
Alan digandeng tangannya oleh Arnold menatap semua warga yang ada di sana. Ridho, sang sopir keluarga juga ikut turun dari mobil untuk menjaga dua anak majikannya itu. Bahkan tadi ia sudah menghubungi Andre kalau mereka kini sedang berada di daerah tempat tinggal teman Arnold.
Ridho juga mengirimkan lokasi dan foto area sekitar agar jika nanti terjadi sesuatu, Andre bisa segera menemukan mereka. Ridho segera saja berada di belakang Alan dan Arnold untuk melindungi dua bocah laki-laki pemberani itu. Bahkan kedatangan mereka yang tiba-tiba itu sontak saja membuat di sana begitu riuh.
"Wah... Alan tayak altis. Ayo cini yang mau inta andatangan cama Alan, antli dulu. Ayo balis..." seru Alan tiba-tiba.
Arnold hanya bisa menepuk dahinya pelan karena tingkah menyebalkan adiknya itu. Bahkan orang-orang di sana malah terkejut dengan tingkah anak kecil yang sepertinya berasal dari kalangan atas itu. Namun tingkahnya terlihat biasa saja dalam menyikapi keadaan sekitar yang begitu berbeda dengan kehidupannya.
"Alan, mereka bukan mau minta tandatangan kamu. Mereka itu merasa aneh melihat wajah konyolmu itu," uap Arnold menatap adiknya kesal.
"Ish... Abang mah ndak acik, cukana nih malah ndak belain Alan." kesal Alan dengan mengerucutkan bibirnya.
Rivan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari adik Arnold yang malah terlihat senang berada di sini. Rivan pun memperkenalkan Arnold dan Alan kepada warga di sana sebagai temannya di sekolah. Memang warga di sana semua tahu mengenai sekolah Rivan yang kebanyakan adalah siswa yang berasal dari keluarga kaya.
Para warga sangat bahagia karena melihat ada salah satu tetangganya yang bersekolah di sana. Mereka juga berharap ada lagi Rivan lain yang bersekolah di sana dengan beasiswa. Semua warga di sana terkenal baik bahkan selalu berbagi dan membantu di saat yang lainnya tengah kesusahan.
"Kenalin ini teman-temanku. Namanya Arnold dan Alan. Mereka tadi mengantarkanku pulang ke rumah," ucap Rivan sambil tersenyum memperkenalkan temannya.
"Tata capa atu teman tamu? Atu aja macih TK tok bica temenan cama nanak SD," elak Alan membuat Rivan hanya bisa tersenyum canggung.
"Alan, kamu tuh ya. Kan ini juga dikenalinnya baik-baik, masa kamu gitu sih." tegur Arnold.
"Ya deh. Alan temenna tamu, telpakca nih atu ngatu dalipada abang namuk. Inat ya, telpakca." ucap Alan sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Semua orang di sana hanya bisa terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Alan. Hiburan di saat siang menjelang sore yang membuat semuanya terhibur dengan ucapan anak kecil itu. Rivan berpamitan untuk mengajak Alan dan Arnold ke rumahnya dengan sedikit berjalan kaki.
"Ini memangna ndak atan loboh talo Alan macuk? Ni buwat Alan tidul caja talo ketendang bica loboh lho," ucap Alan sambil melongokkan kepalanya ke dalam rumah yang terbuat dari beberapa kardus yang disusun itu.
"Enggak. Aman kok, masuk saja." ajak Rivan pada temannya dan adiknya itu.
"Di lual caja abang Anol. Anti talo lumahna loboh, tita culuh banun ladi lho." ucap Alan yang langsung mencegah Arnold yang ingin masuk ke dalam.
Tentu saja ucapan Alan itu membuat Arnold merasa tak enak hati kepada Rivan. Pasalnya ini sama saja kalau Alan menghina rumah yang ditempati oleh Rivan. Walaupun apa yang diucapkan oleh Rivan ini benar adanya kalau ketendang dia atau Alan pasti akan langsung roboh.
"Emm... Nggak papa kalau kalian mau di luar saja. Duduklah di kursi itu, aku ambilkan minum dulu." ucap Rivan yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
Alan dan Arnold pun segera saja duduk di kursi yang ada di depan rumah itu. Lebih tepatnya itu hanyalah batu bata yang disusun ke atas agak tinggi. Namun Rivan dan orang-orang di sini menyebut hal itu sebagai kursi.
"Liat tuh kaldusna... Balu dimacukin catu olang caja cudah doyang-doyang. Talo tita itutan macuk, pati langcung hancul. Tacian tan talo loboh, teman abang ndak puna lumah agi," ucap Alan dengan pelan.
"Tapi kamu kalau ngomong itu jangan kaya gitu, dek. Kesannya menyelepekan atau merendahkan gitu lho. Lebih baik kamu diam saja daripada ngomong," ucap Arnold menasihati adiknya.
Sebenarnya Alan sengaja mengucapkan kalimat sedikit pedas pada Rivan agar tak membuat keduanya masuk ke dalam rumah itu. Alan tak ingin kalau sampai rumah Rivan roboh akibat sikap.keduanya yang memang sedikit aktif. Alan tak ingin membuat oranglain kesusahan karena tingkahnya nanti.
Tak berapa lama, Rivan keluar dari rumahnya kemudian meletakkan dua gelas air putih di atas batu bata. Rivan juga ikut duduk di sana dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. Rivan tersenyum saat melihat Alan langsung mengambil gelas itu kemudian meminumnya.
"Wah... Tok ail inumna ndak ada lacana ya?" tanya Alan seperti sedang menyindir Rivan.
__ADS_1
"Rivan, punya garam nggak?" tanya Arnold tanpa menggubris ucapan dari Alan.
"Punya. Buat apa? Mau aku ambilkan?" tanya Rivan dengan polosnya.
"Itu mau ku kasihkan di air minumnya Alan, biar ada rasanya." ucap Arnold membuat Alan mendelikkan matanya kesal.
Rivan terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh temannya itu. Sedangkan Alan menatap kesal kearah kakaknya yang tak peka dengan apa yang diucapkannya itu. Padahal Alan itu hanya memberi kode kepada Rivan kalau air minum yang diminumnya sama sekali tak ada rasanya. Jelas saja karena itu hanyalah air putih yang tak ada rasanya.
"Abang cungguh teda cama Alan yang ampan ini. Cungguh, abang ndak belpelikemanuciaan." sindir Alan.
"Rivan, kamu tinggal di sini sama siapa?" tanya Arnold tanpa mempedulikan apa yang diucapkan oleh Alan.
"Sama ibu dan adikku." jawab Rivan dengan santai.
Arnold yang mendengar hal itu tentu saja mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya tadi saat sedikit mengintip di dalam rumah kardus itu, Arnold sama sekali tak melihat adanya seorang wanita paruh baya dan anak kecil di sana. Alan pun begitu, tak melihat siapapun di dalam rumah.
"Ndak ada capa-cap agi adi di lumah tu. Tamu angan ohong dong," kesal Alan yang sepertinya tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rivan.
"Mereka lagi nggak di rumah. Tapi mereka sedang mencari atau menjual barang rongsokan ke pengepul kalau jam segini," jawab Rivan.
"Lho... Aditmu itut telja, tamu napa malah cante-cante di cini?" seru Alan yang langsung berdiri dengan wajah marahnya.
"Itu..."
__ADS_1