
Kedatangan Alan di sekolah itu sungguh membuat heboh semua penghuninya. Apalagi kejadian Alan yang bisa langsung menjadi ketua kelas E. Para guru bertanya pada Pak Gogon namun pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya bingung.
"Saya juga nggak tahu kenapa bisa menyetujui Alan jadi ketua kelas E. Padahal kelas itu isinya kebanyakan siswa biang onar semua. Tapi Alan malah kaya nyaman di sana," ucap Pak Gogon sambil geleng-geleng kepala saat ditanyai oleh guru-guru di sekolah.
"Aneh... Punya magnet apa itu siswa baru? Kok bisa membuat Pak Gogon kaya orang linglung begitu. Apa ada sesuatu yang menarik dalam dirinya?" tanya salah satu guru.
"Nggak tahu juga. Besok yang mengajar di kelas E, tolong diperhatikan itu siswa barunya. Lalu ceritakan sama kita semua," ucap salah satu guru.
Guru-guru di sana paling malas kalau sudah mau mengajar di kelas E. Namun rasa penasaran pada Alan, membuat mereka mau tak mau harus mencari tahu sendiri. Beberapa guru yang mendapatkan jatah mengajar di sana pun menganggukkan kepalanya dengan mantap
***
Peraturan baru dari ketua kelas:
Dilarang membantah ucapan Alan. Melanggar maka harus menulis dalam kertas folio sebanyak dua lembar dengan tulisan "Maafkan aku, Alan ganteng".
Lebih baik tidur, dibandingkan membuat gaduh kelas di saat pelajaran berlangsung. Jika melanggar, membaca buku pelajaran dan menjelaskan ulang materi pada teman satu kelas.
Tidak boleh membuang sampah sembarangan. Jika melanggar, membersihkan kelas sampai kinclong.
__ADS_1
Setiap istirahat, wajib makan di dalam kelas bersama. Harus mau saling berbagi makanan pada yang tidak mampu.
Mengucapkan kalimat pedas tak apa, asal ada dasar yang jelas.
Semua hanya bisa menganga tak percaya mendengar peraturan baru yang dibuat oleh Alan. Mereka menatap aneh Alan yang kini menaikturunkan alisnya itu. Sepertinya mereka akan dibuat frustasi oleh ketua kelas yang baru.
"Peraturan macam apa ini? Mana ada hukuman nulis Alan ganteng. Percaya diri sekali kau ini," ucap salah satu siswa yang bernama Daniel ini.
"Alan kan memang ganteng. Buktinya banyak yang ngefans," ucap Alan dengan menyugar rambutnya ke belakang.
"Mana fans kamu? Nggak ada yang ngefans. Astaga... Mana bisa bocah yang wajahnya mirip comberan ini masuk kelas kita yang high clasa ini," ucap Dani dengan ucapan pedasnya itu.
"Enak kali kau bilang Alan wajahnya mirip comberan. Kau itu yang wajahnya mirip kulit panuan," ucap Alan tak kalah pedasnya.
Perdebatan keduanya itu malah membuat semua siswa yang di kelas tertawa. Mereka tak menyangka jika ada seseorang yang mampu melawan ucapan pedas yang terlontar dari mulut Dani. Bahkan kini Dani mendengus kesal kemudian berjalan menuju Alan yang masih berdiri di depan kelas.
"Selamat datang di kelas E tercinta ini. Kau yang tak kena mental melihat tatapan dan ulah kami, sudah membuktikan jika kau pantas diterima di sekolah ini." ucap Dani yang langsung merangkul bahu Alan.
"Ish... Jangan rangkul-rangkul. Situ bau ketek," ucap Alan yang sedikit menjauh dari Dani.
Tawa dari semua yang ada di kelas membuat suasana begitu riuh. Mereka menerima Alan dengan senang hati. Apalagi suasana kelas tak lagi boring karena kedatangan suhu dari seseorang yang berucap pedas.
***
"Anara..." panggil seorang laki-laki dari belakang tubuh gadis itu.
Anara yang tadinya berjalan sendiri menuju tempat parkir mobilnya pun langsung menghentikan langkahnya. Anara membalikkan badannya dan terlihat seorang laki-laki yang selama ini mengisi hatinya sudah ada di hadapannya. Dia adalah Fakih Reza Abasya. Seorang mahasiswa satu jurusan yang sama dengannya.
