
Mendengar abangnya mengadu tentang kondisinya itu membuat jantung Alan berdetak lebih cepat. Otot-otot pada leher juga wajahnya tertarik dengan kedua tangan yang mengepal erat. Alan marah karena kondisi abangnya jauh dari kata baik.
Padahal dulu Arnold adalah pemuda yang digadang-gadang akan dijadikan penerus oleh keluarganya. Terlebih kecerdasannya dalam menyelesaikan masalah dan manajemen dalam perusahaan. Arnold juga yang paling tertarik menjadi seorang pengusaha.
"Abang tenang saja. Alan pasti bantu abang buat meraih apa yang diinginkan. Lagian meraih sesuatu tentang cita-cita abang yang ingin menjadi pengusaha hebat seperti opa, papa, dan Nenek Hulim itu tak perlu otak pintar. Yang kita butuhkan hanyalah otak yang cerdik dalam strategi dan licik," ucap Alan mencoba meyakinkan kakaknya.
"Tapi tetap saja kita butuh kepintaran untuk menyerap suatu ilmu. Abang lambat dalam berpikir jadi kemungkinan bakal ubah haluan cari pekerjaan yang tidak terlalu menggunakan otak," ucap Arnold yang seperti pasrah dengan keadaannya.
"Kalau pikiran abang jalan lambat, biar otak Alan saja yang lari cepat. Alan nggak akan ngebiarin abang tertinggal jauh," ucap Alan yang kini menatap Arnold dengan penuh semangat.
Walaupun hatinya tak sinkron dengan bibirnya yang tersenyum, namun ia mencoba untuk memperlihatkan kebahagiaannya. Padahal hatinya begitu memanas dan merana karena kondisi abangnya. Alan mencoba memberi semangat pada Arnold yang kini sedang insecure.
"Terimakasih," ucap Arnold yang dibalas anggukan kepala oleh Alan.
Keduanya pun secara bergantian membersihkan diri. Bahkan dengan telatennya, Alan menyiapkan baju Arnold terlebih dahulu. Padahal dulu Arnold yang selalu menyiapkan baju untuknya namun sekarang kebalikannya.
"Siapapun yang membuat abangku seperti ini, maka akan mendapatkan balasan yang takkan pernah ia duga. Aku sendiri yang akan membalasnya dengan tanganku sendiri. Entah esok hari atau di masa depan," gumam Alan sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
Bahkan mata Alan menatap tajam kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Baginya Arnold itu adalah sosok abang yang begitu berharga. Terlebih Arnold selalu menjaganya dulu dan telah mengorbankan nyawa untuknya. Kalau waktu itu Arnold tak berkorban untuknya, mungkin ia yang akan berada dalam posisi abangnya itu.
__ADS_1
***
"Malam fans-fansnya Alan yang ganteng dan cantiknya tak seberapa," teriak Alan yang turun dari tangga rumahnya bersama Arnold.
Bahkan Alan berjalan bak model di atas tangga dengan sebelah tangan yang ia lambaikan pada semua orang. Apa yang dilakukan oleh Alan itu membuat orang-orang yang ada di ruang keluarga itu hanya bisa menganga tak percaya. Semakin hari tingkah Alan ini membuat mereka hanya bisa tepuk jidat.
"Dih ogahlah ngefans sama situ yang ganteng sama sekali. Mending juga ngefans sama teman kampus kakak. Pada gantengnya kebangetan," ucap Anara.
"Alan pukul sampai babak belur itu wajah teman Kak Nara di kampus biar mukanya nggak ganteng lagi. Nggak usahlah ngefans gitu sama laki-laki lain selain keluarga kita," ucap Alan yang langsung mengubah raut wajahnya menjadi tak suka.
"Astaga... Anak kita posesif sekali sama kakaknya. Bisa nggak punya pacar tuh nanti Nara dan Abel. Ada laki-laki yang mendekati keduanya, langsung menghadapi Alan yang galak." ucap Andre pada istrinya itu.
