
"Benar Pak Andre. Apa yang dikatakan oleh Pak Reza itu benar. Saya sebagai sekretaris dan teman hanya bisa menyarankan untuk anda segera sadar sebelum semuanya hancur. Anda tak mungkin selamanya sehat seperti ini. Kelak jika bapak sakit dan tak bisa apa-apa, siapa yang akan mengurus? Jika hubungan dengan anak istri saja buruk," ucap Bayu.
Bayu mengetahui sekilas permasalahan dari keluarga atasannya itu. Pasalnya kemarin ia juga dimintai tolong oleh Papa Reza agar membantu mencari keberadaan Nadia dan Alan. Itu dapat disimpulkan bahwa keluarga atasannya sedang tidak baik-baik saja.
Andre sedari tadi hanya terdiam kemudian berdiri dari posisi jongkoknya di hadapan tubuh papanya yang berbaring. Andre masuk dalam kamar mandi, meninggalkan Bayu dan Papa Reza di sana. Keduanya hanya bisa menghela nafasnya lelah melihat Andre yang seperti orang linglung itu.
***
Arrghhhh...
Bugh... Bugh...
Sialan...
Teriakan, umpatan, dan pukulan pada dinding kamar mandi terdengar sampai luar. Bayu dan Papa Reza memilih untuk mendiamkan saja karena memang mereka ingin Andre sadar sendiri. Bahkan Bayu langsung membawa Papa Reza keluar dari ruangan Andre.
"Panik... Panik... Panik... Kenapa sih, Ndre? Kalau panik pasti langsung emosi," serunya.
Keadaan Andre begitu kacau dengan wajahnya yang memerah. Ia marah pada dirinya sendiri jika panik selalu saja meluapkan emosinya. Entah itu perbuatan salah atau tidak, ia pasti akan emosi dengan orang yang ada di hadapannya.
Kalau sudah begini, Andre hanya bisa menyesali semuanya. Istrinya sangat kecewa padanya karena terkesan membeda-bedakan perlakuannya pada Alan dan ketiga anaknya terdahulu. Sedangkan Alan, ia tak yakin mendapat maaf dari bocah laki-laki itu.
***
"Bunda, cepat sembuh ya. Maafkan Alan harus membawa bunda jauh dari keluarga yang lain," ucap Alan dengan lirih.
Kini Alan dan Nadia berada di sebuah rumah sakit. Saat tiba di sebuah kota kecil yang dituju, ternyata sang bunda malah jatuh sakit. Bahkan bundanya itu sampai kini belum sadarkan diri. Badannya demam dan asam lambung naik. Menurut dokter, Nadia kelelahan fisik dan pikirannya.
__ADS_1
Rasa takut mendera Alan. Alan merasa bersalah karena membawa sang bunda ke luar kota dan jauh dari keluarganya yang lain. Namun ini sudah keputusan keduanya untuk menepi dari semuanya.
"Alan..." ucap Nadia dengan lirih yang sadar setelah hampir beberapa jam tak sadarkan diri.
Alan yang sedari tadi melamun pun langsung mengalihkan pandangannya pada wajah sang bunda. Mata Alan berbinar cerah melihat bundanya sudah sadar. Dengan sigap, Alan memberikan air minum pada bundanya.
"Jangan sedih, bunda nggak kenapa-napa kok." ucap Nadia setelah minum air yang diberikan oleh Alan.
"Siapa yang sedih? Orang Alan biasa saja kok," ucap Alan yang mengelak ucapan Nadia.
Nadia terkekeh pelan melihat anaknya yang sangat gengsian itu. Padahal terlihat jelas kalau matanya berkaca-kaca karena sedih melihat keadaannya itu. Namun biarlah, lagian Nadia senang kalau melihat wajah sok cool dan gengsi Alan itu.
"Bunda jangan stress-stress. Jangan mikirin Alan yang tampan ini. Kan Alan jadi suka," ucap Alan dengan sedikit melontarkan candaan.
"Aduh... Anak bunda ini perhatian sekali sih. Jadi sayang," ucap Nadia menggoda anaknya.
