
"Dek, jangan bolos lagi apapun alasannya. Kamu harus rajin belajar biar saat dewasa nanti bisa sukses dan menjaga bunda, nenek, juga kedua kakak kita." ucap Arnold memberi peringatan pada adiknya saat mobil berhenti di depan sekolahnya.
Tentu saja Arnold ingin adiknya ini lebih disiplin dan bertanggungjawab lagi pada pendidikannya. Walaupun kegiatan Alan saat berada di rumah sakit kemarin adalah tindakan baik, namun mengesampingkan pendidikan itu tidak benar. Kalau bisa, keduanya harus seimbang.
"Woh... Belalti Alan halus belajar tindu dong. Bial bica mutul cama belantem cama olang-olang yang danggu kelualga tita," ucap Alan yang langsung mempunyai ide cemerlang.
"Kok tinju sih? Belajar yang benar dulu di sekolah, dek." kesalnya.
"Ndak, Alan batalan minta les dinju cama kalate di lual cekolah. Hmm... Ide yang badus," ucap Alan tanpa menggubris peringatan Arnold.
Ridho yang melihat Arnold kesal karena perdebatannya dengan Alan hanya bisa menahan tawanya. Jika berada di posisi seperti ini, jelas Ridho hanya akan jadi penonton. Pasalnya ia pasti akan kalah kalau melawan dua orang yang jago debat itu. Namun jika yang berdebat keduanya, sudah dipastikan yang akan menang adalah Alan.
"Kesal abang sama kamu, dek. Dibilangin ngeyel. Nanti kalau wajah kamu kena tonjok, baru tahu rasa. Masih kecil juga kamu itu, mending main bola bekel aja Alan itu." ucap Arnold yang kemudian memilih turun dari mobil karena kesal dengan adiknya.
Alan yang mendengar ucapan dari abangnya itu hanya bisa menganga lebar. Apalagi tentang bola bekel yang mesti ia mainkan. Namun yang membuat Alan heran, abangnya ini malah kesal dengannya. Ia merasa tak berbuat salah apa-apa namun malah dijuteki.
"Alan calah apa cih, Paman Lidho? Tok hali ini cemua olang pada kecal cama Alan. Padahal Alan nih cedali tadi nulut telus lho, ndak macam-macam." ucap Alan sambil memiringkan kepalanya seperti berpikir tentang kesalahannya.
Ridho yang melihat Alan hanya diam dan tak merasa bersalah sama sekali hanya bisa menepuk dahinya pelan. Pasalnya anak majikannya itu tak pernah mau disalahkan walaupun sebenarnya salah. Apalagi Alan yang memang keras kepala dan ingin menang sendiri.
"Den Alan nggak salah. Yang salah itu Paman Ridho," putus Ridho sambil mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Tuh... Yang calah tan Paman Lidho napa pada kecal cama Alan. Matana Paman Lidho tuh diam caja bial ndak bitin atu dimalahin," ucap Alan yang sekarang malah menyalahkan Ridho.
Ridho sama sekali tak menggubris ucapan Alan itu. Sudah pasti apapun yang dilakukannya itu akan salah di mata Alan. Apalagi Alan tak mempunyai rasa bersalah sama sekali. Padahal Alan tahu kalau sedari tadi Ridho hanya diam saja namun dengan percaya dirinya malah langsung menyalahkannya.
Ridho tadi mengucapkan dirinya yang salah karena agar semua masalah selesai. Eh bukannya selesai, malahan Alan membahas dirinya yang bersalah. Ridho segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju sekolah Alan.
"Silahkan Den Alan, ini sudah sampai di sekolah. Guru-guru dan teman lainnya sudah menunggu kedatangan Den Alan lho," ucap Ridho dengan senyum paksanya.
Mobil yang dikendarai oleh Ridho itu berhenti di depan pintu gerbang sekolah Alan. Alan melihat sekitarnya yang sudah banyak murid dan orangtuanya tengah memasuki halaman sekolah. Alan terlihat menghela nafasnya dan malas sekali untuk sekolah.
