bandara." ucap Nadia melerai perdebatan keduanya.
__ADS_1
Alan mendengus kesal karena perjalanannya kali ini tak seasyik biasanya. Mereka semua keluar dengan Ridho membantu mengelarkan beberapa koper yang dibawa. Setelah semua koper dibawa oleh Andre dan Nadia, segera saja mereka memasuki area bandara.
"Da... Da... Loma, tundu Ani pulang ya." seru Alan sambil melambaikan tangannya.
Ridho melotot tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh anak majikannya itu. Apalagi sekelilingnya tampak menahan tawanya karena melihat adegan itu. Rasanya Aldo ingin menutup wajahnya itu dari pandangan semua orang. Malu sekali dirinya, seperti harus tebal muka jika bersama Alan.
Ridho buru-buru memasuki mobil kemudian mengemudikannya dengan cepat. Ridho berjanji pada dirinya sendiri untuk menjitak anak majikannya itu saat sudah kembali ke rumah.
***
Dua belas jam mereka berada di dalam pesawat. Badan mereka begitu lelah, apalagi Alan yang tak berhenti berbuat ulah. Hal itu membuat Nadia dan Andre harus senantiasa memperhatikan anak bungsunya itu. Bahkan sampai dibuat sedikit malu oleh anaknya. Mereka jadi mengingat peristiwa tadi saat berada di pesawat.
""Hai wewek... Tamu napa beldili di citu? Mendin duduk di cebelah Alan caja," ucap Alan yang tadi melihat pramugari sedang memastikan kalau para penumpang sudah aman.
"Ini memang tugas kakak, adek kecil. Kakak harus memastikan kalau semua penumpang aman," ucap pramugari itu dengan senyum ramahnya.
"Tamu bica buwat cemua olang melaca aman naik wawat telbang. Tapi jantuntu ndak aman talo liat cenyum manis tamu," ucap Alan yang malah menggombali pramugari.
Nadia dan Andre sontak saja memelototi Alan yang kelewat aktif itu. Namun anaknya sama sekali tak takut, bahkan pramugari itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ada-ada saja tingkah Alan ini, yang tentunya terinspirasi dari sebuah sinetron yang pernah dilihatnya saat bersama sang nenek.
Bahkan beberapa penumpang di sana malah tertawa mendengar rayuan yang seperti guyonan itu. Oleh karena itu, Nadia dan Andre kini lebih mengawasi intens anaknya itu. Mereka tak ingin anaknya sampai melakukan hal-hal yang aneh.
__ADS_1