
Alan terus saja berceloteh dengan adik Rivan yang bernama Naufal itu di atas pangkuannya. Tentu saja Naufal hanya bisa menatap polos kearah Alan. Ia sama sekali belum mengerti tentang apa yang diucapkan oleh Alan itu dan hanya meresponsnya dengan suara yang memang tak jelas.
"Nomong dong, Opal." kesal Alan karena Naufal yang tak membalas apapun pertanyaannya itu.
"Hei... Namanya Naufal, bukan Opal." tegur Arnold pada adiknya itu.
"Ish... Cucah namana. Tayak Alan nih lho namana, dampang diucaptan." ucap Alan dengan nada sombongnya.
Rivan yang mengetahui kalau Alan kesusahan mengucapkan nama adiknya pun memakluminya. Jadi kalau sekarang Alan memanggilnya dengan panggilan Opal, Rivan sama sekali tak keberatan. Arnold menatap sinis kearah adiknya itu karena mengingat suatu kejadian yang membuat semua orang kesal.
"Dih... Sekarang saja sombong karena nama Alan mudah diucapkan. Dulu aja ngakunya pas kenalan sama cewek jadi Michael." ucap Arnold menatap sinis kearah adiknya.
"Abang nih ndak tau cala pdtt cama wewek. Tuh bial menalik pelhatian talna namana tayak olang lual negli. Muta Alan tan uga dah tayak gule-gule di cana, inggal nih lambut becok mau Alan walnain ijo." ucap Alan dengan percaya dirinya.
Hahaha...
Sontak saja mendengar ucapan dari Alan itu membuat Rivan dan Arnold tertawa. Mereka sungguh tak menyangka kalau Alan akan mengucapkan hal itu. Apalagi kelak rambutnya akan diwarnai hijau seperti ucapannya itu. Sungguh cocok sekali Alan ini menjadi pelawak.
"Gule ayam atau gule kambing?" tanya Ridho yang juga menertawakan anak majikannya itu.
"Butan gule tu. Api gule yang olang lual negli itu lho," seru Alan yang tak terima karena apa yang ia maksud tak sejalan dengan pemikiran Ridho.
Ridho, Arnold, dan Rivan benar-benar dibuat sakit perut oleh ucapan-ucapan Alan yang tak jelas. Ingin bagi Arnold kalau adiknya itu akan terus cadel seperti ini. Namun tentunya waktu akan terus berjalan dan Alan akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan segala kelebihannya.
__ADS_1
***
"Ndak ucah lepot-lepot, ante. Ladian tami cebental ladi atan ulang tok." ucap Alan yang menolak saat Ibu Rivan menyediakan beberapa cemilan untuk tamu anaknya itu.
"Tidak apa-apa. Ini seadanya saja," ucap Ibu Rivan.
Ibu Rivan juga pasti takkan enak hati saat ada tamu namun tak disuguhi apapun. Jadi sebisa mungkin kalau tetap menyuguhkan sesuatu walaupun ala kadarnya saja. Untuk menghormati Ibu Rivan yang sudah repot-repot membelikan cemilan, Alan dan Arnold memakannya.
Arnold menyuapi adiknya itu karena kedua tangannya masih memeluk erat Naufal dari belakang. Alan sama sekali tak mau melepaskan Naufal barang sedetik pun. Padahal tadi Ibu Rivan sudah meminta agar Naufal masuk dalam gendongannya namun Alan tak mau memberikannya.
"Ayo kita pulang, ini udah sore." ajak Arnold yang melihat pada jam tangannya.
Alan memberengut kesal mendengar ajakan dari kakaknya itu. Pasalnya ia masih ingin berada di sini namun kakaknya malah mengajaknya pulang. Sedari tadi memang Alan bermain dengan Naufal seakan bocah laki-laki itu mempunyai dunianya sendiri. Sedangkan Arnold berbincang dengan Rivan dan ibunya.
"Kan Naufal rumahnya di sini, dek. Masa iya kamu mau pisahin Naufal sama ibu dan kakaknya," ucap Arnold memberi pengertian.
