Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Bimbang 2


__ADS_3

"Kamu jangan pikirkan tentang Arnold, Anara, dan Abel. Nenek akan menjaga mereka bertiga dari jauh sampai nantinya Alan yang akan menggantikannya. Kalau Alan sukses dan punya kekuasaan, ia pasti bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang nenek lakukan. Sekarang ini fokus pada Alan agar dia bisa tumbuh menjadi orang," ucap Nenek Hulim masih terua meyakinkan Nadia.


Pasalnya Nenek Hulim tahu kalau Nadia masih belum bisa meninggalkan ketiga anak sambungnya itu. Ini saja jauh dari mereka sudah berat, apalagi harus ke luar negeri. Maka akan sulit bagi Nadia jika tak bisa bertemu atau sekedar memantau dari jauh.


"Ngomong-ngomong nih, Alan ini orang kan? Kok nenek bilang akan menjadikanku orang. Apa Alan ini robot?" tanya Alan dengan polosnya pada Frank yang ada di hadapannya.


Bahkan kini Alan, Fikri, dan Frank malah seperti orang yang tengah piknik. Ketiganya duduk lesehan di atas lantai tanpa menggunakan alas apapun. Di tengah-tengahnya, ada beberapa cemilan dan minuman kemasan. Itu semua adalah jajanan Alan yang dibelinya dari kantin rumah sakit.


"Wajah sok polosmu itu bikin paman ingin menampolnya pakai botol, Lan." ucap Frank yang merasa ngeri sendiri dengan ekspresi Alan.


"Alan kan memang masih polos, paman. Masih SMP ini lho," ucap Alan memberi pembelaan.


"Serah... Serah..." ucap Frank yang sudah merasa frustasi menghadapi Alan.


Alan hanya bisa terkekeh pelan melihat lawan bicaranya sudah menyerah menghadapinya. Sedangkan Nenek Hulim memilih terus meyakinkan Nadia agar ikut bersama dengannya. Ia juga meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja dan ini yang terbaik.


"Bunda, kalau memang nggak mau ikut sama nenek juga nggak papa. Biar Alan saja yang ikut. Bunda balik lagi aja sama yang lainnya, tanpa Alan." ucap Alan tiba-tiba dengan nada seriusnya.


Alan juga kasihan dengan bundanya. Karena bagaimana pun juga, Nadia pasti bimbang. Walaupun di luar kota seperti ini, mereka masih sedikit bisa memantau kegiatan Anara, Abel, dan Arnold. Tetapi jika di luar negeri, akan susah karena tak mempunyai koneksi. Walaupun ada Nenek Hulim, namun Nadia tak mau sering bertanya mengenai keadaan ketiga anak sambungnya.


"Alan nggak mau tinggal sama bunda?" tanya Nadia pada Alan.

__ADS_1


"Alan mau tinggal sama bunda. Tapi Alan juga mikirin bunda yang nanti malah stress kalau tinggal sama Alan. Pasti bunda khawatir kan sama Kak Bel, Kak Nara, dan terutama abang yang lagi kritis." ucap Alan sambil menatap Nadia.


Nadia terdiam setelah mendengar ucapan Alan. Ia memang masih khawatir dengan keadaan anak sambungnya, terutama Arnold. Ia belum tahu apakah Andre menjaga mereka dengan baik atau tidak. Terlebih keadaan kedua mertuanya yang sudah tua, itu berkumpul menjadi satu di pikirannya.


"Bunda ikut Alan. Apapun yang terjadi, bunda akan bersama Alan." ucap Nadia memutuskan tiba-tiba.


"Bunda yakin? Alan nggak mau kalau sampai bunda tersiksa sama keputusan yang diambil ini," ucap Alan mencoba bertanya lagi.


Nadia menganggukkan kepalanya dengan yakin. Sebelah tangannya memegang erat telapak tangan Nenek Hulim. Berusaha mencari pegangan untuknya bisa bertahan hidup tanpa suami dan anak sambungnya.


"Lalu untuk status pernikahanku dengan Andre bagaimana, nek?" tanya Nadia.