"Tapan ya Alan diantal cama papa dan unda ke cekolah?" gumamnya pelan.
Ridho yang mendengar gumaman Alan yang pelan itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Terlihat Alan yang masih memperhatikan sekitarnya dengan pandangan sendu. Kali ini sepertinya Alan tengah menunjukkan sisi lain dari dirinya di depan Ridho.
"Sabar, den. Suatu saat nanti pasti papa dan bundanya akan mengantar Den Alan ke sekolah kok." ucap Ridho menenangkannya.
"Sekarang anggap saja Paman Ridho ini papanya Den Alan yang mengantar ke sekolah. Ayo sekarang turun," ajaknya.
Alan yang mendengar ucapan dari Ridho itu langsung mengalihkan pandangannya. Tentu saja ia tak mau kalau dikasihani oleh sopir keluarganya. Apalagi tatapan Ridho padanya itu seperti tengah meremehkannya yang tak mendapatkan kesempatan diantar oleh orangtuanya.
"Mana bica tayak ditu? Papa Andle tuh tampan lho macak culuh nandap Paman Lidho cama tayak dia. Dauhlah..." ucap Alan dengan ucapan pedasnya.
__ADS_1
"Astaga... Kau cungguh membuatku cakit hati, mas." ucap Ridho dengan nada yang dilebih-lebihkan.
"Atu butan mamasmu, Ani." ucap Alan dengan menirukan sebuah adegan drama.
Ridho hanya bisa menganga tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Alan itu. Apalagi nada lebaynya itu, tentu saja membuat Ridho hanya bosa geleng-geleng tak percaya. Mimik wajanya yang seperti akting sungguh membuatnya terpukau.
Bahkan setelah mengucapkan hal itu, Alan segera turun dari mobil dengan sendirinya. Alan masuk dalam sekolahnya dengan meninggalkan Ridho yang masih menatapnya tak percaya. Sepertinya kalau bermain drama seperti ini, Ridho akan langsung kalah telak jika berhadapan dengan Alan.
"Alan dilawan. Calon penelusna Jepli Nikol nih," gumamnya yang langsung berjalan masuk dalam kelasnya.
Beberapa guru yang melihat Alan masuk dalam kelas seketika terkejut. Pasalnya kemarin Alan ini tak masuk sekolah dan kini datang dengan wajah yang begitu santai. Seolah kemarin tak ada kejadian apapun sehingga main masuk menyelonong saja.
"Alan, ayo salim dulu sama guru-gurunya. Kemarin kan Alan nggak masuk sekolah, memangnya nggak kangen sama guru-guru di sini?" tanya salah satu guru pada Alan dengan lembut.
"Ndak, Alan tangenna cama Cia." ucap Alan dengan polosnya.
"Ibu minta ditangenin cama Alan? Nanti cuami ibu malah lho talo ibu ditangenin cama wowok danteng tayak Alan," lanjutnya.
Guru itu langsung memerah malu karena mendengar apa yang diucapkan oleh Alan itu. Sedangkan beberapa rekan guru lainnya hanya bisa menahan tawanya. Pasalnya guru yang tadi menegur Alan itu adalah guru yang baru masuk kemarin. Tentunya ia hanya tahu kalau salah satu muridnya tak berangkat sekolah.
Sedangkan guru yang bernama Siska itu belum tahu bagaimana karakter dan sikap Alan selama ini. Setelah mengatakan hal itu, Alan duduk di kursinya yang bersampingan dengan Cia. Cia tersenyum manis melihat kedatangan Alan kembali ke sekolah.
__ADS_1
"Alan napa ndak ajak-ajak Cia talo mau bolos cekolah? Cia tan pengen itut," ucap Cia dengan rengekannya.
"Alan ndak mawu Cia dadi bedgil. Bial Alan caja yang adi bedboy, Cia ndak ucah." ucap Alan sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Cia yang kini salah tingkah.