Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Suka Bohong


__ADS_3

"Jangan suka berbohong, Alan. Bunda nggak suka. Kamu membolos sekolah kan? Tadi guru di sekolahmu itu menghubungi bunda lho," ucap Nadia yang kesal dengan kebohongan anaknya.


Sebenarnya Nadia hanya pura-pura terkejut dengan kepulangan Alan yang lebih awal ini. Bahkan ia sempat ingin memarahi Alan karena tak rajin sekolah. Salah satu gurunya pun menghubunginya yang mengatakan kalau ini Alan tak masuk sekolah.


Namun setelah tahu kemana anaknya pergi, ia sedikit tersentuh dengan apa yang dilakukan Alan. Ia tak jadi marah, namun malah seakan memuji anaknya. Walaupun mungkin orangtua lainnya akan menganggap dirinya aneh karena memuji anaknya yang membolos. Namun bagi Nadia, ilmu atau pelajaran itu tak hanya didapat dari sekolah saja. Lagi pula Alan masih masuk pendidikan TK, sehingga ia santai saja kalau anaknya masih belum rajin sekolah.


"Unda talo cudah tau, napa tanya ladi cama Alan? Capek Alan tuh talo halus nomong. Mana haus ladi, tapi ndak dicediain minum watu datang," ucap Alan dengan sedikit menyindir Nadia.


"Astaga... Ini anak ngeselinnya. Bukannya minta maaf sama bundanya karena bolos sekolah, ini malah nyindir karena nggak diambilkan minum." ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.


Nadia yang sudah frustasi menghadapi Alan pun segera saja pergi ke dapur. Tentu saja untuk mengambilkan bocah kecil itu minuman. Apalagi melihat mata anaknya yang memerah. Ia yakin kalau anaknya itu sehabis menangis atau kelilipan. Ia sedikit susah untuk membuat Alan terbuka kepadanya.


***


"Opal, mau denelin celita abang Alan ndak?" tanya Alan yang kini berbaring santai di atas karpet ruang keluarga.


Tentunya Naufal yang belum bisa berbicara itu hanya diam saja. Bahkan ia asyik memainkan mobil-mobilannya. Hal itu juga membuat Alan hanya bisa mendengus kesal. Ia ingin mencurahkan semua unek-unek juga masalahnya. Namun ternyata Naufal tak bisa menjadi tumpuannya.

__ADS_1


"Kalau memang Alan mau cerita, ceritalah sama bunda. Alan anggap bunda nih orangtuanya bukan sih? Kok kaya nggak mau seperti Anara atau Abel yang kalau ada masalah pasti cerita sama bunda," ucap Nadia tiba-tiba.


Nadia yang baru saja datang itu tentunya mendengar apa yang diucapkan oleh Alan pada Naufal. Hal ini membuat Nadia langsung memancing Alan agar mau bercerita kepadanya. Mendengar anaknya kau bercerita dengan Naufal itu membuat Nadia yakin bahwa Alan tengah menyimpan sesuatu.


Alan pun langsung duduk dari posisi baringannya. Ia mengambil gelas yang disodorkan Nadia kepadanya. Alan segera minum air putih dalam gelas itu hingga tandas. Nadia menatap anaknya dengan lembut sambil mengelus rambutnya itu.


"Bunda udah lama lho nggak elus rambut Alan gini. Habisnya Alan sok dewasa sih, mau dipeluk bentar aja banyak alasannya." ucap Nadia.


Perubahan Alan yang semakin bertambah usianya membuat hubungan keduanya tak terlalu dekat. Apalagi berbagai masalah yang datang, membuat Nadia tak bisa fokus dengan Alan. Namun setelah ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk meluangkan waktu bagi semua anak-anaknya.


"Nomong apa cih, unda? Alan dah dede ya. Butina banak wewek-wewek yang detatin Alan. Elus caja lambutna papa yang tayak nanak tecil tu," ucap Alan yang langsung mengalihkan pandangannya setelah meletakkan gelasnya.


