Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Kesal


__ADS_3

"Ya gimana dong? Kakak cuma bawa uang ini. Lagian biasanya kamu kan selalu bawa uang di kantong seragam sekolahmu itu. Coba cek itu di kantongnya," ucap Anara yang kesal karena disudutkan oleh Alan.


Alan yang mendengar ucapan dari kakaknya itu juga malah kesal. Ia sampai mengeluarkan saku dalam kantong baju dan celananya. Memang benar adanya kalau Alan tidak membawa uang sama sekali. Namun Anara tetap ngeyel saja karena tak percaya dengan Alan.


"Nih ndak ada. Calahna Kak Nala yang main dendong Alan. Kesal Alan sama Kak Nala, untung di cini ndak ada wewek antik." ucap Alan dengan bibirnya yang mengerucut sambil melihat kearah sekitarnya.


Karena kasihan melihat keduanya, akhirnya Ridho pun memilih untuk mendekati mereka. Anara yang melihat Ridho berjalan kearah keduanya pun sontak saja memekik kegirangan. Ia seakan sedang mendapatkan durian runtuh karena adanya Ridho di sini.


"Paman Ridho... Sini," seru Anara membuat Alan juga ikut mengalihkan pandangannya.


Ridho yang wajahnya songong dan seperti meledek Alan yang tak punya uang untuk jajan itu langsung membuat bocah kecil itu kesal. Biasanya Alan yang selalu meledek Ridho tak punya uang, namun kini malah dirinya yang ada di posisi itu. Ia yakin kalau nanti pasti Ridho akan meledeknya habis-habisan.


"Ada apa, Nona Anara?" tanya Ridho seperti pura-pura tidak tahu.


"Ndak ucah cok ndak tau. Alan tau talo sedali tadi Paman Lidho ada di cini tan? Cenang ya talo liat Alan kecucahan dini," ucap Alan yang langsung memprotes Ridho.


Ridho menganga tak percaya kalau Alan mengetahui dirinya yang berada di kantin dan mengamati keduanya. Pasalnya tadi ia hanya pamit akan pergi mencari makan saja tanpa memberitahu dimana tempatnya. Namun baru saja ia mendekat kearah keduanya, ternyata Alan sudah mengetahui keberadaannya.


"Enggak lho. Paman Ridho nggak tahu apa-apa ini tentang kalian yang lagi kesusahan. Suerrr..." ucap Ridho dengan mengacungkan dua jarinya ke atas.


"Ohong mulu. Antas caja domblo, mana ada wewek yang mau tama wowok tutang ohong." ucap Alan.


Ridho hanya bisa mengelus dadanya sabar karena merasa ternistakan oleh Alan. Sungguh ucapan Alan itu begitu menusuk relung hatinya. Padahal ia jomblo sampai sekarang bukan karena apa yang diucapkan oleh Alan itu. Namun ucapan pedas Alan itu membuatnya langsung berpikir.

__ADS_1


"Sabar... Sabar..." ucap Ridho sambil menggelengkan kepalanya.


"Ndak ucah nomong cabal mulu. Cepat bayalin tita cemilan itu," ucap Alan sambil menunjuk beberapa makanan ringan dan minuman.


Seorang pelayan mendekat kemudian mengambilkan beberapa makanan ringan dan minuman kemasan yang ditunjuk oleh Alan. Bahkan Alan tak peduli saat melihat tatapan tajam yang dilayangkan oleh Ridho. Lebih tepatnya bukan tatapan tajam, namun pandangan protesnya.


Tentu saja Ridho protes dengan apa yang diinginkan oleh Alan dan Anara itu. Keduanya menunjuk hampir semua jajanan hingga membuat Ridho mengelus saku celananya. Ia seakan tak rela kalau uangnya harus keluar banyak karena membelikan keduanya makanan.


"Kok banyak sekali, nona?" tanya Ridho saat melihat banyak tumpukan cemilan di keranjang belanja.


