
Nadia, Frank, dan Nenek Hulim langsung membalikkan badannya setelah mendengar suara panggilan itu. Mata ketiganya membelalak kaget saat melihat seorang laki-laki yang kini telah membuka kacamata hitamnya itu. Bahkan Nadia sampai menggeser tubuhnya hingga sedikit menjauh dari laki-laki yang tak lain adalah Andre.
"Ngapain kamu di sini, mas? Tahu darimana keberadaan kami?" tanya Nadia dengan raut wajah gugupnya.
Bahkan mata Nadia juga langsung sedikit melirik kearah sekitar. Ia takut kalau Alan datang dan malah timbul keributan diantara keduanya. Apalagi ini di tempat umum, pasti akan mengacaukan kegiatan di kampus Fikri.
"Nggak perlu kamu tahu darimana aku mengetahui keberadaan kalian. Tolong bawa Alan kemari. Aku ingin berbincang serius dengannya," ucap Andre tanpa basa-basi.
"Buat apa kamu mau ketemu Alan? Mau menamparnya lagi? Aku takkan pernah membiarkan kamu untuk menyakiti anakku lagi. Kalau kau ingin tampar atau pukul Alan, langkahi dulu aku." ucap Nadia dengan tegasnya.
"Bukan, Nadia. Aku ingin meminta maaf dengannya. Lagi pula dia juga anak kandungku. Maaf... Maafkan aku yang sudah menyakiti Alan juga kamu. Aku mohon kembalilah bersamaku," ucap Andre dengan nada yang lebih lembut.
Bahkan tatapan Andre terlihat sendu dan menginginkan kalau permohonannya itu dikabulkan. Ia tak mau kehilangan Nadia dan Alan yang malah membuat semuanya menjadi kacau. Apalagi kehidupannya kini semakin sepi dan suram karena keluarganya berantakan.
"Kembali? Luluhkan dulu anakku sebelum memintaku kembali. Alan tak mau, saya juga tidak." ucap Nadia dengan tegasnya.
Andre yang mendengar hal itu langsung saja meraup wajahnya kasar dengan telapak tangannya. Sedangkan Frank dan Nenek Hulim hanya diam sambil berjaga di samping Nadia. Mereka tak ingin kalau sampai Andre berbuat nekat untuk mendekati Nadia.
"Maka dari itu, tolong pertemukan aku dengan Alan. Biar aku bisa meyakinkan dia agar segera kembali bersama," ucap Andre dengan tatapan permohonan.
Nadia menatap pada Frank dan Nenek Hulim yang seakan meminta saran. Ia takut jika nanti Alan akan dilukai oleh Andre. Nenek Hulim langsung menganggukkan kepalanya. Wanita tua itu yakin kalau Alan punya cara sendiri untuk menghadapi Andre.
__ADS_1
"Baiklah. Tunggu saja di dekat lobby sana yang sedikit sepi. Aku tak ingin jika nanti kalian cekcok dan mengganggu acaranya Fikri," ucap Nadia memutuskan.
Bahkan kini Frank langsung pergi untuk mencari keberadaan Alan. Sedangkan Andre menuju lobby yang ditunjuk oleh Nadia. Nenek Hulim dan Nadia akan memantau dengan jarak sedikit jauh agar mereka berdua lebih leluasa mengobrol. Kalau ada sesuatu yang tak baik, mereka akan langsung menyelamatkan Alan.
***
"Huh... Mau apa anda kemari? Sepertinya tidak ada hal yang penting, bukan?" tanya Alan dengan raut wajah datarnya.
Bahkan Andre yang mendengar hal itu merasa tertegun dengan nada suara Alan. Tadinya Alan malas ketika dipaksa Frank untuk menemui Andre. Bahkan Alan sempat terkejut dengan kedatangan Andre itu, namun raut wajahnya langsung datar.
Kini Alan menemui Andre dengan posisi berdiri dan bersandar pada tembok lobby. Bahkan Alan tak mau melihat kearah Andre sama sekali. Andre pun kini menyamakan posisinya dengan Alan dan menatap lurus ke depan.
