
"Stt... Abang, cini deh tita lapat dulu cebelum bobok," ucap Alan dengan sedikit berbisik.
Kini Alan sedang berada di kamar dengan Arnold yang berbaring di sampingnya. Arnold yang tadinya sudah ingin tidur pun langsung membuka matanya kembali. Ia menatap Alan yang matanya masih bersinar cerah dan belum mengantuk sama sekali.
Tadi ia sudah mendengar tentang Alan yang membolos sekolah dari Ridho. Bahkan Ridho menunjukkan sebuah video tentang kebaikan Alan di rumah sakit. Arnold yang awalnya akan memarahi Alan saat sampai rumah, alhasil mengurungkan niatnya.
"Ini sudah malam, Alan. Tidurlah dan jangan menggangguku," ucap Arnold yang kesal dengan adiknya yang sangat aktif itu.
"Ni pentin lho, demi maca depan tita cemua. Ayo angun dulu, abang." rengeknya.
Arnold hanya bisa menghela nafasnya pasrah dengan tingkah Alan ini. Arnold pun langsung membuka matanya dan duduk di samping Alan yang masih berbaring. Melihat abangnya duduk, Alan segera mengubah posisinya sambil menampilkan cengirannya.
"Sudah buruan. Ini sudah malam, kalau bunda tahu kita belum tidur jam segini bisa-bisa nanti kita diomelin." ucap Arnold.
Arnold sudah mengantuk berat. Namun mata Alan masih terlihat berbinar cerah. Entah terbuat dari apa mata Alan itu sehingga jam-jam malam segini masih menyala terang matanya. Arnold menatap Alan yang menampilkan senyum misteriusnya.
"Ndak batal diomelin talo abang nomongna ndak telas-telas tayak toa," ucap Alan.
Benar saja, Arnold malas sekali menghadapi adiknya yang kelewat pintar kalau sudah berdebat dengan orang ini. Arnold pun segera saja ingin kembali berbaring di atas kasur karena malas mendengar ocehan adiknya. Namun Alan langsung menahan lengan tangan abangnya agar tak berbaring.
"Bental dulu, abang. Ini Alan celius lho, demi maca depan tita cemua." ucap Alan yang menampilkan wajah seriusnya.
"Iya, apa Alan? Ayo dong buruan. Abang udah ngantuk, besok pagi harus sekolah lho ini." ucap Arnold yang langsung kembali menyandarkan tubuhnya pada papan ranjang.
__ADS_1
"Bolos caja napa cih, ndak ucah telalu lajin." ucap Alan memberikan ide yang cemerlang.
Arnold langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas. Bahkan Alan langsung menatap adiknya itu dengan tajam. Tak boleh baginya untuk terpengaruh oleh ajaran sesat Alan ini. Namun Alan masih santai saja menghadapi tatapan tajam dari Arnold.
"Baitlah, dadi dini. Alan tuh ingin temu nenek dan akek di lual negeli. Alan ingin nucul meleta di lual negeli. Api Alan binun dimana calana," ucap Alan mengutarakan keresahannya.
Arnold yang mendengar ucapan dari adiknya itu hanya bisa menganga tak percaya. Pasalnya untuk ke sana itu sangat susah. Apalagi untuk anak kecil yang akan naik pesawat, tentunya harus didampingi oleh wali atau orangtuanya.
"Nggak usah ke sana. Susah kalau anak-anak pergi tanpa orang dewasa. Lagian kamu kenapa mau ke luar negeri segala? Kamu kan tahu kalau Kak Abel lagi butuh kita." ucap Arnold sambil mengelus lembut rambut adiknya itu.
Posisi Alan yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Arnold dengan manja pun membuat abangnya mudah mengelus rambutnya. Alan yang manja seperti ini tentu sangat berbeda dengan ucapannya yang begitu pedas.
"Api nenek dan akek duga utuh tita lho, abang. Pati nenek dan akek ni tangen cama tita, telus nanti meleta unggu tuta denguk. Ayo abang, tita denguk meleta. Tita minta ijin cama papa dan unda," ucap Alan dengan tatapan permohonannya.