__ADS_1
Keduanya sudah menjalin hubungan selama 6 bulan ini secara backstreet dari keluarganya. Apalagi Anara sedikit takut jika ketahuan Alan yang sangat posesif itu. Pasti Alan akan mengomentari dengan kalimat pedasnya jika tahu kalau Anara sudah mempunyai seorang kekasih.
"Eh... Kak Fakih," ucap Anara sambil tersenyum.
"Pulang bareng ya. Kalau bisa, aku mau mampir ke rumahmu. Boleh kan? Kita dah pacaran, tapi kok aku main ke rumah nggak boleh sih." tanya Fakih dengan tatapan penuh harap.
"Memangnya kamu nggak takut ketemu sama keluargaku? Di sana orangnya seram-seram lho," ucap Anara dengan sedikit khawatir.
"Seram kaya apa? Bodyguard atau setan gitu?" tanya Fakih sambil terkekeh pelan.
"Ini melebih setan atau bodyguard gitu. Apalagk adikku yang kecil itu. Dah mirip tuyul atau jailangkung yang datang nggak diundang," ucap Anara memberitahu.
"Biarkan saja. Aku memang harus menghadapi mereka. Nggak mungkin hubungan kita terus menerus seperti ini. Setidaknya ijinkan aku mengenal keluargamu. Bukannya kalau tak kenal maka tak sayang ya?" ucap Fakih sambil menaikturunkan alisnya menggoda kekasihnya itu.
Anara tersenyum malu-malu dengan kedua pipi yang memerah. Anara senang ada seseorang yang mau bertemu dengan keluarganya walaupun status hubungan mereka baru berpacaran. Anara pun menganggukkan kepalanya setuju dengan pemikiran dari Fakih itu.
Fakih menggandeng tangan Anara menuju ke tempat parkir. Keduanya akan datang ke rumah dengan mobil yang berbeda. Jantung Anara berdegup kencang, pasalnya pasti akan ada kejadian aneh yang menimpa kekasihnya. Apalagi jika bertemu dengan Alan.
***
"Kamu kenapa? Kok kaya ketakutan gitu," tanya Fakih setelah keduanya sampai di depan rumah.
Keduanya turun dari mobil kemudian melangkah bersama memasuki rumah. Namun Fakih melihat kalau kekasihnya itu berwajah pucat seperti ketakutan. Tentu saja itu membuat Fakih sedikit khawatir dengan apa yang terjadi.
"Iya, aku takut kamu nggak diterima keluargaku." ucap Anara sambil tersenyum tipis.
"Tenang saja. Mentalku kuat kok, aku akan berjuang demi kita. Lagi pula aku nggak akan mecam-macam sama kamu. Kita kan menjalin hubungan kekasih biasa dan tetap prestasi juga keluarga nomor satu," ucap Fakih meyakinkan Anara.
Anara menganggukkan kepalanya kemudian keduanya berpegangan tangan erat. Keduanya melangkahkan kaki bersama menuju ruang keluarga yang tampak ramai dengan banyak orang. Anara semakin dilanda kecemasan, apalagi mendengar suara Alan juga ada di sana.
"Assalamu'alaikum..." salam keduanya secara bersamaan.
"Wa'alaikumussalam..." jawab semua yang ada di sana sambil mengalihkan pandangannya.
Semua yang ada di sana mengernyitkan dahinya heran dengan seorang laki-laki yang tampak asing di mata mereka. Terlebih laki-laki itu menggandeng tangan Anara. Di ruang keluarga itu ada Alan, Arnold, Nadia, Abel, dan Mama Anisa. Sedangkan Papa Reza dan Andre belum pulang dari bekerja.
__ADS_1
Fakih tersenyum manis kepada semua yang ada di sana. Alan dan Arnold tampak tak suka dengan laki-laki yang ada di samping saudaranya itu. Fakih jadi kikuk sendiri melihat tatapan tajam yang dilayangkan oleh Alan dan Arnold.
"Napa tuh tangan pakai pegang-pegang? Bukan mahramnya,"