
"Opal... Pulang," seru Alan dari pintu depan rumah Rivan.
Alan tentunya tak mau kalau harus susah-susah berjalan keluar pagar rumah hanya untuk memanggil Nauval. Bocah cilik yang masih menduduki jenjang pendidikan sekolah dasar itu bermain di tetangga sebelah rumahnya. Tanpa tahu dengan kehadiran Alan di rumahnya.
Mendengar suara yang sudah lama tak ia dengar, Nauval langsung saja keluar dari rumah tetangganya itu. Ia melihat kearah sekeliling rumah tetangganya yang sepi. Kemudian ia melihat kearah depan rumahnya. Di sana sudah ada Alan yang berkacak pinggang seperti ibu-ibu kost yang melihat penghuninya belum bayar uang kontrakan.
"Abang Alan..." seru Nauval sambil melambaikan tangannya dengan antusias.
"Buruan pulang. Calon presiden masa depan datang bertamu ke rumah ini lho. Masa ada tamu kehormatan malah nggak ada disambut," seru Alan.
Nauval pun segera pamit pada tetangganya dan buru-buru pulang ke rumahnya. Sedangkan Rivan dan ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Padahal mereka bisa bicara pelan, namun malah pada teriak-teriak.
Grepp...
Nauval langsung saja memeluk abangnya itu dengan sayang, begitu pula sebaliknya. Nauval sangat bahagia bisa bertemu dengan penyelamatnya. Lebih tepatnya seseorang yang membantu keluarganya bangkit dari kemiskinan.
"Kok abang baru datang jengukin Opal?" tanya Nauval setelah melepaskan pelukannya dari Alan.
"Salahin tuh kakak kamu. Pulang nggak kasih kabar, ya mana abang tahu." ucap Alan yang kini menatap sinis kearah Rivan.
"Salahin juga tuh abang kamu, Val. Dia baru aja pulang kabur dari kandangnya jadi mana bisa dihubungi," ucap Rivan yang tak mau kalah dari Alan.
"Dipikir Alan itu singa, punya kandang segala." gerutu Alan yang kesal dengan Rivan.
"Kalian ini kok malah ribut sih. Ayo masuk, kita makan siang dulu." ajak Ibu Rivan melerai perdebatan antara mereka.
Ibu Rivan pusing sendiri mendengar perdebatan itu. Apalagi keduanya sama-sama tak mau mengalah. Nauval justru senang karena rumahnya kini sangatlah ramai. Mereka segera masuk dalam rumah untuk makan siang bersama.
"Tempe, tahu, sayur soup, ayam, dan sambal. Habis dari luar negeri itu ya makannya pizza, burger, atau pasta begitu kek," ucap Alan dengan sedikit menyindir Rivan.
__ADS_1
"Udah numpang makan, ngeluh lagi. Astaga... Tamu tidak tahu diri," ucap Rivan sambil geleng-geleng kepala.
"Tamu adalah Raja. Jadi pelayan, jangan banyak protes." ucap Alan dengan santainya.
Ibu Rivan dan Nauval hanya bisa terkekeh pelan mendengar hal itu. Mereka tak tersinggung sama sekali dengan ucapan Alan itu. Alan memang niatnya hanya bercanda walaupun agak pedas juga sih bagi orang yang tak mengenalnya. Keempatnya makan dengan tenang hingga semua makanan di atas meja ludes.
"Tamu kehormatan ternyata doyan tempe juga, bu. Dia kayanya kelaparan sampai semua makanan di depannya habis," ucap Rivan dengan sedikit menyindir Alan.
"Tamu kehormatan juga butuh makanan untuk perutnya. Kalau lapar, nanti kasihan para fansnya yang bingung karena tamu kehormatan ini lemas." ucap Alan memberikan alasan.
Rivan gemas sekali dengan Alan ini yang begitu pintar kalau sudah membuat alasan. Rasanya Rivan ingin menggigit pipi Alan yang masih gembul seperti saat kecil. Wajahnya sama sekali tak cocok dengan tingkahnya yang sangar dan tidak bisa diam.
