
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di juga negara kelahiran ketiganya. Kini Alan sudah berada dalam gendongan Andre karena bocah remaja tanggung itu ketiduran sejak berada di pesawat. Andre harus mengeluarkan tenaga ekstra demi menggendong anaknya yang sudah begitu berat itu.
"Astaga... Anak kita ini lho, bunda. Kaya nggak tahu situasi. Masa papa yang udah tua ini disuruh gendong dia yang beratnya kaya gini," ucap Andre sambil geleng-geleng kepala.
"Dih... Ngerasa udah tua tapi kelakuan kaya anak kecil juga," ucap Nadia dengan sedikit meledek Andre.
"Kan kemarin khilaf, sayang. Udah jangan dibahas lagi deh. Yang ada nanti malah ribut," ucap Andre yang kemudian takkan mengeluh lagi apalagi mengenai Alan.
Ketiganya segera saja menuju area parkir Bandara. Ternyata di sana sudah ada Ridho yang menunggu. Mereka segera saja masuk dengan dibantu Ridho yang meletakkan Alan di belakang.
"Terimakasih, Ridho. Kamu apa kabar? Beberapa hari nggak ketemu kok wajah kamu lebih sumringah ya," ucap Nadia sambil terkekeh pelan.
"Iya, nyonya. Kabar saya baik. Saya sedang senang karena sebentar lagi istri saya akan melahirkan anak ketiga kami," ucap Ridho dengan antusias sambil mengemudikan mobilnya.
"Tokcer juga loe, Dho. Banyak kali anakmu," ucap Andre dengan sedikit menyindir sopirnya itu.
Ridho memang sudah menikah dengan teman SMA-nya dulu. Setelah Alan memasuki kelas 3 SD, Ridho waktu itu menikah. Alan tak mengijinkan Ridho menikah jika laki-laki itu resign dari pekerjaannya. Alhasil setelah menikah pun Ridho memilih untuk tetap menjadi sopir keluarga Fardha.
"Punya kaca di rumah kan, mas? Anakmu lebih banyak dari Ridho lho," ucap Nadia.
Andre hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia lupa kalau mempunyai anak lebih dari tiga. Akhirnya di dalam mobil itu sama sekali tak ada pembicaraan apapun. Andre memilih diam daripada nanti dibalilkan lagi ucapannya itu. Tak berapa lama, mobil itu memasuki halaman rumah Keluarga Fardha.
"Alan..." teriak seseorang memanggil Alan dari arah dalam rumah saat mendengar suara mobil terdengar.
"Siapa sih? Kok berisik banget. Pasti ini Nenek Hulim yang tukang ngomel itu," gumam Alan yang kemudian menutup kedua telinganya dengan tangan dan melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
"Alan... Bangun, kamu nggak kangen sama nenek cantikmu ini?" teriak seorang wanita tua yang tak lain adalah Mama Anisa.
Bahkan Mama Anisa langsung membuka pintu mobil yang baru saja berhenti. Ia yang melihat Alan tidur pun langsung membangunkan cucunya itu. Andre yang melihat tingkah mamanya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ma, kasihan Alan. Dia kecapekan lho karena perjalanan jauh. Biarkan dulu dia istirahat," ucap Andre menegur mamanya itu.
"Napa sih, Ndre? Mama itu kangen sama cucu bungsu ini. Apalagi sudah beberapa hari nggak ketemu," ucap Mama Anisa yang kesal dengan teguran anaknya itu.
Nadia sudah turun dari mobil, membiarkan ibu dan anak itu berdebat. Ia langsung memeluk Arnold yang sedari tadi sudah memasang mata yang berkaca-kaca. Nadia juga mengecupi pipi dan dahi Arnold itu.
"Akhirnya bunda kembali lagi ke rumah. Jangan pergi lagi, bunda. Bunda itu sudah seperti belahan jiwa Arnold," bisik Arnold dengan suara seraknya.
