
Ridho tetap ikut turun dari mobil walaupun Alan sudah memperingatinya agar tidak mengikutinya. Ridho tak mau sampai kecolongan kalau anak majikannya itu nanti malah berbuat ulah di rumah sakit. Saat mengikuti Alan dari jarak sedikit jauh, mata Ridho begitu tertegun dan tubuhnya sedikit membeku.
Di taman rumah sakit itu, Alan duduk bersama dengan pasien yang ada di sana. Bahkan Alan juga langsung membagikan semua hadiah yang diperolehnya untuk mereka semua secara rata. Hal ini membuat Ridho tak menyangka, pasalnya tadi Alan ingin menjual semua hadiahnya itu.
"Ni adiah buwat akak tantik. Ini icina butu, tulis cita-cita dan lencana maca depanmu di cini ya. Alan selalu beldo'a agar kelak kakak bisa jalan lagi dan meraih impiannya." ucap Alan sambil menyerahkan satu buah hadiah berisi buku dan pensil.
"Memangnya aku bisa jalan lagi, ma?" tanya gadis cilik seumuran Abel dan Anara itu kepada mamanya yang berada di sampingnya itu.
"Bica dong. Akak puna dua tati lho, macak ndak bica dalan. Minta cama Allah buwat antat penakitna, angan mudah menyelah. Macih muda lho, coba liat tuh yang tuwa-tuwa macih belucaha buwat dalan walaupun patek tontat," ucap Alan yang langsung menyela ucapan dari gadis cilik itu.
Bahkan Alan langsung menunjuk kearah kakek-kakek yang berjalan dengan memakai tongkatnya. Sontak saja anak-anak yang ada di sana langsung mengalihkan pandangannya. Apalagi gadis cilik bernama Lula itu langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia masih muda, pasti bisa dapat pulih seperti sedia kala atas kuasa Tuhan.
Yang penting dia harus berusaha tanpa pesimis dahulu. Malu juga dia dengan orang yang sudah tua namun mereka masih mau berjalan walaupun dengan alat bantu. Orangtua Lula yang melihat anaknya kini matanya berbinar cerah dan seperti mendapatkan suntikan semangat pun merasa bahagia.
"Iya, Lula mau berusaha untuk bisa jalan lagi. Mama, tolong bilang sama dokter kalau Lula mau melanjutkan terapinya sampai sembuh." seru Lula dengan semangat.
"Iya, nak. Mama dan papa akan langsung bilang sama dokter nanti ya," ucap Mama Lula dengan suara seraknya karena menahan tangisnya.
"Ditu dong, yang cemangat." ucap Alan yang langsung beranjak pergi kearah anak-anak yang lainnya.
Orangtua Lula sangat berterimakasih pada Alan yang bisa membangkitkan semangat dari anaknya itu. Padahal sebelumnya Lula sama sekali tak melanjutkan terapi jalannya karena menurutnya bisa berjalan itu adalah hal yang mustahil. Namun setelah mendengar ucapan pedas Alan malah membuat semangatnya bangkit.
Kebaikan hati Alan inilah yang membuat beberapa orangtua yang ada di taman rumah sakit itu begitu tertegun. Padahal umur Alan masih kecil namun sudah mempunyai hati yang baik. Walaupun caranya dia memberitahu dan memberikan motivasi itu dengan cara mengucapkan kalimat pedas.
__ADS_1
"Napa tamu tok lecu? Tayak Alan nih, cenyum mulu." ucap Alan yang kini mendekati seorang anak laki-laki yang usianya sama dengannya itu.
"Cenyum mulu ntal ditila dila lho," ucap bocah laki-laki itu seperti menyindir Alan.
"Woh... Tamu tatain Alan olang dila? Cenum tuh ibadah tau. Denalin tata pak utad di majid matana bial tau," ucap Alan yang membalas sindiran itu.
Bocah laki-laki yang masih cadel seperti Alan itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Sepertinya berdebat dengan Alan itu hanya akan membuang tenaganya. Apalagi Alan yang terlihat mempunyai sifat yang keras kepala dan ingin menang sendiri.
