
"Bunda, Papa..." seru Arnold dengan mata yang berkaca-kaca.
Akhirnya setelah beberapa lama mereka tak berkumpul bersama, Nadia dan Andre hadir dengan lengkap untuk membantu ketiga anaknya yang lain. Mereka kini akan membantu anak-anaknya menyelesaikan masalahnya. Andre yang kemarin siang dihubungi oleh Papa Nilam dan Nadia pun memutuskan untuk kembali ke negaranya.
Ia tentu takkan membiarkan anaknya dalam bahaya. Ia juga tak tega dengan istrinya yang harus mengurus anak-anaknya sendirian. Untuk kondisi kedua orangtuanya, belum ada peningkatan yang lebih lanjut. Bahkan kondisinya masih belum stabil dan naik turun. Walaupun berat hati meninggalkan kedua orangtuanya di negara orang, namun Andre harus bisa menyelamatkan keluarga kecilnya.
"Maafkan Andre yang harus meninggalkan kalian sementara waktu. Andre harus menyelamatkan anak-anak dulu, nanti aku pasti akan kembali lagi ke sini. Do'akan Andre dan yang lainnya ya," bisik Andre tepat pada telinga mamanya.
Andre berulangkali menghela nafasnya saat meninggalkan kedua orangtuanya. Ia menyewa dua orang perawat khusus untuk menjaga orangtuanya itu agar saat dirinya tak ada, mereja bisa lebih intens memperhatikan kondisi Mama Anisa dan Papa Reza.
Andre dan Nadia langsung saja melebarkan kedua tangannya untuk bersiap memeluk ketiga anaknya. Arnold masuk dalam pelukan Nadia, sedangkan Anara memeluk Andre. Alan sendiri hanya melihat pemandangan itu dengan geleng-geleng kepala.
"Angan manda. Yom tita celecaikan bulu macalah ini. Talo cudah celecai cemuana, tita balu pelut-pelutan," ucap Alan melerai pelukan saudara dengan orangtuanya itu.
__ADS_1
"Astaga... Memangnya kamu tidak rindu dengan papa. Beberapa hari lho nggak ketemu, kok Alan nggak kangen sih sama papa. Papa sedih nih," ucap Andre bersandiwara dengan berpura-pura bersedih.
"Ating papa delek. Ndak cocok dadi aktol. Ayo buluan, Alan dah datal nih tananna ingin tubit olang-olang yang bitin Kak Bel macuk lumah cakit," ajak Alan yang langsung berjalan lebih dahulu.
Padahal Alan tadi sangat bersemangat saat melihat mobil keluarganya. Apalagi saat melihat kedua orangtuanya turun dari mobil. Namun dalam pikiran Alan saat ini, bukan waktunya untuk kangen-kangenan. Mereka ke sini untuk membereskan masalah yang ada, bukan malah peluk-pelukan.
Akhirnya Alan lebih memilih tak memeluk kedua orangtuanya walaupun ia sangat rindu dengan mereka. Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini kemudian nanti dipuas-puaskan untuk melepas rindu dengan mereka. Akhirnya mereka segera saja pergi dari area parkiran dan menyetujui ucapan dari Alan.
"Lho... Ada apa Pak Andre datang kemari?" tanya salah satu orang guru yang berpapasan dengan mereka.
"Kami ingin bertemu dengan kepala sekolah. Bisakah kami menemuinya? Ada yang ingin kami bicarakan," ucap Andre dengan sopan.
Walaupun sebenarnya Andre sedikit kesal karena harus menjawab pertanyaan tak penting ini. Seharusnya beberapa guru sudah tahu mengenai kasus yang menimpa anaknya dan pasti kedatangannya ke sekolah tak jauh-jauh dari situ. Namun dengan percaya dirinya malah membuat semua seolah baik-baik saja.
__ADS_1
Pantas saja anaknya langsung memilih bergerak cepat. Walaupun ini nanti berkaitan dengan reputasi instansi, tak seharusnya mereka bersikap seolah baik-baik saja. Guru itu pun menganggukkan kepalanya mengerti dan langsung membawa mereka ke ruang kepala sekolah.
"Silahkan masuk. Beliau ada di dalam," ucap guru itu mempersilahkan.
Andre menganggukkan kepalanya kemudian masuk dalam ruangan kepala sekolah. Diikuti oleh Alan, Arnold, Anara, Papa Nilam, dan Nadia. Bahkan Alan dengan segera langsung saja duduk di kursi khusus tamu sebelum dipersilahkan. Namun ada yang membuat mereka terkejut, pasalnya ada beberapa orang guru juga di sana.
"Napa liat-liat Alan?" tanya Alan memasang wajah galaknya.
Pasalnya orang-orang yang ada di dalam ruangan itu ternyata berada di rekaman CCTV. Entah ada maksud apa mereka berada di ruang kepala sekolah ini. Ingin melakukan intimidasi pada kepala sekolah atau mereka bekerjasama, hal ini membuat mereka harus waspada.
Semua mata masih mengarah pada orang-orang yang duduk di ruang tamu. Tatapan menelisik terus Alan layangkan, begitu juga dengan yang lain. Alan bahkan melihat gerak-gerik orang-orang di hadapannya ini. Namun tiba-tiba saja, saat semua orang sedang fokus ternyata ada beberapa orang yang memasuki ruang kepala sekolah dengan tergesa-gesa.
Brakk....
__ADS_1