Namun ia tak boleh egois, ada Anara dan Abel yang lebih berhak mendapatkan perlakuan itu. Anara dan Abel yang butuh perhatian ekstra, apalagi kondisi psikis keduanya yang sedikit down. Hal ini membuat Alan harus sedikit mengalah dan bersikap sok dewasa.


"Ish... Bunda tuh maunya ngelus rambutnya Alan lho, masa papa sih. Ayo dong cerita sama bunda. Bunda ingin lho tahu tentang kegiatan sehari-hari Alan di sekolah," ucap Nadia yang masih membujuk anaknya agar bercerita kepadanya.


"Unda ingin tau kediatan Alan di cekolah?" tanya Alan yang langsung menatap Nadia sambil menaikturunkan alisnya.

__ADS_1


Nadia pun langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Sedangkan Alan yang dengan mudahnya mengubah raut wajahnya menjadi biasa saja itu langsung tersenyum misterius. Hal ini membuat Nadia yang melihatnya menjadi merasakan hawa-hawa tak enak berada di sekitarnya.


"Alan talo di cekolah tuh celalu pacalan cama Cia di taman belatang. Angan lupa talo cemua wewek di cekolah tuh pada nefans cama Alan. Matana Alan talo di cekolah celalu cama Cia yang cembuluan," ucap Alan dengan jawaban asalnya.


"Hei... Bunda dan papa sekolahin kamu itu bukan untuk pacaran atau punya fans cewek-cewek. Sekolah itu untuk belajar, Alan." kesal Nadia yang benar-benar geregetan dengan ucapan Alan itu.


Nadia yang awalnya menganga tak percaya dengan ucapan Alan itu langsung saja memberinya ceramah. Suka asal anaknya ini kalau menjawab pertanyaan yang begitu serius. Nadia ingin sekali menjitak anaknya itu namun sebagai orangtua seharusnya ia bisa meluruskan bukan malah menyakiti Alan.


"Cambil menelam minum ail bial ndak haus, unda. Cambil cekolah, ya cali pacal dan teman wewek yang banak." ucap Alan yang tak mau kalah dari bundanya.


"Ladian Alan tuh cudah pintal. Dulu-dulu caja dah malas najalin Alan kalna telalu pintal," lanjutnya dengan nada sombongnya.


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar alasan yang diucapkan oleh Alan itu. Bahkan kini Alan langsung berdiri dari duduknya. Alan memilih untuk masuk dalam kamarnya, meninggalkan Nadia dan Naufal yang berada di ruang keluarga.


Nadia juga sudah mendengar pernyataan dari guru-guru kalau Alan ini memang jarang aktif di kelas. Kalaupun aktif berbicara, pasti celotehannya itu keluar dari topik pelajaran. Namun yang menurut guru membuat mereka salut adalah keberanian Alan. Alan berani membela diri kalau memang tidak bersalah.


"Mamapin Alan, unda. Ndak pelnah celius talo dawab peltanyaan unda. Alan ndak ingin talo unda tau telus cedih talna mitilin ucapan Alan. Cebenalna Alan juda cuma dalau caja talna kelualga tita ndak tumpul-tumpul tayak temalin," gumam Alan pelan sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Tita pati bica tumpul ladi tayak dulu. Tapi unggu nenek dan akek cembuh ya. Apa Alan cuculin meleta ya? Capa tau meleta cembuh talna denal cuala Alan. Ah... Cepeltina ini ide yang badus, ntal bilang cama abang deh," lanjutnya dengan antusias.


Nadia yang melihat Alan pergi pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Sepertinya dia harus ekstra sabar menghadapi Alan. Setidaknya ia harus menyelesaikan semua masalah satu per satu dulu agar mereka bisa berkumpul kembali seperti dulu. Nadia pun menggendong Naufal menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.


__ADS_2