Arnold terdiam mendengar ide yang disampaikan oleh adiknya itu. Ia juga rindu dengan kakek dan neneknya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya mereka masihlah anak kecil yang belum bisa kalau harus ke luar negeri sendirian. Apalagi meminta ijin pada kedua orangtuanya yang kondisi pikirannya sedang terbagi.
"Untuk sementara ini, jangan bikin papa dan bunda banyak pikiran dulu dengan ide kamu. Abang juga rindu dengan mereka, kita bisa mendo'akan keduanya dari jauh. Do'a sama Allah biar nenek dan kakek cepat sadar juga kembali ke sini," ucap Arnold memberi nasihat pada adiknya.
Alan mendengus kesal mendengar pesan yang diucapkan oleh abangnya itu. Ia ingin sekali untuk melihat secara langsung keadaan nenek dan kakeknya. Tanpa mengucapkan apapun, Alan langsung turun dari atas kasurnya kemudian berjalan kearah pojok kamarnya.
Alan mengambil sebuah benda yang ia simpan di pojok kamar dekat dengan meja belajarnya. Ternyata Alan mengambil celengannya yang kemudian membawanya di atas kasur. Arnold yang melihat itu hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung.
"Buat apa itu celengan?" tanya Arnold.
__ADS_1
"Buwat beli titet wawat. Talo abang ndak mawu temani Alan pelgi ke lual negli, atu batalan peldi cendilian," ucap Alan yang kekeh dengan idenya itu.
Arnold hanya bisa menghela nafasnya lelah mendengar adiknya yang begitu keras kepala. Sedangkan kini Alan malah dengan santainya membuka celengannya menggunakan sebuah kunci. Alan dengan asyik menghitung semua uangnya yang sebenarnya bocah cilik itu tak terlalu bisa.
"Alan, jangan keras kepala gitu. Memangnya kamu bisa caranya beli tiket pesawat? Terus kamu perginya mau sama siapa. Bisa-bisa diculik dan nggak pulang ke sini lho kamu," ucap Arnold yang menakut-nakuti adiknya itu.
"Alan puna celibu cala bial anti bica denguk nenek dan akek. Ada Nenek Ulim yang bica antu, telus Paman Plank duga." ucap Alan santai.
Alan baru ingat kalau Nenek Hulim kini tengah berada di luar negeri untuk menjenguk Mama Anisa dan Papa Reza. Ia juga ingat dengan asisten Nenek Hulim, Paman Frank yang bisa dihubunginya. Alan segera turun dari kasur kemudian mengambil sebuah buku kecil dan membawanya kearah Arnold.
"Abang, tepon Paman Plank. Ilang cama dia talo Alan utuh bantuan," ucap Alan.
Ternyata di dalam buku kecil itu ada contact nomor ponsel Frank. Entah bagaimana Alan mendapatkan nomor ponsel asisten dari Nenek Hulim itu. Arnold pun mengambil ponselnya kemudian mencoba menghubungi Frank. Setelah beberapa kali mencoba, tetap tak ada jawaban dari seberang sana.
"Nggak diangkat, dek." ucap Arnold sambil mengedikkan bahunya.
"Woh... Wawas caja tuh Paman Plank. Talo temu Alan batalan atu endang tatina talna ndak bica ditepon," kesalnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sabar, orang sabar di sayang semua orang." ucap Arnold sambil tersenyum.
"Dih... Olang cabal cuka dicepelekan matana atu ndak mau dadi olang cabal," ucap Alan.
Arnold hanya bisa menganga tak percaya dengan ucapan adiknya itu. Entah darimana adiknya itu mendengar kata-kata seperti itu. Arnold langsung membantu merapikan uang yang berceceran di atas kasur kemudian mengajak adiknya tidur. Ia sudah berjanji pada Alan kalau akan menghubungi Frank keesokan harinya.
__ADS_1