Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Berkumpul 3


__ADS_3

"Jangan teriak, Alan. Lebih baik kamu ini bicara yang lembut sama orangtua. Datangi Paman Ridho lalu mengatakan yang ingin kamu inginkan," tegur Nadia pada anaknya.


"Duh... Alan tuh malas dalan, unda. Lebih platis lho talo teliak itu. Ndak pelu tenada, ladian nih Alan capek abis ulang cekolah." ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.


Mama Anisa yang posisinya kini sedang memangku Alan pun langsung menciumi pipinya. Ia sangatlah gemas dengan cucunya yang cara bicara ceplas-ceplosnya sama dirinya saat muda. Apalagi ucapan pedasnya itu, sama dengannya.


"Memangnya kamu di sekolah ngapain? Orang kamu aja nggak masuk kelas kok sok-sokan capek," kesal Nadia.


"Alan cibuk nitung cemut di halaman belatang cekolah," ucap Alan dengan santainya.


Hahahaha...


Mama Anisa dan Papa Reza tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Alan. Bahkan melihat wajah tengil cucunya itu sudah sangat menghibur keduanya. Inilah yang membuat keduanya tak betah di rumah sakit lama. Mereka rindu kebersamaan keluarganya.


"Nggak sekalin ngitung gula yang dimakan semutnya, den Alan?" tanya Mbok Imah sambil terkekeh geli.


"Lupa, mbok. Becok talo Alan temu cemutna ladi bial atu itung atau tanain," ucap Alan dengan santainya.


"Ada-ada saja," gumam Mbok Imah sambil geleng-geleng kepala.


Tak berapa lama, Ridho masuk ke dalam ruang keluarga karena mendengar teriakan dari Alan. Lebih tepatnya tadi Ibu Rivan memberitahu dirinya yang sedang bersantai di halaman belakang rumah kalau dipanggil Alan.


"Ada apa den Alan memanggil saya?" tanya Ridho dengan sedikit formal.


"Demput abang Anol dali cekolahna. Tacian dia ditindal, ndak itut numpul-numpul tayak dini." titah Alan.


"Eh... Abang Arnold masih sekolah dan belum pulang, nak. Bairkan dulu abangnya sekolah," ucap Mama Anisa yang langsung melarang perintan cucunya itu.


Alan langsung geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari neneknya itu. Ia pikir harus segera membawa Arnold pulang dari sekolahnya. Abangnya itu tak boleh kehilangan moment kebersamaan ini. Apalagi ini untuk pertama kalinya mereka berkumpul bersama dengan lengkap.

__ADS_1


"Nek, cekali-kali bolos ndak papa lho. Abang pintal, ndak atan ketindalan pelajalan." ucap Alan dengan kekehnya.


"Nggak baik kalau bolos, nak. Nggak papa ya, biarkan abangmu sekolah dulu. Kamu istirahat dan makan siang dulu, nanti kita jemput abang sama-sama." ucap Mama Anisa dengan penawaran menggiurkannya.


Mata Alan langsung berbinar cerah mendengar apa yang diucapkan oleh neneknya itu. Ia suka jika akan memberikan kejutan kepada anggota keluarganya. Pasti Arnold takkan menyangka kalau akan diberi kejutan dengan dijemput oleh keluarganya. Membayangkannya saja sudah membuat ia senyum-senyum sendiri.


"Ote... Tita cemua demput abang Anol telus matan-matan di letolan mewah ya," ucap Alan dengan permintaannya.


"Mending jajan sate pinggir jalan," celetuk Anara.


"Talo Kak Nala mau di cana, ya cudah peldi cendili caja. Ntal Alan tacih uang lima libu, tenang caja. Alan tan taya," ucap Alan dengan songongnya.


Anara menatap sinis adiknya yang menyebalkan dan sok kaya itu. Apalagi kini Alan langsung mengeluarkan uang lima ribuan satu lembar dari sakunya kemudian menyerahkan pada kakaknya. Orang-orang dewasa yang melihatnya hanya bisa terkekeh pelan.


