Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
8 Tahun


__ADS_3

Delapan Tahun Kemudian...


Saat ini umur Arnold, Anara, Abel, dan Alan sudah beranjak remaja. Arnold yang kini berumur 17 tahun, Anara dan Abel menginjak 20 tahun, juga Alan yang berusia 13 tahun. Arnold kini menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, sedangkan Anara dan Abel sudah berkuliah. Untuk Alan sendiri, ia sudah memasuki jenjang pendidikan menengah pertama.


Sifat Arnold yang begitu dingin ketika di luar rumah, membuatnya sangat mirip dengan papanya. Sedangkan kini Abel dan Anara tumbuh menjadi gadis cantik dengan segala sifat cerianya. Abel dan Anara yang tumbuh dengan kasih sayang orangtuanya, menjadi pribadi yang hangat.


Sedangkan Alan sendiri, sifatnya perpaduan antara Andre, Nadia, dan Mama Anisa. Kadang ia bisa sedingin kulkas jika diganggu, namun juga cerewet dan tengil jika dalam keadaan biasa. Masih dengan Alan yang akan membuat keributan di rumah atau sekolahnya.


"Abang, Alan ingin naik motor sendiri." ucap Alan yang kekeh dengan keinginannya.


"Sekolah kamu dekat itu lho, ngapain pakai motor? Kamu juga belum dibolehin pakai motor sama papa," ucap Arnold.


"Kenapa Alan nggak dibolehin? Kan Alan sudah besar ini," tanya Alan.


"Kamu belum punya SIM," jawab Arnold.


"Emangnya kalau naik motor punyanya Opal harus pakai SIM?" tanya Alan sambil mengerutkan dahinya bingung.


Arnold hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ternyata ia sedang diusili oleh adiknya itu. Pasalnya sepeda motor yang dimaksud oleh Alan itu adalah mainan milik Naufal. Sepeda motor yang bergerak menggunakan baterai.


"Bodo amat, Alan. Ngeselin banget sih pagi-pagi," kesal Arnold.


Arnold segera saja berdiri dari duduknya kemudian berangkat ke sekolah. Alan hanya bisa terkekeh geli melihat kekesalan dari abangnya itu. Hari ini Anara dan Abel sudah berangkat kuliah lebih dulu menggunakan mobil.


"Alan... Kamu mau berangkat bareng abang atau sendiri?" seru Arnold yang kini sudah sampai di ruang keluarga.


"Bareng abang saja, biar keren kalau diboncengin sama motor gede." seru Alan yang kemudian berlari menuju abangnya.


Sesampainya di sana, Nadia sudah berkacak pinggang. Pasalnya ia melihat penampilan Alan dengan seragam yang dikeluarkan dan rambut acak-acakan itu. Ia tadi sehabis berbelanja di pasar dengan Ibu Rivan, jadi tak ikut makan bersama Alan dan Arnold.

__ADS_1


"Rapikan seragammu, Alan. Masukkan bajunya dan pakai dasi," titah Nadia dengan mata melototnya.


"Nggak mau. Alan kan badboy keren, masa harus berpakaian rapi. Udah ya bundaku yang cantik, Alan tampan ini harus segera berangkat karena para fans sudah menunggu di sekolah." ucap Alan yang kemudian berlari menyusul Arnold keluar dari rumahnya.


Sebelum Nadia mengamuk, Alan harus segera pergi dari hadapan bundanya itu. Apalagi hidung dan dada bundanya sudah naik turun. Pasti sebentar lagi singa dalam tubuh bundanya itu akan keluar.


"Alan... Masih kecil jangan sok-sokan punya fans. Kamu bukan artis," teriak Nadia dengan kesal.


"Astaga... Sabar, punya anak kaya dia itu emang harus punya kesabaran berkarung-karung." gumamnya sambil menghela nafasnya berulangkali.


***


"Abang, di sekolahnya banyak cewek-cewek cantik nggak?" tanya Alan.


"Nggak ada yang cantik. Yang cantik cuma bunda," jawab Arnold.


