
Kepergian Nadia dan Alan selama satu minggu ini benar-benar membuat keadaan kacau. Apalagi semuanya sudah berusaha mencari keberadaan mereka namun tak juga menemukannya. Anara dan Abel begitu terpukul, apalagi kondisi Arnold belum ada kabar baik.
Andre sendiri lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan dan bisnisnya. Urusan anak-anak semua diserahkan kepada orangtuanya. Hal itu membuat Mama Anisa dan Papa Reza yang sudah tua sering drop. Hal ini membuat Anara dan Abel kebingungan.
"Nenek sama kakek mending pulang saja. Biar Anara dan Abel yang jaga Arnold. Biar Paman Ridho yang jemput ya, kek. Kami khawatir kalau kakek menyetir mobil sendiri," ucap Abel saat melihat nenek dan kakeknya sangat kelelahan.
"Kami tak apa. Kasihan kalian juga kalau kami tinggal di sini. Kalian kan juga harus kuliah. Jangan sampai kuliah kalian terbengkalai," ucap Mama Anisa sambil tersenyum tipis.
Abel meraup wajahnya kasar, mendengar apa yang diucapkan oleh neneknya itu. Walaupun masih tersenyum namun Mama Anisa tak bisa membohongi kalau wanita paruh baya itu kelelahan dan letih. Anara yang melihat kembarannya sama lelahnya dan begitu frustasi itupun hanya bisa mengelus punggung Abel dengan lembut.
"Kami tak apa, nek. Untuk sementara ini biar kami gantian jaga Arnold. Lagian kondisi kalian sudah tak bugar seperti dulu setelah kejadian kecelakaan waktu itu. Kita bisa sesuaikan jadwal kok," ucap Anara.
Mama Anisa menatap suaminya yang juga kelelahan. Beberapa hari ini keduanya ikut mencari keberadaan Alan dan Nadia. Setelahnya langsung menjaga Arnold, bergantian dengan kedua cucunya. Memang benar jika tenaga keduanya sudah tak lagi seperti dulu.
"Baiklah. Kami akan menghubungi Ridho. Kalian kalau lelah, langsung pulang ya. Biar kakek minta perawat agar menjaga Arnold," ucap Papa Reza.
Sebenarnya Andre sudah menyewa dua orang perawat untuk menjaga Arnold 24 jam. Namun sebagai keluarga, tentu Mama Anisa dan Papa Reza tak mau jika cucunya dijaga perawat terus. Mereka segera saja pergi dari hadapan kedua cucunya untuk pulang ke rumah setelah menghubungi Ridho.
"Kasihan nenek dan kakek. Papa juga kaya nggak punya otak sih. Malah yang jaga Arnold kok perawat atau nenek juga kakek. Padahal nenek sama kakek udah tua kaya gitu. Kita juga nggak bisa sering-sering di sini karena harus kuliah," ucap Anara.
__ADS_1
"Kakak juga pusing. Apalagi Alan sama bunda belum ketemu. Kakak rindu sekali dengan mereka, apalagi Alan. Kalau ada Alan nih, pasti nunggu kaya gini nggak berasa bosan dan lelah. Ada celotehannya yang bikin pikiran lebih fresh," ucap Abel.
Anara menganggukkan kepalanya setuju. Walaupun Anara sering berdebat dengan Alan dan kesal dengan ocehannya, namun tak ayal ua juga terhibur. Ia terhibur dengan ocehan lucunya yang kadang tak jelas itu.
***
Brakkkk...
"Hei anak bodoh... Dasar nggak punya hati. Anak lagi terbaring di rumah sakit tapi malah sibuk kerja di sini," ketus Papa Reza yang baru saja datang ke kantor Andre.
Bahkan Papa Reza langsung saja mendobrak pintu ruangan Andre itu. Ia sungguh kesal dengan anaknya yang sudah seperti tak punya otak. Bahkan Bayu yang masih menjadi sekretaris Andre dan berada di dalam ruangan itu begitu terkejut.