***
"Arnold..." seru Kenny melihat temannya memasuki area sekolah.
"Ken.." panggil Arnold pelan sambil tersenyum tipis.
"Gimana buat pelajaran hari ini? Ada kesusahan mengerjakan tugasnya?" tanya Kenny.
"Enggak kok. Mungkin hanya sedikit lama saja mengerjakannya," ucap Arnold.
Selama ini memang Arnold sedikit lambat dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Namun pihak sekolah dan teman-temannya memaklumi itu. Justru beberapa guru dan teman sekelasnya membantu Arnold dengan ikut pelan dalam mengerjakan tugas. Hal itu mereka lakukan agar Arnold tak merasa rendah diri.
"Nggak papa. Aku aja nih santai saja kalau ngerjain. Nggak usah cepat-cepat, lagian ngerjain soal matematika itu memang harus teliti." ucap Kenny menenangkan temannya itu.
"Makasih. Oh ya... Gimana untuk acara lomba cerdas cermat di sekolah ini? Kelas kita sudah ada pengganti aku? Nggak mungkin juga aku yang maju dalam kondisi seperti ini," tanya Arnold dengan tatapan bersalahnya.
"Belum. Yang paling cocok itu kamu, Nold. Lagian kamu kan hanya lama mengerjakannya. Tapi otak kamu tetap jalan saja kok," ucap Kenny.
__ADS_1
"Aku takut ngecewain kalian semua kalau kalah," ucap Arnold dengan senyum tipisnya.
Kennya hanya menepuk bahu temannya itu pelan. Pasti sangat berat bagi Arnold untuk melewati semua ini. Bahkan Arnold digadang-gadang akan jadi pemenang jika ikut lomba itu. Apalagi ini untuk memeriahkan acara ulangtahun sekolah.
"Biar dipikirkan sama wali kelas saja. Kita ngikutin aja," ucap Kenny membuat Arnold menganggukkan kepalanya.
Keduanya segera masuk dalam kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Arnold memilih diam seperti yang lain. Tak seperti dulu yang selalu bertanya atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Perubahan besar terjadi pada kelas itu.
***
"Abang Arnold yang tampan..." seru Alan sambil melambaikan tangannya kearah Arnold.
Setelah pulang dari rumah Rivan, Alan langsung kembali ke sekolah abangnya. Ia menjemput Arnold dengan sepedanya itu. Saat melihat adiknya, Arnold hanya bisa menepuk dahinya pelan. Padahal Arnold membawa sepeda motor namun malah ada Alan datang.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Arnold.
"Jemput abang dong, baik kan adek abang yang ganteng ini?" tanya Alan sambil menaikturunkan alisnya.
"Ganteng dari mananya coba? Lagian abang kan bawa kendaraan sendiri. Ngapain kamu jemput abang segala?" tanya Arnold sambil geleng-geleng kepala.
"Kita mau konvoi di jalanan, abang. Biar kaya anak-anak geng motor gitu lho," seru Alan dengan antusias.
"Nggak baik di jalanan konvoi begitu. Ganggu pengendara lainnya," ucap Arnold yang kemudian mengambil sepeda motornya.
"Ish... Abang nggak seru. Ayolah bang, kali ini aja. Lagian nih, Alan tuh udah pakai style anak motor lho ini. Lihat helm yang Alan bawa, ini punya abang kan memang cocok buat anak geng motor." ucap Alan dengan sedikit merengek.
"Style okelah. Jaket kulit, celana jeans, dan helm full face. Tapi lihat alas kaki dan kendaraan yang kamu pakai," ucap Arnold menunjuk kearah kaki Alan.
Mata Alan melotot saat melihat alas kaki yang digunakannya. Padahal saat keluar rumah, ia menggunakan sepatu miliknya. Namun saat ini ia hanya memakai sandal jepit yang warnanya beda sebelah. Entah darimana itu sandal yang digunakan oleh Alan.
__ADS_1