
Ciatttt...
Brughh...
"Kalian nggak akan pernah bisa ngalahin Alan. Walaupun Alan kecil begini, tapi kalau buat hancurin wajah nggak tampan kalian itu sangat mudah bagiku." seru Alan sambil mengusap pipinya yang sedikit memar.
Apalagi tadi ia dan ketiga temannya juga satpam yang ada di sekolah itu sempat terkena beberapa kali pukulan dari balok kayu. Tak lupa mereka juga asal menonjok wajah berulangkali. Walaupun Alan dan temannya sempat menangkis namun tetap saja ada yang terkena tubuh mereka.
"Sialan... Sudah bonyok masih juga bisa sombong kau," seru seseorang yang baru saja datang.
Dia adalah Kaka, yang notabene menyuruh teman-temannya memberi pelajaran kepada Alan. Sebenarnya ia tak menyangka kalau sekarang malah pihak sekolah seperti satpam dan guru jadi ikut campur. Bahkan ada yang sampai membantu Alan agar bocah itu tak terluka.
Namun semua sudah terlanjur. Apapun resiko ke depannya yang mungkin saja dihadapi oleh Kaka dan Dania, mereka akan menghadapinya. Apalagi Kaka dan Dania bukanlah pengecut yang bersembunyi di balik teman-temannya.
"Pengecut... Nih dia yang sembunyi di balik ketiak teman-temannya. Masa cuma menghadapi Alan sendiri saja nggak berani," ledek Alan yang kini berjalan mendekat kearah Kaka.
"Lho punya teman itu bisa untuk saling membantu. Kalau ada salah satunya yang tersinggung, mereka juga akan saling membantu dong." ucap Kaka dengan santainya.
"Baperan loe. Walaupun sedikit bonyok kaya gini, Alan kan tetap tampan." ucap Alan dengan percaya dirinya.
Bugh...
Bugh...
Geram dengan ucapan Alan, Kaka segera melayangkan pukulannya kearah adik Arnold itu. Bukan Alan yang mendapatkan pukulan atau luka, justru Kaka yang bonyok. Pasalnya dari arah samping, ada seorang gadis yang tak lain adalah sahabat Alan datang membantu. Dia adalah Gracia atau biasa dipanggil Cia.
Sudah satu tahun ini Cia berada di luar negeri karena menunggu ibunya yang sedang sakit. Setelah ibunya dinyatakan sembuh, Cia kembali ke Indonesia. Ia ingin memberi kejutan pada sahabat kecilnya namun justru dia yang terkejut.
"Bebeb Cia..." seru Alan yang kemudian memeluk Cia dengan eratnya.
__ADS_1
"Jangan peluk-peluk di sini. Lihat... Lawan masih pada melotot tak terima karena bosnya bonyok." ucap Cia yang langsung melepaskan pelukan Alan.
Alan yang mengerti situasi itu pun segera saja bersikap waspada. Terlihat sekali kalau keduanya memanglah pasangan sahabat yang serasi. Cia yang sedari kecil memang pemberani dan tomboy pun, malah terlihat seperti laki-laki. Apalagi dengan jaket kulit bak anak geng motor pun kini melekat pada tubuhnya.
"Yuhuuu... Bebeb aku datang. Bonyok deh kalian, aku jamin. Habis ini kalian akan dikirim ke rumah sakit atau akhirat," ucap Alan menakut-nakuti semuanya.
"Ya kali Cia bikin ulah sampai segitunya. Bisa-bisa aku di penjara dong," kesal Cia pada Alan yang kalau ngomong suka seenaknya.
"Itu cuma buat nakut-nakutin aja sih. Alan juga nggak mau kalau Cia sampai terlibat aksi kriminal gitu," ucap Alan dengan sedikit berbisik.
Alan...
Awas...
Keduanya malah asyik berdebat membuat Kaka dan teman-temannya langsung saja menyerang. Mereka baru menyadari itu saat mendengar teriakan dari teman-teman juga guru di sekolahnya. Memang ada-ada saja ulah keduanya kalau sudah bertemu. Apalagi sifat keduanya sama-sama cerewet dan keras kepala.