"Ndak ucah plotes. Nanti bial atu danti wuwangna, paman enang caja. Wuwang Alan banak. Talo wuwang Alan ntal ndak tukup, utang dulu atuna." ucap Alan dengan santainya.


Ridho pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu. Setelah membayar semua jajanan yang dibeli oleh Alan dan Anara, Ridho membawa dua kantong plastik besar pada kedua tangannya.


"Kamu nggak mau bantu Paman Ridho bawakan jajanan kalian sendiri?" tanya Ridho pada keduanya yang dengan santainya berjalan di depannya dengan bergandengan tangan.


"Paman ndak liat? Tanan Alan tecil, mana bica bawa matanan seditu banak." ucap Alan memberi alasan.


Anara pun juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Alan. Ia ikut-ikutan tak mempedulikan Ridho yang membawa belanjaan mereka. Ridho hanya bisa mendengus kesal dengan alasan yang diberikan oleh Alan itu. Padahal mereka bisa membantu membawa beberapa cemilan yang kecil.


"Sudah, Paman Ridho. Terima nasib saja. Lagian itung-itung ini olahraga tangan lho," ucap Anara dengan memperlihatkan raut wajah menyebalkannya.


Ridho hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua majikannya yang begitu menyebalkan. Dulunya hanya Alan yang menyebalkan, namun sekarang malah bertambah. Tak berapa lama ketiganya berjalan, mereka sampai juga di ruang rawat inap Abel.

__ADS_1


"Hello eplibodi... Alan batang engan bawa cemilan banak lho. Alan ini yang bayal dan beli," seru Alan yang kemudian berlari menuju dekat brankar milik Abel.


Arnold dan Abel yang tadinya sedang berbincang pun langsung mengalihkan pandangannya. Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang begitu antusias itu. Bahkan wajah Ridho yang baru saja datang seperti tengah tertekan.


"Ini yang bayar itu saya, tuan. Anda kan hanya tinggal menunjuk saja," sela Ridho yang tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu.


"Halah... Cama caja. Ntal wuwangna juda Alan danti. Inat ya, Alan nih puna wuwang cegunung. Ndak atan habis talo cuma buwat beli jajan," ucap Alan dengan wajah seriusnya.


Ridho hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja. Pasalnya kalau berdebat dengan Alan itu selalu saja membuatnya kalah. Ia malas menanggapi protesan atau perdebatan dengan Alan karena pasti bocah kecil itu tak mau mengalah. Apalagi Alan yang selalu ingin terlihat benar.


"Alan, cepat kasih uangnya ke Paman Ridho. Uang kamu yang di tas itu," ucap Arnold memberi perintah pada adiknya.


"Iya-iya," kesal Alan saat melihat kakaknya malah tak membelanya sama sekali.


Alan berjalan sambil menggerutu pelan kemudian mengambil tas sekolahnya. Alan segera mencari uang sakunya untuk diberikan kepada Ridho. Setelah menemukannya, Alan seakan tak ikhlas kalau uangnya ini diberikan pada Ridho. Alan menatap sendu kearah uang yang ada di telapak tangannya itu.


"Nih... Yunas ya," ucap Alan yang langsung meletakkan uang yang dibawanya pada telapak tangan Ridho.


Ridho yang melihatnya tersenyum lega. Namun saat melihat dan menghitung jumlah uang yang ada di telapak tangannya, Ridho langsung meluruhkan bahunya lesu. Sedangkan Alan tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menjahili Ridho.


"Ini totalnya lebih dari 100 ribu, adek Alan. Kenapa kamu kasihnya uang 2 ribu?" kesal Ridho sambil mengacak rambutnya frustasi.


Hahaha...

__ADS_1


Alan yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak. Alan memang tak mempunyai uang karena yang diberikan oleh orangtuanya selalu dimasukkan dalam celengannya. Arnold yang melihat tingkah adiknya itu hanya bisa mengelus dadanya sabar.


__ADS_2