Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Nenek


__ADS_3

Alan kini berada dalam gendongan Andre dan Arnold memasuki ruang rawat inap Mama Anisa. Mereka menggunakan pakaian khusus untuk memasuki ruangan itu. Bahkan mereka harus dipastikan dalam kondisi steril dan sehat. Mereka ingin melihat bagaimana kondisi dari Mama Anisa yang dirawat di ruangan khusus itu.


"Nenek..." seru Alan saat memasuki ruangan itu.


Nah... Baru masuk ruangan saja Alan sudah mulai terlihat rusuh dengan seruannya yang memekakkan telinga itu. Andre langsung membekap mulut anaknya agar nanti tak mengganggu Mama Anisa. Alan yang merasa didzalimi itu langsung menatap kesal pada papanya.


"Jangan berisik, Alan. Bicara pelan-pelan saja," ucap Andre dengan pelan.


Alan pun menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Melihat Alan menganggukkan kepalanya, Andre langsung membuka bekapan mulut anaknya itu. Walaupun sebenarnya mereka semua memakai masker, namun ternyata itu tak membuat Alan berbicara dengan pelan.


Arnold langsung berjalan menuju brankar milik Mama Anisa. Tubuh neneknya yang hampir penuh dengan alat medis itu membuat Arnold merasa sedih. Sejak kecil, Arnold sangat dekat dengan neneknya itu. Apalagi ia seringkali diasuh oleh neneknya dibandingkan Andre yang sibuk dengan kerjaannya.


"Nenek, bangun yuk. Arnold kangen sama nenek. Jangan tinggalkan Arnold ya, nek." ucap Arnold dengan pandangan sendunya.


"Olang nenek ndak temana-mana tok. Mau nindalin temana coba, aneh nih abang Anol." ucap Alan sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Tentu saja Alan mengucapkan hal itu untuk menutupi kesedihannya itu. Ia juga sedih melihat neneknya terbaring lemah di atas brankar dengan banyak alat medis di tubuhnya. Namun ia tak ingin terlihat sedih di depan semua orang agar mereka tidak ikutan khawatir.


"Iya, nenek nggak akan pergi kemana-mana kok. Cuma tiduran di sini," ucap Andre sambil terkekeh miris.


Andre juga sama sedihnya dengan kedua anaknya. Namun ia seperti Alan yang tak mau terlihat sedih dalam menghadapi cobaan ini. Bahkan Andre berusaha tegar agar anggota keluarganya juga tak merasa sedih. Andre langsung menurunkan Alan dari gendongannya kemudian memeluk Arnold yang masih terlihat sedih.


"Nenek, ayo angun. Lama cekali tidulna, ndak tangen apa cama Alan yang dantengna nalahin Bled Pit ini? Buluan angun, macak iya akek dicuapin cama pelawat cantik. Nenek ndak cembulu apa? Ayo angun..." seru Alan yang kini langsung mengguncang-guncang tangan Mama Anisa.

__ADS_1


Andre mengalihkan pandangannya kearah lain melihat anaknya begitu ingin Mama Anisa bangun. Matanya sudah berkaca-kaca begitu pula dengan Arnold. Keduanya menangis tergugu apalagi mendengar celotehan Alan yang begitu mencubit hati.


"Itu abang Anol cama papa malah nanis. Dimana ini nenek? Talo Alan itutan nanis, tandungdawab ya. Beliin Alan pelmen tati," lanjutnya dengan suara bergetar.


Hiks... Hiks... Hiks...


Tumpah juga akhirnya air mata Alan saat mengucapkan hal itu. Dibalik sikap usil dan ucapan pedasnya, kini ia menangis pilu melihat neneknya tak mau bangun. Bagaimanapun juga ia hanyalah anak kecil yang menginginkan keluarganya kembali berkumpul. Sedangkan Andre yang terkejut dengan tangisan Alan pun langsung menarik tangan anaknya itu.


"Dangan... Alan mau banunin nenek. Nenek halus tandungdawab talna buwat Alan nanis," seru Alan yang kini menolak tangannya ditarik oleh Andre.