"Namamu capa?" tanya bocah laki-laki itu dengan tatapan penasaran.
"Jepli Nikol." jawab Alan dengan gaya songongnya.
"Woh... Atuh Alil Noah," ucap bocah laki-laki yang mengaku namanya seperti seorang artis.
Alan dan bocah laki-laki itu langsung saja tertawa setelah sadar dengan apa yang mereka ucapkan. Mereka malah memperkenalkan diri dengan nama artis yang terkenal. Bocah laki-laki yang bernama Tara itu merasa terhibur dengan guyonan receh yang terjadi antara keduanya.
"Nih buwat tamu. Icina cemilan, oh buah nih. Matan yang banak, mutamu pucat tayak abis bedakan 1 tilo bedak bayi." ucap Alan sambil menyerahkan beberapa buah yang masih terbungkus kertas.
Ternyata hadiah yang diberikan oleh panitia itu cukup lengkap. Ada makanan dan buah juga. Beruntung anak-anak yang mendapatkan hadiah makanan dan buah itu langsung membukanya. Sehingga buahnya takkan layu kalau tidak dibuka lama atau disimpan di lemari es.
"Atu ladi cakit, matana pucat." ucap Tara menatap sebal kearah Alan.
"Woh... Matana jada kecehatan, dangan cuka main-main telus. Banak tidul caja," pesan Alan pada Tara.
__ADS_1
"Iya-iya, telimakacih buahna." ucap Tara tersenyum tulus kearah Alan.
"Capa yang tacih buwah ini cama tamu? Bayal cini," ucap Alan sambil menengadahkan kedua telapak tangannya kearah Tara.
Tara yang melihat apa yang dilakukan oleh Alan itu sontak saja kebingungan. Bahkan Tara langsung menatap kedua orangtuanya yang kini malah mengedikkan bahunya. Kedua orangtua Tara juga tak paham dengan apa yang dilakukan oleh Alan.
Pasalnya tadi beberapa anak dan orangtua yang lain juga sempat dibercandai oleh Alan ini. Sehingga mungkin saja Alan ini sedang mengerjai mereka dengan meminta uang untuk membayar. Wajah Alan juga terlihat begitu serius membuat mereka bingung.
"Tala ndak puna uwang," ucap Tara dengan tatapan polosnya.
"Ndak ucah bayal patek uwang. Bayal caja engan bilang talo Alan nih nanak baik dan ampan. Cama Alan minta do'ana bial akak atu cegela cembuh. Akak aku di lumah cakit ini duga balu cakit lho. Temalin balu cadal, padahal dah bebelapa mindu ndak angun. Eh... watu banun malah yupa inatan," ucap Alan dengan mimik wajah sedikit sendu.
Semua orang yang ada di sana tertegun mendengar permintaan dari Alan. Ternyata Alan memberikan semua hadiahnya agar bisa dibayar dengan do'a untuk kakaknya yang sedang sakit. Sungguh saudara yang sangat pengertian dan penyayang, menurut mereka semua yang ada di sana.
"Semoga kakak kamu cepat sembuh ya, nak. Jangan berhenti untuk berdo'a dan berusaha," ucap orangtua Tara yang langsung mengelus lembut rambut Alan.
"Cemanat cehat cemuana," seru Alan yang langsung mengepalkan kedua tangannya ke atas.
"Semangat," seru semua orang yang ada di sana.
Tanpa mereka semua sadari, semua kegiatan dan adegan itu direkam oleh Ridho dengan kamera ponselnya. Bahkan mata Ridho sudah berkaca-kaca melihat kebaikan anak majikannya yang berbeda dari yang lainnya. Ucapannya yang menyebalkan dan pedas, namun tak disangka hatinya begitu baik.
Bahkan ada beberapa dokter dan perawat yang juga menyaksikannya. Mereka ingin sekali bisa mengenal bocah cilik itu. Namun Alan langsung saja pergi dengan berlari setelah berpamitan pada semua orang di sana.
__ADS_1