Bugh...
Arrghhh...
Suasana sekolah menjadi hening saat mendengar teriakan kesakitan itu. Apalagi teriakan itu bukan berasal dari Alan atau Cia. Namun dari seseorang yang tiba-tiba datang dan memeluk keduanya. Alan dan Cia berdiri mematung saat merasakan seseorang itu kini badannya meluruh hingga hampir jatuh.
"Kabur..." seru Kaka saat tahu siapa yang kini terluka karena kepalanya terkena pukulan balok kayu.
Kaka dan teman-temannya segera kabur dari sana. Sedangkan teman-teman Alan langsung menyadarkan keduanya. Walaupun tak melihat secara intens wajah seseorang yang menolong Cia dan Alan, namun mereka seperti mengenalinya.
"Abang Arnold..." seru Yusri, Lucas, dan Naven secara bersamaan.
Sontak saja Alan dan Cia langsung melihat kearah Arnold yang sudah tak sadarkan diri dalam pangkuan Lucas. Darah terus keluar dari kepala Arnold karena pukulan yang begitu keras. Tadi Arnold yang ingin menjemput adiknya terkejut dengan suasana di sekolah itu.
__ADS_1
Terlebih melihat Kaka dan beberapa teman SMA-nya juga ada di sana. Melihat Alan dan Cia yang akan dipukul, langsung saja Arnold berlari untuk melindungi keduanya dengan memeluk mereka. Naasnya... Justru Arnold yang terkena pukulan itu membuat dia jatuh tak sadarkan diri.
"Abang..." seru Alan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayo bawa abangmu ke rumah sakit. Pak, tolong mobil." seru Lucas pada guru-guru yang ada di sana.
Guru itu langsung berlari kearah parkiran mobil. Sedangkan Alan dan teman-temannya segera saja mengangkat Arnold. Pikiran Alan kalut, gara-gara dia membuat abangnya terluka. Ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya.
***
"Abang, Alan mohon bertahanlah. Maafin Alan... Alan nggak akan nakal lagi. Janji," gumam Alan dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Lucas mengelus punggung Alan yang tampak begitu terpukul. Sedangkan kedua temannya mengikuti dengan sepeda motor dari belakang. Cia sendiri menuju rumah Alan untuk memberitahu keadaan Arnold. Akibat terlalu panik, Cia sampai lupa kalau bisa menghubungi keluarga Alan melalui ponsel.
Mobil yang dikemudikan oleh guru Alan itu berhenti di sebuah rumah sakit. Lucas keluar untuk mencari bantuan, sedangkan Alan dan guru itu menggendong Arnold. Mereka membawa Arnold ke atas brankar yang baru saja dibawa oleh pihak medis.
"Tenang, Alan. Pasti Abang Arnold akan baik-baik saja. Kita berdo'a untuk kesembuhannya," ucap Lucas yang terus memberi semangat pada Alan.
"Iya, jangan nyalahin diri sendiri terus. Ini musibah, nggak akan ada yang tahu kalau Abang Arnold tiba-tiba datang." ucap Yusri.
"Nggak, ini salah gue yang main asal ceplas-ceplos saja saat menghadapi oranglain. Tadi juga Alan nggak fokus dan malah membuat abang terluka. Ini salah Alan... Alan memang bodoh," seru Alan yang langsung menarik rambutnya dengan kencang.
"Alan... Alan..." seru guru yang juga ada di sana mencoba ikut menenangkan siswanya yang keadaannya begitu kalut.
Proses pemeriksaan Arnold masih terus berjalan hingga setengah jam lebih belum ada kabar. Alan masih terus menyalahkan dirinya sendiri dengan ingin memukul tembok rumah sakit, namun selalu dihalangi oleh Lucas. Alan terus saja menangis dengan tatapan kosongnya.
Tak... Tak... Tak...
Suara langkah kaki bersahutan menuju kearah Alan dan teman-temannya menunggu Arnold. Mereka segera mengalihkan pandangannya kearah suara itu. Namun yang membuat mereka terkejut adalah saat tiba-tiba...
__ADS_1
Plak...