"Ingatin tuh bosmu, Bay. Kalau perlu getok kepalanya pakai palu biar bisa mikir. Istri dan anak hilang, mana Arnold sakit nggak ada dia ngurusin. Paling tidak cari, malah nongkrong di kantor." lanjutnya yang menyindir anaknya lewat Bayu.
Bayu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa berada di tengah-tengah pihak yang tengah berseteru. Sedangkan Andre masih fokus pada laptop yang ada di depannya. Tanpa mempedulikan Papa Reza yang memelototinya dan ingin sekali menjitaknya.
"Pergi cari istri dan anakmu. Kau jadi seperti ini juga karena mereka. Nggak ingat waktu kamu kecelakaan dan lumpuh waktu itu. Nadia yang mengurusmu. Kalau aku jadi Nadia, sudah ku tinggalkan manusia egois seperti kau itu." teriaknya.
"Untungnya papa bukan Nadia. Lagian Nadia perempuan yang baik. Takkan meninggalkan calon suaminya saat sedang sakit," ucap Andre dengan santai.
__ADS_1
"Tapi sayangnya nasib Nadia buruk setelah menikah dengan kau. Dia nggak bahagia. Apalagi Alan, kasihan sekali cucu bungsuku itu. Walaupun kadang ucapannya pedas, tapi dia lebih penyayang dibandingkan bapaknya yang nggak punya hati." ucap Papa Reza dengan pedasnya.
Papa Reza langsung duduk di kursi sofa yang ada di ruangan Andre. Dadanya tiba-tiba sedikit sesak akibat terus berbicara panjang lebar. Bayu yang melihat hal itu langsung mengambil minum dan oksigen untuk ayah dari atasannya. Andre yang melihat itu langsung meraup wajahnya dan mendekati sang papa.
"Papa jangan sering marah-marah dan banyak pikiran. Andre itu gini-gini juga mikirin keadaan rumah. Cuma memang caranya saja yang beda," ucap Andre dengan tenang.
"Mikirin apa, Ndre? Kamu aja malah sibuk kerja. Harusnya gerak bukan malah mulutnya aja yang ngomong dan merintah," ucap Papa Reza yang masih mengomel.
"Pak, mending anda tidak usah mengajak bicara Pak Reza dulu. Kasihan kalau terus sesak begini dadanya," ucap Bayu menyarankan.
Andre pun diam sambil menatap sinis kearah Bayu. Sedangkan Bayu memberikan tabung oksigen kecil kearah hidung dan mulut Papa Reza. Andre pun membantu mengubah posisis papanya agar lebih nyaman.
"Ndre, papamu ini sudah tua dan sering sakit-sakitan. Papa dan mama mungkin sebentar lagi juga udah nggak ada umur. Bersikaplah dewasa dan jangan emosian. Kasihan anak dan istrimu. Kami ingin pergi dengan melihat kalian akur dan bahagia. Kalau kaya gini, kami mau pergi juga nggak tenang," ucap Papa Reza dengan lirih setelah dadanya tak merasa kesakitan lagi.
Deg...
Andre yang mendengar ucapan papanya seperti itu langsung menohok hatinya. Andre melihat rambut papanya yang memang sudah beruban. Bahkan wajah dan tangannya sudah keriput. Ia tak menyangka kalau waktu benar-benar begitu cepat berlalu.
Bayangannya terlempar pada masa kecilnya. Ia yang jarang bersama dengan orangtuanya karena kesibukan mereka, membuatnya tak terlalu dekat. Kadang ia menyepelekan kebersamaan yang ada karena nyaman bersama Nenek Darmi sebagai sosok pengganti ibunya. Ia baru menemukan sosok kedua orangtuanya itu saat hendak bercerai dengan Aneta.
__ADS_1
"Ndre, jadilah pribadi yang dewasa. Kamu kepala keluarga dan anakmu sudah empat. Kalau mereka pecah, kamu yang akan hancur. Bahkan kamu nggak kenal Alan yang saat ini masih tengil-tengilnya. Papa yakin kalau dialah yang kelak bisa menggantikan sosokmu," lanjutnya mencoba menyadarkan anaknya