
Dua minggu berlalu, hari ini Andre dan keluarganya akan pulang ke negara kelahirannya. Kondisi Papa Reza sudah sangat membaik. Tak ada lagi alat medis seperti infus yang ada di tubuhnya. Bahkan ia sudah bisa berjalan sendiri karena memang kondisinya tak separah Mama Anisa.
Sedangkan Mama Anisa sendiri memang masih perlu duduk di kursi rodanya. Kondisinya memang sudah membaik, namun belum bisa ikut pulang. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dokter mengenai kondisinya yang belum siap jika menaiki pesawat. Oleh karena itu, Mama Anisa akan pulang satu minggu setelahnya bersama dengan Papa Reza.
"Alan itut nenek dan akek caja pulangna. Ladian Alan binung di lumah mau napain," ucap Alan yang ingin bersama dengan Mama Anisa dan Papa Reza.
"Kamu harus sekolah, Alan. Sudah dua minggu kamu nggak berangkat. Mana waktu sekolah online, kamu nggak mau ngikutin lagi." kesal Nadia yang tak setuju dengan keinginan anaknya.
"Napa cih? Halus bahas-bahas mulu. Toh cudah lewat juda," ucap Alan dengan cueknya.
Setiap kali Alan membahas tentang kepulangan mereka, Nadia selalu membahas tentang sekolahnya. Apalagi sekolah online yang tak pernah diikutinya. Hal itu membuat Alan sebal, padahal ia sangat malas untuk bersekolah itu. Setiap melihat Arnold melakukan belajar online, Nadia selalu menyindirnya.
"Habisnya bunda sebal sama kamu. Masa kamu nggak mau sekolah sih, Alan." ucap Nadia sampai geregetan sendiri.
"Alan tuh hana ndak ingin uang unda dan papa belkulang banak lho. Alan ndak ucah cekolah caja. Ladian dapat ilmu tuh ndak halus di cekolah caja kok," ucap Alan yang entah mendapatkan ilmu dari siapa.
"Uang papa banyak, nak. Pokoknya kamu harus sekolah. Sekolah yang tinggi biar nggak direndahkan oranglain dan syarat nanti kamu dapat pekerjaan," ucap Andre berusaha melerai perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Alan ndak mau tuh denal ucapan olanglain. Ladian Alan mau dadi penucaha caja, yang ciptain keljaan buwat olanglain. Maca iya, kalyawan mau lendahin bosna cendili." ucap Alan dengan bangganya.
Andre dan Nadia hanya bisa menepuk dahinya pelan. Seorang pengusaha juga butuh pendidikan agar tak dimanfaatkan atau ditipu oleh oranglain. Apalagi mengenai manajemen keuangan dan karyawannya. Sepertinya mereka kini menyerah dengan pemikiran anaknya yang berbeda dengan anak seusianya itu.
__ADS_1
Mama Anisa dan Papa Reza yang melihat perdebatan diantara mereka pun hanya tersenyum tipis. Apalagi ucapan Alan yang sok dewasa dan berbeda dengan cucunya yang lain itu. Sebenarnya mereka kesal juga dengan pemikiran Alan yang tak ingin sekolah itu. Namun nantinya mereka pasti akan memberi penjelasan seiring berjalannya waktu.
"Jadi ini bagaimana? Alan ikut pulang bersama kalian atau sama kami nanti," tanya Mama Anisa mengalihkan pembicaraan.
"Cama nenek dan akek caja," ucap Alan.
"Tidak. Pulang sama papa dan bunda. Nggak mungkin nenek dan kakek jaga kamu yang aktifnya begini, Alan. Kan mereka masih sakit," ucap Andre menolak permintaan anaknya.
"Alan ndak minta didagain lho. Alan bica jada dili cendili," ucap Alan yang kekeh dengan keputusannya.
