Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Aksi Alan


__ADS_3

Alan dan Frank masih berada di ruangan administrasi sambil terus mengawasi gerak-gerik semua petugas yang terlihat kelabakan. Bahkan Arnold dan Fikri pun duduk di sana sambil mengamati semuanya. Mereka juga ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sekolah ini. Walaupun tujuannya adalah untuk mengungkap kejadian dibalik kecelakaan Abel.


"Tok lama mamat cih. Butanna talo lapolan itu cudah di wuwat ya? Tinggal cali dan selahkan caja," ucap Alan sambil berpikir.


"Mungkin laporannya belum dibuat, makanya mereka sekarang kelimpungan untuk mencarinya," ucap Arnod menimpali.


"Sungguh pemikiran yang cerdas" ucap Frank begitu bangga dengan keduanya.


Analisa keduanya mengenai apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sini tentunya membuat Frank bangga dan kagum. Anak sesusia mereka memiliki analisa yang begitu baik dengan kalimat yang begitu sederhana. Frank yakin kalau saat dewasa nanti, keduanya bisa menjadi pemimpin yang baik hingga bisa memajukan usahanya jika berkolaborasi.


Fikri sedari tadi hanya diam melihat semuanya. Namun dalam hatinya juga ia memuji akan Arnold dan Alan yang begitu cerdik. Sedangkan beberapa petugas admistrasi yang sudah ditunggu oleh beberapa orang di sana malah semakin panik. Sedari tadi mereka melirik kearah beberapa orang penting dalam ruangan ini dengan wajah yang sama-sama panik. Mereka benar-benar merasa tertohok dengan apa yang diucapkan oleh Arnold dan Alan itu.


"Kalian bisa cepat tidak!" sentak Frank tiba-tiba.


Alan, Arnold, dan Fikri yang berada di samping laki-laki itu tentunya tersentak kaget dengan sentakan dari Frank. Namun tak lama, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala dan terkekeh geli apalagi melihat semua orang yang ada di sana terkejut hingga bertambah panik.


Frank memberi kode pada bodyguard yang lain untuk memeriksanya. Para bodyguard segera memeriksa apa yang mereka lakukan hingga begitu lama dengan apa yang dikerjakannya. Tentunya hal ini membuat Frank curiga karena bisa saja kalau mereka ingin memanipulasi atau membohongi Nenek Hulim.


Beberapa bodyguard langsung meraih beberapa laporan yang ada di sana. Bahkan beberapa file mereka temukan berada di dalam komputer setelah diperiksa semuanya. Semuanya tak luput dari pemeriksaan karena tak ingin sampai kecolongan. Terlebih mereka begitu lelet seakan tengah merencanakan sesuatu hal yang jahat.


"Sudah semua, tuan." ucap salah satu bodyguard memberi laporan.

__ADS_1


"Nah... Ni cepat lho, dahal meleka butan ugas administlasi. Talian mau dahatin nenek ya?" tuduh Alan tiba-tiba setelah bodyguard Nenek Hulim menyelesaikan tugasnya.


Tentunya mereka semua gelagapan dengan apa yang dituduhkan oleh Alan itu. Mereka tadi berencana untuk menyembunyikan beberapa hal, namun waktu yang begitu singkat dan begitu tertekan karena tatapan tajam yang dilayangkan oleh beberapa orang di sana membuat semuanya panik. Mereka jadi tak bisa berkonsentrasi hingga semua file yang seharusnya disembunyikan itu malah dengan mudah didapatkan.


Mereka kini hanya bisa pasrah melihat semua orang suruhan Nenek Hulim itu pergi dari ruangan ini tanpa pamit. Mereka hanya tinggal menunggu sesuatu hal yang tak terduga itu datang akibat kecerobohan semuanya.


***


Kei memeluk Frank dengan erat karena merasakan sesuatu yang tidak enak. Entah akan ada kejadian apa, namun ia merasa kalau ada sesuatu yang bakal terjadi. Bukan kejadian baik namun buruk membuatnya sedikit gelisah. Arnold juga merasakan hal itu membuatnya sedikit tak yakin dengan pengungkapan kasus ini.