Nadia hanya bisa terkekeh pelan melihat wajah anaknya yang begitu menggemaskan itu ia tak menyangka kalau bisa mempunyai anak yang jago semuanya. Jago bersilat lidah, berakting, dan menyenangkannya.
Brakk...
"Kenapa kalian nggak menghubungi nenek kalau ada masalah? Kalian anggap nenek itu apa," seru seorang wanita tua yang baru saja masuk dalam ruang rawat inap Nadia.
Sontak saja Alan dan Nadia yang sedari tadi tengah berbincang begitu terkejut. Apalagi pintu yang dibuka kencang seperti dobrakan itu. Beruntung ruang rawat inap ini berada di kelas 1 sehingga tak ada pasien lain yang terganggu.
Seorang wanita tua itu adalah Nenek Hulim. Di belakangnya ada Frank dan Fikri yang mengikuti Nenek Hulim. Bahkan Nenek Hulim sudah berkacak pinggang dan menatap sebal kearah Alan.
"Wow... Nenek luar biasa. Padahal Alan sudah sembunyi di kota kecil kok masih bisa ditemukan ya? Kalau Alan sembunyi di balik kolong tempat tidur, kira-kira ditemuin nggak ya?" tanya Alan sambil berpura-pura berpikir.
__ADS_1
Nenek Hulim sebal dengan cucunya yang satu ini. Nenek Hulim segera mendekati Alan kemudian memeluknya dengan erat. Bahkan Nenek Hulim menciumi pipi Alan berulangkali hingga bocah laki-laki itu hanya bisa pasrah.
"Nggak anggap nenek ada lagi gitu?" teriaknya tepat pada telinga Alan.
"Sabar nenekku yang cantiknya paripurna dan selalu awet muda. Nanti hipertensinya kumat lho. Kan nanti Alan jadi bingung mau jagain nenek atau bunda yang lagi pada sakit begini," ucap Alan sambil mengelus lembut pergelangan tangan Nenek Hulim.
"Kamu do'ain nenek terkena hipertensi gitu? Masuk rumah sakit?" ucap Nenek Hulim yang kesal dengan Alan.
Alan menepuk dahinya pelan setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Nenek Hulim. Alan benar-benar dibuat frustasi oleh Nenek Hulim yang malah menuduhnya tidak-tidak. Padahal ia hanya berusaha menenangkan wanita tua itu.
"Ya Allah... Serba salah Alan ini. Lebih baik Alan diam sajalah daripada salah ngomong," ucap Alan yang kemudian duduk di lantai sambil bersandar pada brankar milik bundanya.
"Dah cocok kaya gitu. Kaya gembel," ucap Nenek Hulim meledek Alan.
"Terserah nenek mau ngomong apa. Emak-emak emang selalu benar," ucap Alan dengan sedikit menyindir.
Nadia, Frank, dan Fikri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan ketiganya. Padahal keduanya itu saling rindu karena lama tak jumpa. Namun setiap bertemu, ungkapan rindu itu selalu disalurkan dalam perdebatan.
"Nenek mending duduk tubh di kursi. Alan sudah berkorban duduk di lantai lho biar nenek bisa di sana. Nggak ngucapin terimakasih lagi. Emang nggak peka," ucap Alan dengan sedikit menyindir.
"Oh... Ini buat nenek to? Tak kirain mau kamu jual," ucap Nenek Hulim yang kemudian duduk di kursi samping brankar Nadia.
"Alan udah banyak punya uang, nggak perlu jual kursi yang ada di rumah sakit." ucap Alan dengan sinisnya.
Nenek Hulim tak menggubris ucapan Alan itu. Ia menatap dalam mata Nadia yang menyiratkan kesedihan. Apalagi keluarganya tengah dalam kondisi kacau seperti ini.
"Ikut nenek ke luar negeri yuk. Kita buktikan kalau anak berandalan kaya Alan ini bisa sukses dengan caranya sendiri," ajak Nenek Hulim tiba-tiba membuat rasa terkejut dan bimbang menjadi satu dalam pandangan Nadia.
__ADS_1