"Minta maaf? Sudah saya maafkan. Tenang saja, Tuan Andre. Walaupun saya ini seorang anak yang tak berguna, namun saya ini pemaaf kok." ucap Alan sambil terlekeh miris.
"Tapi saya takkan pernah melupakan apa yang terjadi. Mau anda meminta maaf sambil sujud-sujud, apa yang anda lakukan itu takkan pernah bisa hilang dari ingatan." lanjutnya.
Mendengar hal itu sontak saja membuat Andre mengalihkan pandangannya kearah sang anak. Mata Alan memancarkan emosi dengan kedua tangan yang mengepal erat. Andre yakin kalau Alan kini tengah menahan emosinya agar tak meledak. Andre salut dengan Alan yang pintar sekali menahan emosinya itu.
"Itu artinya kamu belum ikhlas untuk memaafkan papa. Apalagi kamu seakan nggak memberikan kesempatan pada papa agar memperbaiki semuanya," ucap Andre dengan nada sendunya.
"Kesempatan? Kesempatan kok terus-terusan. Itu namanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lagian saya kan bukan anak anda, ngapain juga sih ribet minta maaf. Masih ingat bukan dengan apa yang anda ucapkan di rumah sakit waktu itu?" tanya Alan sambil terkekeh sinis setelah berhasil menyindir Andre.
__ADS_1
"Alan, jangan jadi seperti papa ya saat dewasa nanti. Jangan emosian saat menghadapi masalah. Harus menyamaratakan kasih sayang anak-anaknya," ucap Andre tanpa menggubris sindiran Alan.
"Nggak akan saya mencontoh sosok papa yang buruk untuk kehidupan saya kelak," ucap Alan dengan ucapan pedasnya.
Ucapan-ucapan menohok dari Alan itu sungguh membuat Andre bungkam. Apalagi apa yang diucapkan oleh Alan itu benar semua. Ia memang sosok kepala keluarga yang buruk. Ia tak sakit dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu.
"Teruslah mengucapkan kalimat pedas untuk papa. Kalau perlu tonjok atau tampar papa biar kamu puas. Papa yakin kalau sedari tadi kamu tengah menahan emosi karena melihat papa di sini," ucap Andre tiba-tiba.
"Saya bukan anda yang mempermalukan keluarganya di depan umum. Kalau mau, ayo adu tinju di ring." tantang Alan pada papanya itu.
Alan tidak sebodoh itu untuk memukul orang di depan umum seperti apa yang dilakukan papanya saat di rumah sakit. Alan menatap sinis papanya yang langsung terdiam mendengar tantangannya. Papanya itu tak mungkin mau untuk adu tinju, apalagi kondisi kakinya tak terlalu kuat akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
"Alan, papa bingung harus melakukan apa. Kamu tahu bagaimana kondisi kaki papa yang memang tak bisa terlalu digunakan untuk hal berat. Tolonglah cari tantangan lain agar kamu dan bunda segera kembali ke rumah," ucap Andre sambil menghela nafasnya berat.
"Masa mau kita pulang, nggak mau sih berjuang? Kalau mau enaknya ya nggak usah datang ke sini," ucap Alan dengan sinisnya.
"Kalau papa kenapa-napa saat adu tinju, nanti papa nggak bisa kerja dan memberi nafkah kalian lho." ucap Andre mulai bernegosiasi.
"Tinggal buang aja ke laut. Kaki bermasalah? Masih punya tangan dan otak buat bekerja, bukan? Malu sama orang-orang di luar sana yang terlahir tak sempurna." ucap Alan dengan beraninya.
Andre menghela nafasnya berat. Mau bagaimanapun juga ia ingin tetap menginginkan kesempurnaan pada tubuhnya. Namun anaknya ini tak mau juga diajak bernegosiasi. Sangat pintar sekali Alan dalam mencari bahan untuk menjatuhkan pendapatnya. Ia yakin kalau kelak Alan ini akan menjadi saingan orang-orang sukses.
__ADS_1