
Kepulangan Abel ke rumah membuat bahagia semua orang, tak terkecuali Arnold. Dia bahkan sedari tadi terus menerus memeluk dan berada di samping Abel. Sebenarnya Arnold tadi sedikit heran saat dijemput sekolah oleh Ridho. Pasalnya tak ada Alan yang berada di dalam mobil yang biasanya sama sekali tak mau pulang jika tanpa dirinya.
Ternyata kepulangan Alan langsung ke rumah itu karena ada Abel yang sudah pulang. Tentu saja itu menjadi sebuah kejutan untuk Arnold. Saat memasuki rumah dan terlihat Abel duduk bersama Naufal, Anara, dan Alan di ruang keluarga, membuat matanya berkaca-kaca.
"Cetop... Dangan detat-detat cama Kak Bel. Abang Anol dali lual lho, banak tuman-tumanna. Mandi cama danti baju dulu, abang." peringat Alan saat Arnold tadi hendak menedekati kakaknya.
"Abang keburu kangen dan pengen peluk Kak Abel nih, dek." ucap Arnold dengan raut wajah memelasnya.
"Ini dauh lebih penting dalipada tangen cama Kak Bel. Ini cemua demi kecehatan Kak Bel. Memangna abang mau talo Kak Bel cakit ladi dala-dala tuman-tuman nakal itu?" kesal Alan yang terus memperingati abangnya itu.
Alan kesal dengan kakaknya yang ngeyel mengenai permintaan darinya itu. Padahal peringatannya itu terbaik untuk semuanya terutama Abel yang memang masih rentan sakit. Apalagi kondisi tubuhnya yang memang belum sembuh total. Sedangkan Rivan yang datang bersama dengan Arnold pun hanya diam saja, mengingat dia memang belum mengenal Abel.
Akhirnya Arnold pun menuruti perintah dari Alan yang menginginkan dirinya untuk membersihkan dirinya dulu. Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Arnold langsung menemui saudara-saudaranya yang lain. Kini berakhirlah Arnold yang memonopoli Abel.
"Bang Anol, dantian dong. Macak cedali tadi ndak mau lepasin Kak Bel sih, Alan duga mau lho peluk-peluk." gerutu Alan yang memprotes kegiatan yang dilakukan oleh Arnold itu.
"Iri tanda tak mampu," ledek Arnold sambil menjulurkan lidahnya kearah Alan.
Alan kesal bukan main dengan Arnold. Pasalnya setiap kali Alan ingin mendekat dan memeluk Abel, Arnold langsung saja menarik Abel masuk dalam pelukannya. Arnold tak suka jika Abel dimonopoli oleh Alan karena sedari pagi pasti kakaknya itu sudah bersama dengan adiknya.
"Sini, biar Kak Anara yang peluk kamu." uap Anara yang kini merentangkan kedua tangannya.
"Ndak mau. Kak Nala bau dengkol," ucap Alan dengan raut wajah sinisnya.
Hahahaha...
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Alan itu sontak saja membuat Arnold, Abel, dan Rivan tertawa. Apalagi melihat wajah masam Anara yang seakan tak terima dengan ucapan Alan itu. Apalagi di rumah ini, tidak ada yang memasak jengkol jadi tak mungkin kalau ada yang sampai ada bau itu.
"Bau wangi bunga melati ini," seru Anara tak terima.
"Woh... Kak Nala dali tubulan ya? Apa dangan-dangan ketompelan cetan ladi," ucap Alan yang kemudian memilih menjauh dari Anara dengan sedikit menari Naufal.
"Ketempelan, Alan," ucap Arnold memperbaiki ucapan dari adiknya itu.
"Woh... Cuah danti belalti. Cejak tapan?" tanya Alan dengan tatapan polosnya.
Arnold yang melihat raut wajah Alan itu ingin sekali mensledingnya. Apalagi raut wajah tanpa bersalahnya itu. Sedangkan Anara yang memang sedari tadi menjadi bahan bullyan Alan itu langsung mendekati adiknya. Bahkan kini Anara langsung merangkul Alan dan mencium pipinya berulangkali.
