
"Alan kan pintar. Seingat Kak Bel, kamu kan selalu juara kalau ikut perlombaan atau cerdas cermat kaya gitu. Mana hadiah uangnya juga banyak, ya kan? Itu juga pernah Abel lihat kamu masuk TV," ucap Abel dengan polosnya.
"Salah orang, itu bukan Alan. Itu Alan yang lain. Kalau Alan masuk TV, pasti udah banyak yang kenal. Ini pada biasa saja," elak Alan yang kini malah menyembunyikan wajahnya pada ketiak Nadia.
Para orangtua hanya terdiam mendengar penuturan Abel itu. Ada sedikit rasa curiga pada benak mereka. Tak mungkin jika Abel ini berbohong, apalagi tatapan matanya tampak santai mengungkapkan semuanya. Nadia yang memang curiga saat diberi uang banyak oleh Alan, kini langsung bisa menyimpulkan. Bahwa uang yang diberikannya waktu itu adalah hasil kerja keras Alan.
"Alan, kamu ikut lomba atau juara gitu kok nggak bilang nenek? Kan nenek bisa jadi supporter paling depan dan bawa banner wajah kamu," ucap Mama Anisa yang tak terima jika tak diberitahu.
"Ndak ada, nek. Mungkin itu kembaran Alan yang ada di TV, Babang Jefri Nicol." ucap Alan dengan santainya.
"Kembaran dari mananya? Dilihat dari ujung sedotan aja nggak ada mirip-miripnya," ucap Mama Anisa dengan sedikit mendengus kesal.
Mereka terus saja melontarkan perdebatan hingga semua yang ada di sana tertawa. Apalagi Mama Anisa yang terus saja kalah dengan ucapan Alan hingga memberengut kesal. Alan yang melihat neneknya kesal pun langsung saja mendekat kearah Mama Anisa.
"Duh... Nenekku yang cantiknya nggak seberapa. Jangan ngambek dong, tambah jelek lho nanti. Aku tahu nih, nenek ngambek gini karena kangen sama Alan kan? Biasanya cewek kalau ngambekan gini tuh cuma pengen diperhatiin," ucap Alan.
Tujuan Alan yang membujuk neneknya itu justru malah membuat kesal Mama Anisa. Apalagi Alan malah mengejek wajahnya sudah tua dan keriput itu. Alhasil Mama Anisa malah mengapit leher Alan dengan pergelangan tangannya.
"Jadi orang sok tahu. Cucu macam apa ini? Datang-datang ngejek neneknya jelek. Siapa juga yang mau diperhatiin kamu? Atau jangan-jangan kamu yang butuh perhatian? Kan kalau nenek butuh perhatian ada kakekmu itu," ucap Mama Anisa sambil menciumi pipi cucunya.
"Astaga... Lepaskan kepala Alan ini, nek. Nanti kalau lepas dari lehernya, nakutin lho. Ini pipi Alan pasti juga dah banyak bekas gincu merah nenek itu," seru Alan dengan sedikit melepas paksa rangkulan neneknya.
Hahaha...
__ADS_1
Semuanya tertawa melihat wajah tertekan Alan. Apalagi dahi dan pipi Alan memang terkena lipstik merah yang digunakan oleh neneknya. Mama Anisa langsung melepaskan cucunya yang wajahnya sudah memerah dan hampir penuh lipstik itu.
"Mangkal di perempatan sana yuk, Lan." ajak Mama Anisa.
Alan bergidik ngeri dengan tingkah Mama Anisa itu kemudian memilih pergi menuju dapur. Ia juga akan membersihkan wajahnya yang ada banyak lipstiknya itu. Sedangkan yang lainnya hanya bisa tertawa melihat tingkah Alan.
"Alhamdulillah... Rumah jadi nggak sepi lagi karena cahayanya sudah kembali. Semoga kita akan terus bersama seperti ini," ucap Mama Anisa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Heem... Badutnya udah kembali lagi. Cahaya dan penghibur telah kembali," ucap Andre yang kemudian memeluk Nadia dan Abel.