Posisinya kini Alan tengah memeluk Arnold dari belakang dengan abangnya yang mengendarai motor besarnya. Ia pergi tanpa menggunakan helm karena jaraknya dari rumah ke sekolah lumayan dekat.


"Wah... Masa nggak ada yang menarik sama sekali sih, bang?" tanya Alan lagi.


"Nggak ada. Yang menarik adalah pelajaran matematika dan fisika," jawab Arnold.


Alan hanya bisa menepuk dahinya pelan. Kalau sudah membicarakan tentang pelajaran seperti ini, membuatnya bak saudara pungut. Arnold, Anara, dan Abel sangat menyukai hal berbau SAINS, sedangkan ia tidak suka itu semua. Ia menyukai segala hal tentang keonaran.


"Abang nggak asyik. Kaya Kak Bel dan Kak Nara semuanya. Huh... Apa serunya semua pelajaran itu? Enak juga bolos sekolah di taman dan nongkrong sama teman-teman," ucap Alan.


"Abang bilangin bunda dan papa ya kalau kamu suka gituan," ancam Arnold.


"Papa dan bunda sudah tahu tuh tentang kebiasaan Alan. Mereka sudah bosan ceramahin Alan," ucap Alan dengan percaya dirinya.

__ADS_1


Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari adiknya itu. Bahkan Nadia dan Andre hanya bisa pasrah saja kalau menemukan surat panggilan dari pihak sekolah di tas anaknya itu.


Alan memang tak pernah memberikan surat panggilan dari sekolah pada kedua orangtuanya. Namun Nadia, selalu memeriksa tas anaknya agar tahu materi pelajaran apa yang sedang dipelajari. Setiap memeriksa tas Alan, yang ditemukan hanya satu buku kosong dan bolpoint. Selain itu, amplop putih berisi panggilan dari sekolah.


"Jangan buat papa dan mama kepikiran sama tingkah kamu itu, dek. Kasihan mereka, sudah tua lho." ucap Arnold memberi pesan.


"Justru karena tingkah Alan ini yang buat bunda dan papa menjadi muda lagi," jawab Alan dengan asal.


"Yang ada papa dan bunda setiap hari darah tinggi," ucap Arnold.


"Enggak tuh, nyatanya mereka malah seperti orangtua berjiwa muda. Datang ke sekolah menikmati nostalgia masa muda dulu," jawab Alan yang tak mau kalah.


Arnold hanya diam saja tak menggubris lagi ucapan Alan itu. Tak berapa lama, sepeda motor milik Arnold memasuki area sekolah Alan. Arnold segera menghentikan laju sepeda motornya kemudian Alan turun. Alan menatap beberapa siswa yang takjub dengan sepeda motor abangnya.


"Abang Alan nih, senggol dong." seru Alan yang kemudian menyugar rambutnya ke belakang.


Huuuu....


"Tenang-tenang, kalau mau minta tanda tangan Alan silahkan antri ya. Tapi bayar, pakai bekal makanan kalian." teriak Alan.


Semua yang melihat dan mendengar Alan itu langsung bersorak. Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar kegaduhan di sekolah Alan ini. Mana Alan yang dengan percaya dirinya berteriak seperti itu lagi. Ia sebagai abangnya saja sudah malu kalau berada di dekat Alan.


"Alan, malu-maluin ih. Cepat itu seragammu dirapikan, hari ini kan upacara." tegur Arnold.


"Di sekolah Alan ini nggak ada upacara soalnya pada takut kulitnya jadi tambah eksotis," ucap Alan yang kemudian melenggang pergi dari hadapan Arnold.


"Alan..." teriak Arnold yang benar-benar frustasi dengan adiknya itu.


Ia yakin kalau yang diucapkan adiknya itu salah besar. Hanya saja Alan yang tak mau ikut upacara. Kemungkinan besar adiknya itu akan membolos lagi. Arnold pun memilih abai kemudian melajukan sepesa motornya menuju sekolahnya.

__ADS_1


__ADS_2