
"Kak Nala..." seru Alan memanggil kakaknya yang masih berdiri di samping mobil.
Arnold sudah meminta Anara kalau bel pulang berbunyi harus segera pergi ke tempat parkir. Tidak boleh juga kakaknya itu menyendiri dan harus bersama dengan teman-temannya yang lain. Hal ini untuk menghindari adanya orang yang ingin melukai Anara.
Terlebih orang-orang itu takkan pernah bisa melukai seseorang di tempat yang ramai. Bisa ketahuan dan langsung banyak yang jadi saksi atas kejadian itu kalau sampai nekat melukai orang di tempat yang ramai. Maka dari itu Arnold selalu memperingatkan kakaknya itu untuk berada di tempat yang ramai.
Alan dan Arnold saling bergandengan tangan dengan diikuti oleh Ridho yang ada di belakangnya. Tadi Ridho harus mencari alasan pada guru yang masih berada di kelas Arnold mengenai bocah laki-laki itu yang membolos terlebih dahulu. Sehingga Anara harus menunggu lumayan lama di parkiran mobil.
"Ish... Lamanya," protes Anara sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Cabal. Olang cabal antatna lebal," ucap Alan sambil terkekeh geli.
Anara mencebikkan bibirnya kesal mendengar apa yang diucapkan oleh Alan itu. Sedangkan Ridho dan Arnold malah terkekeh geli, suasana yang tadinya sedikit tegang perlahan mencair. Mereka segera saja masuk dalam mobil dengan Ridho yang membantu Alan untuk duduk di sampingnya.
Mobil yang dikendarai melaju keluar dari area sekolah dengan kecepatan sedang. Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang yang melihat kepergian Arnold, Anara, dan Alan. Mereka mengepalkan kedua tangannya saat tahu kalau yang tadi sempat berpapasan itu adalah keluarga dari Abel.
"Sial... Jadi tadi yang kita papasan di lorong itu keluarganya Abel dan Anara. Pantas saja masih kecil gitu sudah songong. Tahu gitu tadi kita keroyok saja," kesal salah satu siswa yang melihat.
"Jangan gegabah. Kita harus cari tahu dulu mengenai kedatangan bocah paling kecil itu ngapain berada di sekolah ini," ucap rekannya sambil menepuk bahunya pelan.
Akhirnya mereka memilih untuk pergi dari sana sebelum beberapa orang mencurigainya. Terlebih sekolah kita tampak ramai dengan siswa yang akan pulang sekolah. Tentunya mereka yang tadi membolos kelas bisa saja malah dicurigai atau dikira seperti penguntit. Apalagi mereka berada di dekat toilet yang jarang dipakai.
***
__ADS_1
"Ayo bersih-bersih dulu. Makan lalu kita kumpul disini lagi," titah Arnold setelah mereka sampai di rumah.
Arnold berusaha untuk mengatur semua yang ada di rumah selama orangtua dan keluarganya yang lain tidak berada di sana. Mbok Imah juga sudah mendekat kearah mereka untuk membantu anak majikannya itu. Terlebih Alan yang kalau mandi masih harus diawasi karena seringnya bermain dengan air.
Anara dan Alan menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka dibantu oleh Mbok Imah untuk naik ke atas tangga agar tidak celaka. Apalagi Alan yang memang suka lari-larian membuat orang di sekitarnya harus waspada dengan bocah laki-laki itu. Arnold yang melihat kedua saudaranya sudah naik ke atas tangga pun langsung merebahkan badannya di atas kursi sofa.
"Semoga kondisi seperti ini tak bertahan lama. Aku sudah rindu dengan suasana rumah yang penuh canda tawa dan teriakan dari nenek juga mama," gumamnya dengan tatapan sendu mengarah pada bingkai foto keluarganya.
"Abang... Buluan andi," seru Alan dari lantai 2 dekat kamarnya.
Arnold yang masih terpaku pada bingkai foto keluarganya pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Alan yang berdiri di pembatas tangga. Bahkan Alan melambaikan tangannya dengan sudah tak mengenakan seragamnya. Arnold yang melihat hal itu langsung saja bangkit dari posisi rebahannya kemudian naik tangga untuk menyusul Alan.