"Memangnya papa mau kalau Kak Nara dan Kak Bel disakiti oleh cowok-cowok di luaran sana? Pokoknya kalau punya teman dekat cowok harus menghadap Alan dulu. Enak saja main dekati kakak-kakakku yang cantik ini. Punya apa mereka?" ucap Alan dengan wajah garangnya.
"Yang kaya itu orangtuanya, dia punya apa? Kalau masih sembunyi di balik ketek orangtuanya mah mending pergi ke laut aja sana," ucap Alan dengan santainya.
Anara dan Abel hanya bisa cengo mendengar keposesifan adiknya itu. Sejak keduanya SMA, mereka sudah diperingati oleh Alan untuk tidak boleh dekat-dekat cowok lain selain yang telah dikenalnya. Kalau sampai ketahuan dekat dengan cowok lain, Alan tidak segan-segan untuk tak mau berbicara.
"Yah... Padahal Anara tuh mau cari cowok bule lho besok waktu pertukaran mahasiswa," ucap Anara sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Coba saja kalau berani. Alan akan sewa bodyguard buat jagain Kak Nara agar tak bisa dekat dengan bule-bule," ucap Alan dengan posesifnya.
"Kalau Kak Nara niatnya ke sana buat belajar, pasti nggak ada kepikiran tuh dekat dengan bule. Kalau punya niat lain, mending nggak usah pergi." lanjutnya yang langsung melarang Anara pergi.
Papa Reza langsung berdiri dan menarik Alan agar duduk di pangkuannya. Semakin didiamkan, Alan ini akan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas. Terlihat juga wajah Anara yang begitu tertekan, berbeda dengan Abel yang biasa saja.
"Abel, kamu juga harus protes sama aturan yang dibuat oleh Alan itu." ucap Anara mencoba mengompori Abel.
"Ngapain Abel harus protes? Justru Abel senang kalau Alan bersikap posesif sama kita. Ini berarti Alan dan yang lainnya sayang sama kita. Mereka ingin menjaga kita dari bahaya-bahaya di luaran sana," ucap Abel dengan polosnya.
"Lagian mana ada yang mau dekat-dekat sama Abel yang otaknya udah nggak pintar ini," lanjutnya dengan tatapan sendu.
Semua orang yang ada di sana langsung terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Abel. Memang prestasi Abel menurun sejak kejadian dulu. Namun keluarganya sama sekali tak marah dan memakluminya karena untuk kesembuhannya tak bisa seratus persen.
"Abel, kalau nggak ada yang dekat sama kakak biar kami keluargamu yang memeluk dan menemanimu. Jangan takut dan khawatir sendiri. Ada kami, apalagi Alan tuh yang bakalan setia menemani Abel kemana pun. Iya kan, Alan?" tanya Andre pada Alan untuk meyakinkan Abel.
Bahkan kini Andre langsung menarik tangan Abel untuk duduk di tengah-tengah antara dia dan Nadia. Nadia juga langsung memeluknya dari samping dan mengelus lembut rambut panjangnya itu. Alan masih terdiam karena dulunya belum bisa membalas orang-orang yang menyakiti kakaknya.
"Apa aku cari saja itu orang-orang yang dulu menyakiti Kak Bel? Sepertinya mereka sudah bebas dari penjara. Aku akan membuat perhitungan biar mereka merasakan kesakitan sepanjang hidupnya," batin Alan.
__ADS_1
Setelah merencanakan sesuatu di dalam otaknya, Alan langsung saja berjalan mendekati Abel. Alan juga memeluk kakaknya itu dari depan. Semua yang melihat hal itu begitu terharu. Apalagi Alan yang sangat menyayangi semua anggota keluarganya.
"Jadikan kekuranganmu itu kelebihan yang bisa dilihat oranglain. Pasti mereka akan bungkam sendiri dengan pencapaian kita. Kami semua menyayangi Kak Bel, jangan lagi sedih hanya karena tak pintar dalam hal akademik. Kak Bel ada temannya, Alan ini juga bodoh lho kalau soal pelajaran. Tapi Alan biasa saja tuh," ucap Alan dengan santainya.