"Nih...Bau kuburan..." seru Anara dengan terus mengampit leher adiknya itu.
"Ya Allah, Alan bahadia. Cangat... Alan ingin tayak dini telus. Tindal nundu nenek dan kakek tumpul, tita batalan belcama ladi celamana." batin Alan yang tersenyum.
Ada pancaran binaran bahagia dalam mata Alan membuat Arnold yang melihatnya diam-diam tersenyum. Ia tahu kalau adiknya itu sangat bahagia walaupun terlihat gengsi mengungkapkannnya. Apalagi kini semuanya berkumpul tinggal Mama Anisa dan Papa Reza saja yang belum ada.
***
"Pa, bahagia ya lihat anak-anak kumpul seperti ini." ucap Nadia pada suaminya yang ada di sebelahnya.
Keduanya yang tadi berada di dalam dapur langsung saja melihat kearah ruang keluarga setelah mendengar suara tawa dan keramaian di sana. Keduanya berhenti di balik tembok yang berada di dekat ruang keluarga dan melihat kebahagiaan anak-anaknya itu. Mata Nadia sampai berkaca-kaca karena melihat moment ini lagi setelah sekian lama.
"Sangat. Bahagia sekali papa. Tinggal nunggu mama dan papa saja di sini," ucap Andre yang kini pandangannya berubah sendu karena mengingat orangtuanya.
__ADS_1
"Gimana perkembangan kondisi mama dan papa?" tanua Nadia.
"Papa sudah lebih membaik, bahkan tadi malam sudah sadar. Tapi tahu sendiri kan kalau di sini yang kondisinya parah itu mama," ucap Andre.
Andre memang belum sempat untuk menceritakan tentang kondisi kedua orangtuanya pada Nadia. Hal ini karena Andre tak ingin suasana hati Nadia memburam padahal Abel hari ini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Nadia langsung mengelus lembut lengan tangan suaminya untuk memberikan ketenangan.
"Sabar ya, pa. Ujian ini pasti akan segera berlalu. Bunda yakin kalau keluarga kita mampu untuk menghadapi semua ini. Buktinya Abel, dia kembali walaupun keadaannya berbeda. Namun karena dukungan dan kekompakan saudara-saudaranya, terlihat sekali sekarang wajahnya lebih bersinar." ucap Nadia smabil tersenyum.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Nadia itu membuat Andre menganggukkan kepalanya. Namun seketika matanya berbinar cerah karena menemukan suatu ide setelah mendengar pernyataan istrinya. Kini Andre langsung memegang kedua bahu Nadia dengan mata yang berbinar cerah.
"Aku punya ide agar mama dan papa kondisinya segera membaik," ucap Andre membuat Nadia mengerutkan dahinya heran.
"Apa, pa?" tanya Nadia dengan tatapan penasarannya.
"Ajak aja tuh badutnya keluarga kita ke rumah sakit untuk menjenguk mama dan papa," ucap Andre dengan antusias.
"Badut?" tanya Nadia dengan dahinya yang mengernyit bingung.
Tentu saja Nadia bingung dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Di keluarga mereka tak ada badut atau yang profesinya seperti itu. Atau mungkin suaminya itu ingin menyewa badut dan membawanya ke rumah sakit. Sungguh aneh juga jika pemikirannya itu sesuai dengan apa yang diinginkan suaminya.
"Iya, si Alan. Badutnya keluarga kita yang kerjaannya ngelawak sama makan cabe level 100," ucap Andre membuat Nadia menepuk dahinya pelan.
"Cembalanan talo nomong. Nanakna cendili dibilang badut," seru seorang bocah laki-laki yang tak sengaja menangkap pembicaraan Andre dan Nadia.
Bocah laki-laki itu adalah Alan yang memang tadi melihat orangtuanya yang mengintip kegiatannya bersama saudara-saudaranya. Saat keduanya tengah fokus berbincang, Alan diam-diam mendekat kearah mereka. Bahkan Alan mendengar apa kalau papanya menyebut dirinya sebagai badut.
__ADS_1