
"Kenapa Kak Anara nggak bilang kalau mau ke luar negeri? Tahu gitu Alan belajar bahasa inggris lebih giat lagi. Siapa tahu bisa gombalin cewek-cewek bule di sana," ucap Alan setelah mendengar pembicaraan orangtuanya dengan Anara.
"Cewek terus. Mana ada bule yang mau sama kamu yang ingusan dan mukanya buluk kaya kamu?" ledek Anara.
Alan mendengus kesal mendengar ledekan dari kakaknya itu. Semuanya kini ada di ruang keluarga untuk membahas perihal kepergian Anara ke luar negeri. Hal itu membuat Alan yang tak tahu apa-apa menjadi kesal sendiri.
"Lagian kan yang mau ke luar negeri itu Anara, ngapain kamu pakai belajar bahasa inggris lebih rajin. Aneh," ucap Arnold.
"Soalnya Alan mau ikut ke sana buat liburan," jawab Alan dengan polosnya.
"Liburan nomor satu. Sekolah nomor?" sindir Nadia pada anaknya itu.
"Sekolah nomor seratus," jawab Alan dengan santainya.
Andre hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban anak bungsunya itu. Padahal sudah sering diingatkan oleh yang lainnya agar rajin belajar. Namun sama sekali tak ada yang dilakukan oleh Alan. Nadia dan Andre pun hanya bisa pasrah saja asalkan anaknya tidak melakukan hal yang menyakiti dirinya sendiri dan oranglain.
Bahkan Arnold langsung merangkul bahu adiknya itu dan memeluknya dengan erat. Gemas sekali dirinya dengan Alan yang mulutnya tak pernah bisa direm kalau sudah bicara. Sedangkan Alan hanya bisa pasrah saja diperlakukan bak bayi oleh kakak-kakaknya.
"Berarti tinggal satu bulan lagi ya persiapan untuk Anara ke luar negeri? Nanti biar papa siapkan beberapa dokumen pendukung sama yang lainnya disiapkan sama bunda," ucap Andre.
"Makasih papa, bunda." ucap Anara yang langsung memeluk keduanya.
"Jangan lupa ponselnya dibawa Kak Nara. Harus hubungi Alan setiap menitnya. Lagi dimana, ngapain, dan sama siapanya ke Alan. Jadi kalau ada hal darurat, Alan bisa langsung terbang ke sana." ucap Alan dengan ucapan bernada posesif.
"Mana bisa hubungi setiap menit? Kan kakak harus mandi, kuliah, terus tidur juga." ucap Anara dengan sedikit protesnya.
"Nggak pintar nih Kak Nara. Kan bisa video call dan nggak usah dimatikan 24 jam," ucap Alan memberitahu sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Anara dan yang lainnya hanya bisa menganga tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Alan. Mereka tak menyangka kalau Alan yang selalu mengajak bertengkar dan berdebat itu sangatlah posesif. Apalagi beberapa hal yang menurut mereka sedikit tak masuk akal.
Mereka memilih diam saja karena masih kebingungan dengan jalan pikiran dari Alan. Menghubungi setiap menit dengan video call yang terus aktif 24 jam, itu sudah sedikit membuat mereka kebingungan. Tapi ya sudahlah, Alan kan memang anak yang pikirannya di luar nalar.
***
Keesokan harinya, sekolah Alan digegerkan dengan kedatangan beberapa pelajar SMA yang membawa sebilah balok. Mereka yang baru saja keluar kelas karena jam pulang sekolah sudah usai pun menjadi mengurungkan niatnya. Mereka ketakutan karena banyaknya anak-anak SMA itu.
"Mana yang namanya Alan? Keluar kau sini Alan," teriak salah satu diantara siswa itu.
Alan, Yusri, Lucas, dan Naven yang tengah berjalan kembali ke kelas untuk mengambil tasnya pun seketika terkejut. Apalagi beberapa siswa yang melihat kedatangan Alan langsung menunjuk bocah laki-laki itu. Alan tak menyangka kalau ada siswa SMA yang datang ke sekolahnya dan mencari dirinya.