Arnold yang kesal dengan permintaan adiknya pun langsung saja membekap mulut Alan. Bahkan kini Arnold langsung menarik tangan Alan agar menjauh dari nenek dan kakeknya. Akhirnya Andre dan Nadia juga langsung pergi mengikuti Alan bersama Anara dan Abel setelah pamit pada orangtuanya.
"Bahagia ya, pa. Kita bisa kumpul seperti ini. Sekarang papa juga sudah sehat jadi bisa jagain mama. Apalagi kita sudah banyak menyusahkan Nenek Hulim dan Frank yang harus bolak-bali menjaga kita," ucap Mama Anisa.
Mama Anisa menganggukkan kepalanya seakan mengerti kalau memang benar adanya jika selama ini terlalu merepotkan wanita paruh baya itu. Apalagi usia Nenek Hulim yang sudah tak muda lagi dan masih harus bekerja sebelum nantinya Fikri yang mengelola bisnisnya. Sungguh salut mereka dengan kegigihan dan semangat dari Nenek Hulim itu.
***
"Ndak acik, Alan halus balik ke lumah. Malas cekali lacana halus cekolah ladi. Oh libulan... Tapan Alan bica libulan telus," gumamnya sambil melihat kearah awan yang ada di jendela pesawat terbang yang dinaikinya.
Kini mereka semua sudah berada di dalam pesawat terbang. Andre, Nadia, Arnold, Abel, dan Anara sudah tertidur pulas karena perjalanan sangatlah panjang. Sedangkan Alan yang tak bisa tidur hanya menatap kearah awan itu.
__ADS_1
"Tapi Alan duga tangen cama Opal. Ndak papa cih ulang, anti ndak ucah belangkat cekolah ladi. Pula-pula tidul tayak watu diculuk belajal olen," gumam Alan yang seakan sudah mempunyai ide bagus untuk tak berangkat sekolah.
Alan pun memilih tidur dengan menyandarkan bahunya pada sang abang. Beruntungnya Alan mempunyai abang yang walaupun suka ketus dengannya namun menyayanginya. Walaupun kesannya tak pernah akur karena perbedaan pendapat, namun diam-diam Arnold itu memikirkan dirinya.
***
Alan masih tertidur saat pesawat mendarat dengan selamat di Bandara. Andre menggendong anaknya itu turun dari pesawat, kemudian mereka semua keluar dari area Bandara. Ridho sudah berada di halaman luar, sehingga saat melihat mereka keluar langsung saja laki-laki itu mendekat.
"Biar saya bawakan kopernya, Mbak Nadia." ucap Ridho.
Nadia menganggukkan kepalanya kemudian Ridho menarik beberapa koper yang dibawa wanita itu. Namun Nadia tetap membantunya karena tak mungkin Ridho membawa semuanya. Setelah selesai memasukkan beberapa koper, segera saja mereka masuk dalam mobil.
"Paman Ridho, bagaimana keadaan rumah saat kami tinggal?" tanya Arnold yang duduk di kursi samping Ridho.
"Baik, den Arnold. Tapi rumah jadi sepi, bahkan Naufal sama Rivan saja jarang bermain keluar dari rumah belakang semenjak kalian pergi." jawab Ridho sambil terkekeh pelan.
"Nggak ada celotehan dan keusilan Alan ya pasti?" tanya Arnold sambil tersenyum.
"Lebih tepatnya keramaian suasana rumah sih. Kaya perdebatan antara kalian dengan Alan. Rumah jadi penuh warna kalau ada kalian semua," ucap Ridho sambil tersenyum tipis.
Arnold pun menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Ridho. Tanpa adanya Alan di rumah, tentu suasana akan sepi. Apalagi semua orang akan jadi tempat keusilan dari Alan. Adiknya itu takkan pernah membiarkan orang yang ada di dekatnya diam saja.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil memasuki halaman rumah Keluarga Farda. Alan masih tertidur dalam gendongan Andre membuat suasananya benar-benar sepi. Mbok Imah sudah berada di depan pintu untuk menyambut mereka. Sedangkan Ibu Rivan masih menyiapkan makanan untuk keluarga Andre.