"Maafkan bunda karena memilih pergi dari kalian. Tapi bunda juga seorang ibu dari adikmu yang tak mungkin membiarkan dia sendirian di luaran sana. Tapi kini bunda kembali dengan Alan, semoga keluarga kita tetap utuh ya." ucap Nadia sambil mengelus lembut punggung Arnold.
Arnold hanya menganggukkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Nadia. Arnold paham kalau bundanya akan lebih mementingkan anak kandungnya dibandingkan dia dan kedua kakaknya. Ia tak tersinggung sama sekali, pasalnya jika ia menjadi Nadia pasti juga akan melakukan hal yang sama.
***
"Lho... Ini kan kamarnya abang Arnold? Kok bisa Alan ada di sini. Apa karena Alan sangat rindu dengan abang ya?" gumam Alan sambil melihat kearah sekelilingnya.
Alan sepertinya lupa kalau ia sudah kembali ke rumahnya. Ia berpikir masih berada di rumah Nenek Hulim di luar negeri. Namun tak berapa lama ia terkejut saat melihat kehadiran Arnold yang tengah duduk di sofa.
"Astaga... Pakai mimpi ketemu Abang Arnold lagi. Nggak beres nih mimpi," ucap Alan yang kini malah menepuk-nepuk pipinya agar bangun dari tidurnya.
"Alan, jangan ditepuk-tepuk keras begitu pipinya. Sakit lho itu," ucap Arnold menegur adiknya.
__ADS_1
Tadi Arnold meminta pada papanya agar Alan dibawa ke kamarnya. Bahkan ia membiarkan saja adiknya itu bangun dalam keadaan linglung. Yang penting bagi dirinya itu adalah melihat wajah menggemaskan adiknya yang kebingungan, sebelum nanti ia sadar dan menjadi menyebalkan.
"Lho... Abang kok ngomong sama Alan? Ini mimpi atau bukan sih," ucap Alan yang kemudian mencubit pergelangan tangannya.
Awww....
"Eh... Kok sakit? Berarti Alan nggak mimpi dong. Ini nyata, abang nyusulin Alan ke luar negeri ya? Kok tahu kalau Alan di sini. Wah... Gimana nih Nenek Hulim itu? Masa bisa dengan mudah Alan ditemukan sih," omelnya pada Nenek Hulim.
"Hei... Dek, kamu kan udah balik ke rumah kita. Kamu lupa ingatan apa gimana? Kan papa dah jemput kamu sama bunda juga," ucap Arnold menjelaskan.
"Hah..."
Wajah cengo Alan itu membuat Arnold ingin menampolnya. Alan masih berpikir keras mengenai apa yang disampaikan oleh Arnold itu. Ia berusaha mencerna ucapan Arnold dan mengingat lagi peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Astaga... Alan baru ingat kalau dibawa pulang sama bapaknya abang itu. Ternyata itu kenyataan ya? Gagal deh punya gebetan bule-bule," ucap Alan yang kemudian membaringkan kembali badannya di atas kasur.
"Masih kecil oyyy... Gebetan mulu yang dipikirin," ucap Arnold yang menegur adiknya itu.
"Masa iya sekolah terus yang dipikirin. Pusing... Yang ada ini otak dan dahi isinya rumus matematika juga fisika," ucap Alan.
Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu. Arnold pun kini berjalan kearah ranjang tempat tidur kemudian membaringkan diri di samping Alan. Arnold memeluk adiknya itu dengan sayang begitu pula Alan membalas pelukan itu.
"Jangan pergi lagi, dek. Abang nggak bisa lho jauh dari kamu. Kalau pergi, ajak abang ya. Abang udah nggak sepintar dulu nih soalnya ada beberapa saraf yang rusak akibat pukulan dari orang-orang itu. Jadi kamu ajarin abang dari awal ya," ucap Arnold mengadu pada adiknya itu.
Deg...
__ADS_1
"Aku akan balas apa yang terjadi pada abangku,"