"Ngapain tuh anak-anak SMA nyariin loe, Lan?" tanya Yusri yang sedikit takut juga.
Apalagi mereka melihat anak-anak SMA itu jumlahnya lebih dari 20 orang. Dengan membawa sebilah balok kayu di masing-masing tangannya. Bahkan guru-guru juga sudah panik apalagi mereka berhasil merangsek masuk ke area lapangan basket.
Walaupun Bu Pur seringkali mengomeli Alan karena tingkahnya, namun wanita paruh baya itu tak tega jika muridnya itu terluka. Apalagi semua yang terjadi dalam lingkungan sekolah ini merupakan guru. Beberapa satpam juga membantu mengusir anak-anak SMA itu, namun belum berhasil.
"Itu, bu." ucap salah seorang siswa dengan berbisik.
Bu Pur yang melihat Alan mendekat kearahnya pun segera menarik mundur. Ia tak mau kalau siswanya terluka jadi lebih memilih akan menyembunyikannya.
"Alan, cepat kamu pulang lewat pintu belakang. Jangan sampai mereka menemukan kamu," ucap Bu Pur memberi perintah.
"Kalau Alan sembunyi, nggak gentleman dong aku. Ibu tenang saja, biar Alan hadapi. Lagian Alan nggak merasa mempunyai masalah dengan mereka kok. Mungkin mereka memang ke sini karena ingin meminta tandatangan Alan saja. Biasa, Alan kan artis terkenal." ucap Alan dengan santainya.
Alan pun memilih segera mendekat kearah mereka yang terus saja menyerukan namanya. Bu Pur yang melihat Alan tak menggubris peringatannya pun hanya bisa mendengus kesal. Padahal ia khawatir dengan bocah itu namun malah seenaknya bercanda.
__ADS_1
"Aku yang namanya Alan. Kenapa, bro? Mau minta tandatangan ya? Sini antri, nggak usah pakai keroyokan begitu. Pasti nanti semuanya dapat kok," ucap Alan dengan santainya.
"Dasar bocah tengil sialan. Siapa juga yang mau minta tandatangan orang kaya kamu itu? Gara-gara kau, teman-temanku jadi seperti dipermalukan," sentak salah satu orang berseragam SMA yang ada di sana.
"Siapa temanmu itu? Ya harusnya mereka malu, masa mau datangin anak kecil sekelas SMP gini pakai ngelibatin orang banyak. Sini kalau berani, hadapi Alan yang tampan ini sendirian. Disaksikan seluruh siswa dan Allah tentunya," seru Alan sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
Bukannya takut, Alan malah seperti sedang menantang semua orang yang ada dihadapannya. Hal itu tentu saja membuat geram mereka. Apalagi kedua teman yang menyuruh mereka itu seperti disindir penakut. Justru malah mereka yang ingin melindungi temannya itu dan tak memperbolehkan ikut.
"Kau pasti kenal Kaka dan Dania, yang kau permalukan di restorant kemarin?" seruseorang siswa dengan name tag "Agus" di seragamnya.
"Oh... Yang punya kisah cinta ngenes bertepuk sebelah tangan itu? Sama yang ditolak sebelum nembak itu kan? Astaga... Bilang sama mereka, gitu aja wafer." seru Alan dengan meledek keduanya.
Ternyata dalang dari semua ini adalah Kaka dan Dania yang kemarin merasa dipermalukan oleh Alan. Mendengar ucapan-ucapan pedas dari Alan itu sontak saja membuat Agus dan yang lainnya geram. Bahkan mereka kini seakan saling memberi kode untuk menyerang Alan.
"Jangan berantem di sini atau saya laporkan polisi," seru satpam sekolah yang sedari tadi sudah mengancam mereka tapi tak digubris.
"Kami tak takut. Harga diri lebih penting. Serang..." seru Agus mengomandoi teman-temannya.
Bugh... Bugh...
Dugh...
Arrghhh...
Rasakan ini...
Awas Alan...
__ADS_1