Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Kenapa?


__ADS_3

"Kenapa harus ingat sama laki-laki itu? Dia memang orangtuaku, tapi dia juga durhaka sama anaknya. Aku tak mungkin seperti ini jika tak ada anda, tapi kenapa kau tak menganggapku ada?" seru Alan setelah memukul batang pohon besar yang ada di halaman belakang rumah.


Punggung tangan Alan sampai berdarah karena memukul batang pohon itu. Alan menghela nafasnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi. Ia tak menyangka kalau ucapan Nenek Hulim itu benar-benar menohok hatinya.


Alan kini langsung terduduk di depan pohon dengan memeluk lututnya sendiri. Terdengar isakan tangis keluar dari bibir Alan. Tangisan pilu terdengar membuat siapapun yang mendengarnya akan teriris.


"Alan hanya ingin bahagia. Kenapa sekarang jadi posisinya Alan yang jadi anak durhaka? Bukankah ada juga orangtua yang durhaka sama anaknya?" gumam Alan di sela isakannya.


Tak ada seorang pun di halaman belakang rumah itu membuat Alan berani mengungkapkan perasaannya. Bahkan ia berani berteriak dan memukul batang pohon. Kalau sampai Nadia tahu, pasti dia akan sangat khawatir mengenai keadaan Alan.


***


"Selamat, Pak Andre. Anda dinyatakan bebas dan kami minta jangan ulangi kesalahan anda itu" ucap salah satu polisi yang langsung menjemput Andre di balik jeruji besi.


Andre yang tadinya sedang berbincang dengan para narapidana lainnya pun langsung mengalihkan pandangannya. Andre mengernyitkan dahinya heran, mendengar apa yang diucapkan oleh polisi itu. Pasalnya sangat susah bagi dirinya keluar dan bebas secepat ini.


"Siapa yang membebaskan saya, pak? Bukannya saya disuruh menunggu sampai 40 hari ke depan dulu?" tanya Andre dengan penasaran.


"Orangnya ada di ruang administrasi. Silahkan anda menemuinya jika ingin tahu" ucap polisi itu setelah membuka pintu jeruji besi.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti. Andre segera berpamitan pada narapidana lainnya. Merekalah yang selama ini bersamanya bahkan mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan mereka yang menenangkannya saat gundah karena rindu keluarga.


Andre segera berjalan mengikuti polisi yang tadi membukakan pintunya. Andre sangat penasaran dengan siapa orang yang telah membebaskannya itu. Saat memasuki ruangan itu, terlihat seorang laki-laki yang sepertinya seorang remaja seumuran Arnold duduk membelakangi pintu.


"Terimakasih sudah membebaskan saya. Siapa anda?" tanya Andre yang kemudian berjalan kearah orang yang masih membelakanginya itu.


"Apa om tak mengenalku?" tanya pemuda itu kemudian membuka topi hoodienya.

__ADS_1


Andre memelototkan matanya tak percaya mendengar suara yang dulu pernah berada di rumahnya. Namun semenjak 5 tahun terakhir, pemuda itu memilih keluar dari rumah dan belajar di luar negeri karena mendapatkan beasiswa. Tak menyangka kalau pemuda itu kembali dengan wajah yang lebih dewasa.


Bahkan terlihat kalau penampilannya seperti pemuda yang gaul. Bahkan pakaiannya juga dari brand yang terkenal. Dia adalah Rivan, teman satu sekolah Arnold dulu waktu SD. Bahkan yang sempat tinggal dengan keluarga Andre dan ibunya menjadi ART di sana.


"Astaga... Rivan, apa kabar kamu?" tanya Andre yang langsung memeluk pemuda itu sekilas.


"Baik, om. Tapi sepertinya kabar tak baik sedang menyertai keluarga om," ucap Rivan dengan senyum tipisnya.


Andre hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Rivan itu. Jadi apa sekarang anak di depannya ini kok bisa mengeluarkan dia dari penjara. Ia sangat penasaran dengan pemuda yang adiknya diklaim Alan sebagai saudaranya itu.


"Ya begitulah. Bagaimana kabar Opal?" tanya Andre.