***
Mereka kini sudah ada di ruang keluarga untuk mendiskusikan tentang kejadian hari ini. Anara yang memang tidak ikut berkumpul di rumah Gema, tentu harus diberitahu detailnya. Pasalnya ini juga menyangkut keselamatan Anara dan keluarganya.
"Siapa Kak Gema?" tanya Anara dengan raut bingungnya.
"Dia mengaku sahabatnya Kak Abel. Dia tadi juga yang membantu aku saat para pelaku yang melukai Kak Abel berusaha mencari keberadaanku," jawab Arnold membuat Anara hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons.
Alan yang mendengar perbincangan itu segera saja berdiri kemudian pergi menuju pintu rumah. Alan akan memanggil Ridho yang memang bertugas untuk menjaga anak majikannya itu. Tentu Ridho harus mengetahui tentang semua yang akan mereka bicarakan agar bisa melindungi anak majikannya.
Tak berapa lama, Alan datang bersama dengan Ridho. Bahkan Alan menarik tangan Ridho agar segera berjalan mendekat kearah dua saudaranya yang menunggu. Alan memang tak sabaran untuk membahas misi penting ini agar segera menyelesaikan masalah yang ada.
__ADS_1
"Alan, jangan tarik-tarik tangan Mas Ridho. Nanti bisa putus lho," ucap Arnold menegur adiknya itu.
"Ndak papa, tutus tananna. Yang enting ndak tutus tintana," ucap Alan dengan gaya tengilnya.
Ridho begitu gemas dengan Alan yang masih kecil saja sudah mengerti tentang cinta. Ingin rasanya Ridho mencubit kedua pipi Alan itu namun ia takut kalau malah ditendang oleh bocah laki-laki yang pemberani itu. Mereka pun akhirnya duduk bersama dengan Arnold dan Anara yang hanya bisa menghela nafasnya sabar.
"Jadi gimana Den Arnold? Untuk rencana kita kedepannya," tanya Ridho dengan memasang wajah serius.
"Kita perlu bantuan polisi, Mas Ridho. Tapi kita tak bisa kalau membuat laporan polisi dengan bukti ini saja, sedangkan sekolah masih menutupi kasus ini. Bagaimana ya agar sekolah mau untuk membuka kasus ini secara umum? Apa kita viralkan saja? Tapi nanti kalau kita tak bisa membuktikannya malah jadi kita yang dituntut karena pencemaran nama baik," tanya Arnold bingung.
"Itu Fikri gimana? Sudah bisa dihubungi atau belum," tanya Ridho.
Arnold menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Bahkan bahunya sudah meluruh lesu karena sedari pulang sekolah hingga kini, Fikri dan neneknya sama sekali belum bisa dihubungi. Padahal kasus ini harus segera diselesaikan agar tak menimbulkan banyak korban, terutama Arnold, Anara, dan Alan.
Ridho juga kini langsung terdiam melihat jawaban dari Arnold itu. Alan dan Anara juga tampak serius dengan apa yang dibahas oleh mereka. Keempatnya terdiam untuk memikirkan cara agar bisa membuka kasus ini ke publik. Tentunya tidak akan mudah jika mereka harus berhadapan dengan sebuah instansi tanpa adanya bukti yang kuat.
"Tepon unda caja. Capa tahu unda puna ide," saran Alan.
"Jangan. Bunda masih fokus dengan pengobatan Kak Abel. Sepertinya Kak Abel kondisinya sedang tak baik-baik saja sehingga butuh pengawasan dari Bunda," tolak Arnold.
Mereka berempat pun kembali terdiam untuk mencari solusi dari masalah ini. Mereka harus menemukan cara agar hari ini juga bisa melakukan apa yang direncanakan. Arnold tak ingin kasus ini berlarut-larut, apalagi orang-orang itu terus mengincar keselamatan dirinya dan Anara.
"Alan puna ide..."
__ADS_1