"Lima ribu itu satenya cuma dapat empat. Mana kenyang," kesal Anara.


"Kak Nala halusna belcukul bica matan cate walaupun hana empat tucuk. Coba liat di lualan cana, ada yang ndak bica matan dituan lho." ucap Alan memberitahu dengan bijak.


Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan di pikiran kedua orangtuanya. Mereka takut kalau sampai anaknya mempunyai kepribadian ganda. Konsultasi dengan orang yang ahli dalam bidangnya merupakan solusi yang tepat.


***


Siang harinya, semua anggota keluarga Farda sudah bersiap untuk menjemput Arnold di sekolahnya. Bahkan Alan sendiri sudah bersiap sedari tadi dengan mandi lebih cepat. Setelah semua siap, mereka segera menaiki mobil dengan Andre yang mengemudi.


"Abang Anol mana?" tanya Alan sambil melihat kearah sekitarnya setelah sampai di sekolah kakaknya.


Nadia sedari tadi terus memeluk Abel dengan erat. Ternyata Abel memiliki sedikit ingatan tentang sekolah ini sehingga saat melihat tempat ini langsung sedikit gemetaran. Tadi Abel hanya memegang tangannya dengan erat, barulah ia sadar tentang trauma anaknya.


"Alan, coba kamu keluar dari mobil terus cari abang Arnold." titah Mama Anisa.

__ADS_1


"Ish... Nenek cukana nuluh-nuluh Alan. Napa ndak nenek caja?" tanya Alan.


"Nggak jadi surprise dong kalau nenek yang keluar. Gimana sih," ucap Mama Anisa.


Alan pun akhirnya pasrah saja kemudian keluar dari mobil. Sebenarnya Mama Anisa ingin segera pergi dari sekolah itu karena melihat cucunya yang seperti ketakutan. Walaupun ia tak tahu apa yang terjadi, namun ia merasakan khawatir pada kondisi Abel.


***


Tak berapa lama, Alan datang bersama dengan Arnold yang berada pada gandengannya. Rivan sudah dijemput oleh Ridho karena khusus hari ini mereka hanya akan quality time bersama keluarga inti saja.


"Kejutan..." seru Mama Anisa saat Arnold membuka pintu mobil.


Arnold sangat terkejut dengan kehadiran dari Mama Anisa dan Papa Reza. Ia memang tahu kalau hari ini keduanya akan pulang dari luar negeri. Namun tak menyangka jika mereka akan menjemputnya ke sekolah.


Mata Arnold berkaca-kaca dan langsung saja menghambur dalam pelukan neneknya. Arnold terisak lirih karena bahagia dan terharu dengan lengkapnya keluarganya kini.


"Arnold sayang sama nenek. Terimakasih sudah memberikan kejutan tak terduga ini," ucap Arnold.


"Matacihna cama Alan dong. Macak cama nenek dan akek, belkat Alan nih." seru Alan yang merusak suasana haru itu.


"Ganggu..." seru Arnold dan Mama Anisa secara bersamaan.


Arnold dan Mama Anisa langsung melepaskan pelukan diantara keduanya. Keduanya menatap sinis kearah Alan yang suka merusak suasana itu. Sedangkan Nadia dan Andre hanya bisa menahan tawanya melihat muka masam yang ditunjukkan oleh Alan.


"Cabal... Cabal... Meleta tuh bilang tayak ditu talna telpecona dan cayang cama Alan tok. Ndak ucah diambil hati, anti cepat tuwa." ucap Alan yang langsung mengelus dadanya sabar.


"Dih... Terpesona? Situ artis aja bukan. Masa iya terpesona," ucap Arnold yang kemudian duduk di samping neneknya.


"Bilang caja telpecona dan cayang cama Alan. Ditu caja dengsi," seru Alan yang kemudian naik ke dalam mobil.

__ADS_1


Sungguh tingkah Alan dan celotehannya itu membuat gemas sekaligus kesal secara bersamaan. Apalagi bibirnya yang dimonyong-monyongkan itu ingin sekali mereka menguncirnya. Alan segera masuk dalam mobil kemudian kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang.


__ADS_2