Suasana di dalam ruangan khusus itu berisi celotehan Alan sambil menangis, begitu juga dengan tangisan dari Andre dan Arnold. Bahkan suara tangisan mereka membuat suara monitor layar itu tak terlalu terdengar. Alan masih terus mengguncang tangan dan kaki neneknya secara bergantian.


Sedangkan Andre membiarkan anaknya itu melakukan apapun yang ia suka. Ia berharap dengan celotehan Alan itu malah segera membuat mamanya segera bangun. Apalagi mamanya yang masih bergantung dengan alat bantu medis itu, ia yakin dapat mendengar suara orang-orang yang menyayanginya.


"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali di ruangan khusus seperti ini? Ini bisa mengganggu pasien yang bisa saja kondisinya tambah memburuk. Lebih baik kalian keluar dari ruangan ini," titah seorang dokter dari Indonseia yang tiba-tiba masuk ruangan.


Tadi dokter dan perawat yang sedang memantau Mama Anisa dari sebuah layar CCTV dan rekaman suara langsung berlari menuju ruangan khusus. Mereka mendengar adanya suara berisik dengan tangan seorang anak kecil yang menggoyang-goyangkan tubuh pasien. Tentu ini sangat membahayakan pasien, hal itu membuat dokter dan pasien berlarian.


"Capa tamu? Natul-natul Alan. Olang ini nenek atu, cuka-cuka Alan dong. Peldi cana..." seru Alan sambil menghapus air matanya yang jatuh.


Andre dan Arnold juga langsung melepaskan pelukannya setelah mendengar ada seseorang yang masuk. Bahkan Alan yang tadinya menangis langsung menghentikan tangisannya. Ia malu kalau sampai ketahuan menangis di depan oranglain.


"Maaf dokter, kami ini keluarga pasien dan tak berniat untuk menyakiti pasien. Kami berusaha untuk berinteraksi dengan pasien, agar beliau segera sadar," ucap Andre menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi tidak dengan berisik dan mengguncang tubuh pasien seperti ini, pak. Bisa bahaya nanti," ucap dokter itu sambil menghela nafasnya kasar.


"Iya-iya, Alan ndak belicik." ucap Alan dengan pasrahnya.


"Tapi ndak danji," lanjutnya sambil menjulurkan lidah kearah dokternya.


Andre menatap anaknya dengan miris. Padahal ia dan Nadia tak seaktif ini tapi kok ya Alan seberani juga menyebalkan seperti ini. Andre menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memberi kode pada dokter itu sebagai permintaan maaf.


Sedangkan dokter dan perawat itu segera saja keluar dari ruangan itu setelah memeriksa tak ada hal yang membahayakan pasien. Mereka harus sabar pada keluarga pasien yang ada di ruangan khusus ini sepertinya. Apalagi bocah kecil yang nyinyirnya kebangetan itu.


***


"Alan, jangan gitu sama dokternya. Yang sopan, kan mereka menegur juga untuk kebaikan nenek." tegur Andre pada Alan.


"Alan tuh melatutan tayak ditu ndak belmakcud menakiti nenek lho, pa. Olang Alan tuh cayang cekali cama nenek," ucap Alan masih memberikan alasan.


"Iya, papa tahu. Tapi mereka juga bekerja sesuai aturannya. Hal yang kamu lakukan itu tak boleh menurut dokter," ucap Andre.


Alan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sok mengerti. Padahal dalam hatinya, ia malah bodo amat. Yang terpenting baginya itu sang nenek yang segera sadar. Ia sudah rindu dengan neneknya, jadi ingin sekali melihat Mama Anisa membuka mata.


Alan langsung mengalihkan pandangannya kearah Mama Anisa. Tadi ia sempat dinasihati oleh Andre membuatnya harus menghentikan kegiatan membangunkan neneknya. Sedangkan Arnold tampak diam menatap wajah pucat neneknya.


"Nenek..." teriak Alan saat melihat jari-jari tangan Mama Anisa.

__ADS_1


Bahkan kini Alan sampai mengucek matanya berulangkali untuk melihat apa yang ada di hadapannya itu. Andre dan Arnold yang mendengar teriakan Alan pun langsung menatap kearah yang dilihat bocah cilik itu. Sontak saja mata keduanya melotot tak percaya.


__ADS_2