
"Sandal jepit siapa ini yang ada di kaki Alan?" serunya yang langsung membuang asal sandal yang dipakainya itu.
Wajah Alan shock, apalagi menatap kakinya yang kini tanpa alas kaki apapun. Ia juga mrlihat kearah sandal jepit butuh yang berbeda warna itu. Terlihat dari ukuran sandalnya, kemungkinan itu adalah milik Rivan atau ibunya.
"Habis nyolong sandal dimana kamu, Alan? Jangan-jangan kalau di masjid kehilangan sandal itu ulah kamu," ucap Arnold yang kemudian melenggang pergi kearah sepeda motornya.
"Enak aja, ngatain adik sendiri nyolong sandal di masjid. Abang, kok malah ninggalin Alan sih. Ini gimana kaki mulus Alan? Masa iya Alan nggak pakai alas kaki apapun," seru Alan yang manatap kakinya miris.
"Lha terus? Abang mau ngapain? Pakai sepatu abang? Ogahlah... Masa abang nggak pakai sepatu pulangnya. Mana panas lagi," ucap Arnold yang seakan tak peduli dengan adiknya itu.
Brumm... Brumm...
Melihat abangnya malah pergi menaiki sepeda motornya, membuat Alan kesal dan menghentak-hentakkan kakinya. Muka Alan tampak memelas karena beberapa siswa di sana menatapnya kasihan. Apalagi ada yang sampai menahan tawanya karena lucu dengan perdebatan antara adik dan kakak itu.
"Dasar abang durhaka. Kan bisa berkorban buat adiknya. Masa gitu aja nggak mau sih," teriak Alan yang kini frustasi dengan bagaimana ia pulang agar kakinya tak kepanasan.
"Napa lihat-lihat. Sini minta sepatumu saja buat aku pulang," serunya saat beberapa siswa menertawakan nasibnya.
"Enak aja. Aku pinjami nih sepatu aku, tapi besok balikin ya." ucap seorang siswa perempuan yang langsung membuka tasnya.
Alan yang melihat hal itu tentunya merasa senang karena ada yang mau meminjaminya sepatu. Paling tidak sandal yang lebih bagus dibandingkan yang tadi ia pakai. Namun matanya melotot tak percaya saat melihat sepatu yang dikeluarkan oleh siswa itu.
"Mana bisa Alan pakai sepatu gituan? Dipikir Alan mau mangkal di perempatan apa," ucap Alan dengan ketus.
"Udah dipinjami nggak bersyukur lagi. Mana ada di sini yang mau pinjami selain aku coba," ucap siswa itu tak mau kalah.
Alan tentu menolak untuk menggunakan sepatu yang akan dipinjami oleh siswa itu. Sepatu yang akan dipinjami itu merupakan sandal perempuan. Lebih tepatnya sepatu high heels, walaupun haknya hanya 3 cm saja. Mana mau Alan menggunakan sepatu dalam bentuk seperti itu.
__ADS_1
"Kalau pinjaminya kaya gitu, mending tadi nggak usah nawarin dong. Udah tahu nih Alan aja cowok, mana bisa pakai yang seperti itu. Dasar tak berperitemanan," ucap Alan dengan sinisnya.
"Lah... Kita kan emang nggak berteman. Kenal aja kagak," ucap siswa perempuan itu membuat Alan hanya bisa menganga tak percaya.
Ada juga seseorang yang bisa melawan ucapan pedas dari Alan itu. Bahkan Alan seperti mati kutu di saat menjawab ucapan siswa itu. Siswa perempuan itu langsung memasukkan kembali sepatunya kemudian pergi meninggalkan Alan yang masih menatapnya tak percaya.
"Awas aja kamu ya. Suatu saat pasti kamu bisa jatuh cinta dan nurut sama Alan gemoy ini," seru Alan dengan percaya dirinya.
"Ogah... Amit-amit. Saya bukan penyuka berondong," seru siswa perempuan itu.
Perdebatan keduanya itu begitu menarik perhatian orang sekitarnya. Bahkan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bocah ingusan seperti Alan bisa mengucapkan hal seperti itu. Mungkin saja siswa perempuan itu usianya hampir sama dengan abangnya.