Mama Anisa juga memeluk suaminya yang ada di sampingnya itu. Sedangkan Anara memeluk Arnold yang matanya juga berkaca-kaca. Alan yang melihat dari arah dapur saat akan kembali ke ruang keluarga pun tersenyum tipis menatap adegan itu.
"Alan memang bukan anak, cucu, dan adik yang sempurna. Namun Alan akan berusaha untuk membahagiakan dan menjaga keluarga ini," gumam Alan.
Pagi ini Alan tidak pergi ke sekolah. Ia akan bersekolah kembali lusa, itu pun setelah proses pendaftarannya selesai. Alan akan pindah sekolah karena ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Andre. Alan pun menurut saja karena baginya sekolah dimana saja itu tak membuatnya berhenti untuk nakal.
"Abang, Alan antar yuk ke sekolah. Pakai sepedanya Opal dulu yang ditinggal di sini," ucap Alan mengajak Arnold.
"Mana bisa sepeda kecil gitu buat boncengan di jalan raya, Alan." ucap Arnold yang gemas dengan ucapan adiknya itu.
"Bisa dong. Alan yang naik dan duduk di atas sepeda, abang yang dorong dari belakang." ucap Alan dengan santainya.
"Ogah... Enakan situ dibandingkan abang yang harus capek-capek dorong dong," ucap Arnold dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Itung-itung olahraga," ucap Alan.
Arnold sama sekali tak menggubris ucapan Alan itu. Ia lebih memilih menggunakan sepeda motornya untuk berangkat sekolah. Padahal Alan sudah menyiapkan sepeda kecil yang dulu pernah digunakan Naufal. Melihat abangnya pergi, Alan langsung saja masuk dalam kamarnya.
Semua orang yang ada di rumah ini sudah pergi dengan aktifitasnya masing-masing. Bahkan Papa Reza sedang menemani Mama Anisa ke pasar membeli sesuatu. Tinggallah hanya Alan di rumah ini sendirian dan bingung mau berbuat apa.
"Oke, saatnya kita cari tahu informasi tentang lawan yang butuh pelajaran tambahan itu." gumam Alan sambil mengambil ponsel dan dompetnya.
Kini Alan telah memakai setelan kaos, jaket, dan celana jeans panjang. Ia juga memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Bak seorang detektif, Alan berjalan keluar rumah dengan menggunakan sepeda listrik milik neneknya.
"Helmnya ketinggalan," seru Alan yang kemudian mengambil helm di dekat garasi.
Alan mengenakan helm motor milik Arnold dan membawa sepeda motor listrik itu. Bahkan satpam yang ada di rumah Alan itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak majikannya. Alan mengendarai sepeda listrik itu dengan kecepatan sedang.
"Dimana ya biasanya cecunguk itu nongkrong? Paling-paling di dekat sekolahnya abang. Kan katanya dia nggak dikeluarin tuh dari sekolahnya," gumam Alan yang segera melajukan sepedanya kearah sekolah Arnold.
Sesampainya di sana, Alan melihat kearah warung yang ada di belakang sekolah Arnold. Di sana banyak sekali anak SMA yang tengah nongkrong. Alan yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Katanya mereka nggak dikeluarkan dari sekolah karena sebentar lagi ujian. Tapi kok pihak sekolah nggak negur sih kalau mereka bolos gini. Ini mah... Ada konsipirasi nih, awas aja Alan bakalan bongkar. Eh... Konspirasi," gumam Alan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Ia tak terima kalau mereka berlindung di balik kata ujian sekolah. Sedangkan di sini terlihat sekali kalau mereka hanya santai-santai membolos sekolah. Alan mengambil ponselnya kemudian merekam aksi semua yang ada di sana.
"Nah itu orang yang udah nyuruh nyerang sekolah Alan dulu tuh. Lagaknya sok kecakepan, padahal muka jelek kaya tong sampah yang berkarat." gumam Alan dengan sinisnya.
__ADS_1