"Baik. Dia sekarang sudah menginjak sekolah dasar," jawab Rivan.


Selain Rivan, Naufal dan ibunya juga turut serta dibawa oleh laki-laki itu. Bahkan mereka hanya mengandalkan sisa gaji dan uang pesangon yang diberikan oleh keluarga Andre untuk bertahan hidup di negara orang.


"Baguslah jika semua baik-baik saja. Ayo kita pulang, om ingin mandi." ucap Andre.


"Nggak ada motor lain? Motor bebek gitu?" tanya Andre.


"Ya elah, yang mau naik motor sport ini juga siapa sih, om? Ini kan bukan motornya Rivan," ucap Rivan sambil terkekeh pelan.


"Lah... Terus kita pulangnya naik apa?" tanya Andre dengan bingung.


"Ini..." tunjuk Rivan pada sepeda ontel yang ada di sebelah motor sport itu.


Andre menepuk dahinya pelan melihat apa yang ditunjuk oleh Rivan. Ia pikir Rivan akan mengendarai motor sport, ternyata sepeda ontel. Kalau begini, lebih baik Andre memesan taksi saja dibandingkan dibonceng seperti ini.

__ADS_1


"Astaga... Sepeda itu tempat parkirnya bukan di sini. Itu ada tempat khusus tuh," ucap Andre menunjuk kearah tempat parkir khusus sepeda.


"Di sana panas. Makanya pindah ke sini, sama ajalah." ucap Rivan dengan acuh.


Andre tak menyangka kalau Rivan yang sekarang sudah sama menyebalkannya dengan Alan. Bahkan berucap saja ceplas ceplos. Suka berbuat sesuka hatinya yang penting dirinya sendiri nyaman.


"Terserahlah, dah mirip Alan saja kamu itu tingkahnya." ucap Andre yang kemudian duduk di boncengan belakang.


"Cieee... Kangen ya pasti sama Alan. Kok ingat Alan terus sih? Makanya anak itu disayang dan dikasih perhatian. Bukan malah dikasih tamparan," sindir Rivan.


Andre begitu tertohok dengan ucapan Rivan itu. Bahkan ia langsung melihat kearah telapak tangannya yang digunakan untuk menampar Alan waktu itu. Rasa bersalah dan sesak mulai masuk dalam dadanya saat mendengar kalimat pedas itu.


Rivan hanya mengedikkan bahunya acuh melihat keterdiaman Andre itu. Biar Andre sadar kalau apa yang dilakukannya itu salah. Rivan mengayuh sepedanya dengan santai walaupun beban boncengan belakangnya itu sangat berat.


Butuh waktu satu jam untuk mereka sampai di rumah sakit. Bukannya dibawa ke rumah namun Rivan malah membawanya ke rumah sakit. Tentu saja karena jarak kantor polisi dengan rumah sakit jauh lebih dekat.


"Menyebalkan sekali. Ngapain bawa ke rumah sakit sih? Saya belum mandi," ucap Andre menggerutu sebal.


"Masih mending saya kasih tumpangan sampai sini. Mana gratis pula," ucap Rivan dengan sedikit pedas.


"Nih saya bayar, ayo antar ke rumah dulu. Saya mau mandi dan ambil mobil," ucap Andre yang kemudian menaiki boncengan belakang sepeda.


"Malas ah, om. Capek Rivan ini," ucap Rivan menolak.


Rivan juga langsung turun dari sepedanya dan membawanya ke parkiran. Bahkan Andre masih berada di boncengan itu bak anak kecil yang tak mau turun. Hal itu membuat beberapa pasang mata yang melihatnta hanya bisa menahan tawanya.


"Gimana sih, Rivan? Masa iya om belum mandi," ucap Andre kesal.

__ADS_1


"Temui dulu anaknya yang sakit, baru pulang mandi. Anak lebih penting daripada mandi," ucap Rivan dengan ketus.


Rivan segera memasuki area rumah sakit dengan santai. Andre yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal kemudian mengikuti pemuda itu. Andre masih penasaran dengan bagaimana cara pemuda di depannya ini membebaskan dirinya. Ia juga penasaran dengan alasan Rivan mau membebaskannya dari penjara.


__ADS_2