"Besok kapan-kapan kalian bisa ke sini lagi buat jengukin Naufal. Kami takkan melarang Alan untuk bertemu dan bermain dengan Naufal kok," ucap Ibu Rivan membantu Arnold membujuk Alan.
Alan terlihat sangat sedih saat akan berpisah dengan Naufal. Bahkan pelukannya pada Naufal tak dia lepaskan sama sekali. Alan begitu menyayangi bocah cilik yang bahkan giginya baru tumbuh dua biji itu. Arnold merasa kasihan dengan Alan yang seakan sangat bersedih dengan perpisahan ini.
"Tali ini caja. Opal itut tita ya, ninap di lumah. Ajak uga ibuna dan Kak Livan, atu mohon." ucap Alan dengan mata yang berkaca-kaca.
Arnold kebingungan dengan permintaan dari adiknya itu. Arnold menatap kearah Ridho yang sedari tadi diam. Arnold memberi kode pada Ridho agar menghubungi papanya untuk meminta pendapat. Malam ini, Nadia yang akan berada di rumah menemani Alan dan Arnold.
__ADS_1
Sedangkan Andre akan menjaga Abel dan Anara yang tak bisa jauh dari kembarannya. Ridho pun menganggukkan kepalanya kemudian sedikit menjauh dari mereka. Ibu Rivan tampak kebingungan karena sepertinya tak mungkin kalau harus menginap di rumah teman anaknya itu. Ia tak mau merepotkan oranglain dengan kehadirannya dan dua anaknya itu.
"Kata Tuan Andre, diperbolehkan untuk teman kalian menginap di rumah. Bunda kalian juga sudah berada di rumah," ucap Ridho setelah menghubungi majikannya.
"Holee... Matacih paman Lidho yang ndak anteng. Pototna Alan ini cayang banak-banak cama abang Anol," ucap Alan sambil terkekeh geli.
Pasalnya Alan ini mengucapkan terimakasih kepada Ridho namun malah seperti mengejeknya. Bahkan ia mengungkapkan rasa sayangnya kepada Arnold dibandingkan pada Ridho yang membantunya. Ridho pun tak menggubris apa yang diucapkan oleh Alan itu karena sudah paham dengan anak majikannya yang satu itu.
"Bu, Rivan... Kalian ikutlah bersama kami dan menginap di rumah. Orangtua kami sudah mengijinkan untuk kalian menginap," ucap Arnold.
Tentu saja Rivan dan ibunya kebingungan karena tak ingin nantinya malah merepotkan keluarga Arnold. Namun melihat tatapan dari Alan yang begitu berharap kalau mereka menginap di rumahnya pun akhirnya membuat keduanya menganggukkan kepalanya.
"Asyik... Ayo Paman Lidho. Antu dendong Opal dong, Alan ndak kuat ini lho. Paman Lidho mah ndak peta," ucap Alan sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Biar ibu saja yang menggendong Naufal," ucap Ibu Rivan karena merasa tak enak hati dengan Ridho.
"Tak apa, bu. Silahkan kalian bisa membereskan baju atau barang lainnya yang akan dibawa untuk menginap," ucap Ridho.
Rivan dan ibunya pun menganggukkan kepalanya kemudian menyiapkan baju dan barang lainnya. Tak banyak baju yang mereka bawa karena memang tak mempunyai banyak barang. Ibu Rivan juga langsung menitipkan rumahnya pada tetangga agar nanti jika ada yang mencarinya bisa langsung bisa memberi jawaban.
Semua warga yang melihat Ibu Rivan dan kedua anaknya pergi pun hanya tersenyum. Mereka tidak iri karena keluarga Rivan bisa naik mobil mewah dan pergi bersama orang kaya. Mereka justru ikut bahagia dan berharap kalau keturunan semuanya bisa berteman baik dengan orang kaya yang tak membeda-bedakan pertemanannya.
"Hati-hati. Jangan lupa segera kembali" seru salah satu warga kepada Rivan dan keluarganya yang melambaikan tangannya dengan jendela mobil yang terbuka.
__ADS_1