"Nanti kita tanya sama ustadz ya. Jika ini memang kesalahan dari kamu yang pergi, kira-kira bagaimana." ucap Nenek Hulim yang memang terlalu paham dengan hal seperti itu.


Namun Alan kini akan menjadi pribadi yang egois. Apalagi kalau sudah menyangkut kebahagiaannya. Frank diminta segera menyiapkan semua keperluan Nadia dan Alan berangkat ke luar negeri. Alan sendiri sudah yakin dengan pilihannya untuk ikut dengan Nenek Hulim.


***


"Pak, informasi tentang Bu Nadia dan Mas Alan sudah dihapus dari data penduduk dan kewarganegaraan Indonesia hari ini. Ini artinya Bu Nadia dan Mas Alan sudah berpindah kewarganegaraan atau bisa juga menghapusnya," ucap Bayu yang tiba-tiba berbicara pada Papa Reza.


Memang Nenek Hulim langsung bergerak cepat menghapus semua data milik Nadia dan Alan agar keberadaannya sudah ditemukan. Ini untuk melindungi keduanya dari orang-orang yang ingin menemukan mereka. Nenek Hulim juga sudah menempatkan orang-orangnya berada di dekat Arnold, Anara, dan Abel.

__ADS_1


Bagaimana pun juga, ketiganya adalah sosok yang begitu berarti dalam hidupnya. Mereka sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri sehingga takkan pernah ia membiarkan ketiganya terlunta-lunta. Jika ada kesempatan, pasti Nenek Hulim akan mempertemukan ketiganya dengan Alan dan Nadia.


"Apa maksudnya, Bay? Itu artinya ada seseorang yang sengaja menghilangkan jejak informasi Nadia dan Alan?" Tanya Papa Reza yang bingung.


Bayu tengah bertemu dengan Papa Reza yang sedang menunggu Arnold. Hanya ada dia sendiri di sini karena hari memang sudah malam. Ia berjaga sendiri di sini karena yang lainnya ia minta istirahat.


"Iya, pak. Ini pasti ada kerjaan orang dalam atau kekuasaan yang besar. Tak mungkin ada orang yang berani dan bisa menghilangkan informasi data kependudukan seperti ini. Kalau itu bukan orang yang punya berkuasa," ucap Bayu.


Papa Reza hanya bisa meraup wajahnya frustasi. Ia tak menyangka kalau semuanya menjadi rumit begini. Kepalanya pusing dan dadanya sesak karena terlalu kepikiran dengan cucu dan menantunya. Bayu yang melihat papa dari atasannya itu langsung membawanya ke sebuah ruangan yang sudah di sewa.


"Tenang, pak. Kita pasti bisa mencari keberadaan mereka. Kalau bapak kepikiran dan malah stress seperti ini, pasti nanti jantung dan asmanya kumat. Bapak nggak ingin ibu nanti kepikiran bukan? Semangat, pak. Saya akan membantu sekuat tenaga," ucap Bayu meyakinkan Papa Reza.


Papa Reza hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun dalam hatinya, ia tak yakin bisa menemukan mereka. Apalagi jika sudah menyangkut kekuasaan, keluarganya akan kalah.


"Bay, sudah ada yang mengurus tentang permasalahan Alan waktu itu di sekolah? Kok bisa sampai seperti ini kejadiannya," tanya Papa Reza.


"Sudah. Pak Andre yang mengurus semuanya dan kini kasusnya dibawa ke pihak yang berwajib. Beberapa pelaku sudah ditangkap dan dimintai pertanggungjawaban, tapi karena mereka masih anak SMA membuat keluarga minta ditangguhkan dulu. Apalagi mereka akan segera melaksanakan ujian nasional," ucap Bayu memberikan informasi.


"Lalu Andre bersikap bagaimana?" Tanya Papa Reza.


"Pak Andre tetap meminta untuk ditangkap dan penjara. Kalau mereka tak dihukum, beliau minta orangtuanya yang masuk penjara. Walaupun diprotes, tapi Pak Andre tetap dengan pendiriannya," ucap Bayu.

__ADS_1


"Bahkan kemarin Pak Andre kalap menghajar lima orang pelaku hingga babak belur di kantor polisi. Walaupun harus..."


__ADS_2