"Kamu kenapa?" tanya Fikri yang melihat Arnold terlihat sedikit gelisah.


"Ndak tahu. Kok kaya ada sesuatu yang bakalan terjadi ya," jawab Arnold sambil menggelengkan kepalanya.


"Paman, tolong siapkan beberapa polisi yang dibawa. Suruh mereka bersiap-siap karena mungkin saja akan ada perlawanan dari beberapa pelaku," bisik Fikri pada Papa Nilam.


Papa Nilam menganggukkan kepalanya kemudian menghubungi beberapa anggota kepolisian yang dibawanya. Tentu saja mereka segera bersiap-siap mengepung sekolah ini dan ada beberapa yang masuk dalam gedung. Walaupun tak tahu kalau nantinya akan terjadi sesuatu, namun ini hanya untuk jaga-jaga saja.


***


"Tuh cudah temukan cemua ukti talo meleka cemuana ahat. Ayo papa dan unda, tita bongkal cemuana," seru Alan saat masuk dalam ruang kepala sekolah.

__ADS_1


Mereka semua yang ada dalam ruang kepala sekolah itu sangat terkejut dengan seruan Alan. Bahkan kini Alan menatap semua oknum guru pengganti itu dengan tatapan tajamnya. Ia tadi sempat melihat kearah ponsel Frank yang menampilkan sebuah CCTV saat kejadian Abel terluka.


Ternyata CCTV di sana tidak rusak, hanya saja ada beberapa oknum yang memang langsung mengambil rekamannya. Semuanya disetel seperti CCTV mati sehingga tak ada yang mengetahuinya. Oknum itu juga sudah ada dalam genggaman Frank. Ia tadi tak sengaja membuka ponselnya yang terlihat oleh Alan membuat bocah kecil itu penasaran.


"Maksud kamu apa, Alan?" tanya Andre dengan pandangan bertanya.


"Om, tolong tacihtan pidio TV itu cama papa atu. Bial meleta hajal oleh papa atu. Talo macalah ugas administlasi yang lelet, Alan ndak peduli. Yang enting, Alan cudah tau ciapa yang dah wuwat Kak Abel teluka," ucap Alan dengan menggebu-gebu.


Mereka semua yang ada di dalam ruangan itu tentunya terkejut kecuali Nenek Hulim. Nenek Hulim pun bersikap santai saja karena ia sebenarnya sudah tahu siapa orangnya. Memang sedikit asing, pasalnya ia tak mengenalnya. Ternyata memang oknum-oknum orang magang ini yang dengan sengaja melakukan perbuatan tak terpuji itu.


Entah apa maksud dan tujuannya, namun merekalah yang memang terbukti melakukan kejahatan. Bahkan Alan sudah menatap tajam kearah orang-orang yang ada di sana terutama beberapa oknum itu. Mereka merasa sedikit tersudutkan terlebih memang benar adanya kalau oknum itu yang melakukannya.


Andre langsung mendekat kearah Frank sambil menengadahkan tangannya. Frank yang paham dengan apa yang diminta Andre pun langsung menyerahkan ponselnya. Andre langsung melihat beberapa video di sana dengan memandang orang yang berwajah seperti pelakunya.


"Sialan..." desis Andre yang wajahnya langsung memerah karena emosi.


Andre segera saja berlari menuju kearah orang yang memukul bagian kepala Abel dengan sebatang kayu balok. Sungguh dirinya kesal dan emosi karena anaknya diperlakukan seperti itu. Andre langsung saja mencengkeram erat kerah baju yang digunakan oleh pelaku itu.


Beberapa oknum orang yang magang itu tentunya tak terima kalau rekannya diperlakukan seperti itu. Mereka ingin membantu dan mengeroyok Andre, namun tiba-tiba saja...


Bugh...

__ADS_1


Unda...


Bunda...


__ADS_2