"Menyebalkan sekali. Alan itu berondong manis," gumam Alan yang menggerutu dan mengumpati teman sekolah abangnya.
Alan kembali menatap kakinya dan terpaksa ia pulang menaiki sepedanya tanpa alas kaki. Lagi pula ia malas untuk menggunakan sandal butut itu. Sepertinya nanti ia akan menuntut ganti rugi pada Rivan.
***
"Sandalnya dicolong orang waktu jum'atan di masjid," jawab Alan dengan santainya.
Nadia mengerutkan dahinya pelan mendengar jawaban aneh dari anaknya itu. Bukan masalah sholat jum'atannya yang aneh, namun harinya. Ini bukan hari jum'at jadi mana ada anak itu pergi jum'atan.
"Alan, ini hari selasa. Mana ada jum'atan," ucap Nadia kesal dengan anaknya itu.
"Berarti selasaan, bunda." ucap Alan dengan santainya.
Nadia mendengus kesal mendengar jawaban anaknya yang terkesan cuek itu. Bahkan Alan juga langsung menyelonong pergi masuk dalam kamarnya tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi. Alan memasuki kamar abangnya yang tak terkunci itu.
__ADS_1
Di sana, abangnya duduk di meja belajar sambil membaca buku pelajarannya. Sepertinya Arnold tengah mengulang kembali pelajaran yang disampaikan hari ini. Hal itu membuat Alan geleng-geleng tak percaya. Pasalnya aktifitas abangnya itu berbanding terbalik dengan dirinya.
"Abang durhaka, kaki Alan lecet nih." adu Alan pada abangnya.
Arnold yang mendengar seseorang tengah mengajaknya berbicara pun langsung mengalihkan pandangannya. Arnold melihat kaki Alan yang memerah karena kepanasan. Arnold segera menutup bukunya kemudian mendekati adiknya itu.
"Makanya lain kali jangan ceroboh. Harusnya kamu sadar kalau yang dipakai itu sandal orang bukan sepatu. Kalau pakai sepatu kan pasti pakainya lama, masa nggak bisa bedain sih." ucap Arnold yang malah menceramahi adiknya.
"Ya kan Alan keburu semangat buat jemput abang. Jadinya nggak sadar deh kalau yang dipakai sandal butut," ucap Alan dengan merengek manja.
"Sana cuci kaki dulu. Biar abang obatin kakinya," titah Arnold.
"Malas jalan, bang. Kakinya perih," ucap Alan yang kini malah merebahkan badannya di atas kasur Arnold.
"Manja amat. Tuh pakai dengkul buat jalan," ucap Arnold.
Alan mencebikkan bibirnya kesal. Ia pikir abangnya itu akan membersihkan kakinya dengan membawa air dan lap. Namun abangnya malah membiarkan saja. Justru Arnold malah balik duduk di kursi.
"Abang, ini nggak mau inisiatif buat ambilin air dan kompresin kaki Alan?" tanya Alan yang masih tak percaya dengan apa yang dilakukan abangnya.
"Nggak. Cuci kaki sendiri, baru abang obatin. Kalau nggak mau cuci kaki sendiri, ya udah gitu aja terus sampai lukanya infeksi." ucap Arnold menakut-nakuti adiknya itu.
Alan menatap sinis abangnya itu. Alan langsung saja berjalan tertatih seakan kakinya sangat sakit untuk menarik perhatian Arnold. Namun ternyata abangnya itu sama sekali tak peka dan mau membantunya.
"Ish... Emang nggak berperikeadikan sama adiknya sendiri. Semua gara-gara sandal butut itu. Awas saja kalau ketemu siapa yang punya sandal itu. Alan cubit sampai merah-merah," gerutu Alan yang kemudian mencuci kakinya dengan pelan.
"Huaaaa... Abang, kakinya perih." seru Alan.
__ADS_1
"Jangan banyak drama, Alan. Buruan keluar dari kamar mandi," seru Arnold.
"Ish... Abang kok nggak kemakan akting yang ku buat sih," gumamnya pelan sambil memainkan air yang ada di kakinya.