Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Kondisi Arnold


__ADS_3

Bisa dibilang kondisi Arnold sudah baik-baik saja. Walaupun ada beberapa kerusakan saraf yang mengakibatkan cara berpikirnya melambat, namun itu tak berarti apa-apa. Dokter sudah memeriksanya dan mengatakan jika semua dalam keadaan baik. Cukup dengan melakukan terapi selama beberapa bulan ke depan maka semuanya akan perlahan membaik.


"Jadi dimana yang lainnya, Kak Bel?" tanya Arnold lagi setelah diperiksa oleh dokter.


"Anara kuliah, papa kerja, nenek dan kakek istirahat di rumah. Ini jadwalnya Kak Bel yang jaga kamu, biar semuanya juga bisa istirahat." jawab Abel dengan menyembunyikan kegugupannya.


"Bunda dan Alan?" tanya Arnold.


"Lebih baik kamu istirahat yang banyak, dek. Jangan banyak pikiran dan ngobrol. Nanti malah nggak sembuh-sembuh lho," ucap Abel yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Banyak pikiran apa sih, kak? Orang aku hanya tanya dimana Alan dan bunda kok. Kak Bel tinggal jawab lho," ucap Arnold yang merasa aneh dengan kakaknya itu.


Arnold merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya ini. Apalagi sedari ia sadar, kakaknya terlihat gelisah. Namun Arnold tak mau berpikiran banyak sehingga memilih bertanya dibandingkan menduga-duga. Apalagi kepalanya terasa sakit jika dipakai untuk berpikir terlalu keras.


"Coba pelan-pelan. Ada apa? Pasti terjadi sesuatu kan sama Alan dan bunda sampai Kak Bel nggak bisa jawab pertanyaan mudah dari Arnold," tanya Arnold mencoba menenangkan kakaknya.


"Huft... Alan dan bunda pergi. Mereka menghilang setelah dimarahi papa karena nyebabin Arnold masuk rumah sakit," ucap Abel dengan pelan.


Sontak saja apa yang dikatakan oleh Abel itu membuat Arnold shock. Bahkan Arnold terlihat langsung memegang kepalanya karena merasakan sakit. Abel yang melihat hal itu langsung memeluk Arnold kemudian mengusap lembut kepalanya.


"Jangan pikirkan hal yang berat-berat dulu. Pokoknya Arnold harus sembuh dulu biar nanti kita bisa cari Alan dan bunda sama-sama," bisik Abel pada adiknya itu.


Arnold terdiam sambil memejamkan matanya untuk mentralisir rasa sakitnya. Tak berapa lama, Arnold menghembuskan nafasnya lega karena rasa sakit di kepalanya perlahan menghilang. Arnold hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu sekarang papa dimana? Jawab jujur," tanya Arnold yang langsung membuka matanya.

__ADS_1


"Papa masuk penjara karena menghajar para pelaku pengeroyokan Alan dan pemukulan kamu," ucap Abel menjelaskan.


Arnold mengusap wajahnya kasar. Saat terbangun, bayangannya itu akan disambut oleh keluarganya. Namun yang ada semuanya malah tercerai berai. Arnold pun mengelus lembut punggung Abel yang masih terisak dalam pelukannya.


"Arnold pasti bakalan bikin Alan dan bunda kembali ke rumah. Kita akan bersatu seperti dulu lagi," ucap Arnold penuh tekad.


Abel hanya menganggukkan kepalanya saja. Walaupun ada sedikit keraguan juga dalam hatinya jika bisa membawa Alan kembali. Pasalnya adik bungsunya itu sudah sakit hati oleh sikap Andre. Abel juga tak berani menceritakan tentang Alan yang ditampar oleh Andre. Ia takut jika kondisi Arnold malah memburuk.


Abel melepaskan pelukannya dari Arnold kemudian menghubungi yang lainnya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Anara dan kedua orangtua Andre sudah berada di dalam ruangan Arnold.


"Akhirnya kamu sadar juga, Arnold. Ya ampun, kakak rindu sekali lho sama kamu." seru Anara yang baru saja masuk dalam ruangan Arnold.


"Berisik nih... Sukanya kok ngoceh kaya burung, baru datang juga." ucap Abel menyindir kembarannya.


"Biar suasananya nggak tegang-tegang amat, say. Oh ya... Bel, dapat salam dari aa Gema." ucap Anara menyampaikan pesan dari teman SD Abel dulu.


"Gema siapa? Gema atau gaung?" tanya Abel dengan sedikit bercanda.


"Dikira pelajaran fisika apa yak," kesal Anara dengan candaan kembarannya itu.


"Itu lho teman dekat kamu, yang tinggal di belakang SD. Kalau nggak salah, yang dulu bantuin Arnold cari tahu pelaku pemukulan kamu." lanjutnya menjelaskan.


"Astaga... Gema yang itu. Wah... Apa kabar dia sekarang ya?" tanya Abel dengan antusias.


Pasalnya di saat sekolah dasar dulu, Abel tak terlalu banyak punya teman dekat perempuan. Kebanyakan yang dekat dengannya justru laki-laki. Mereka jauh lebih perhatian dan enak jika diajak bersahabat.

__ADS_1


"Kalian kenapa malah ngomongin cowok? Jangan ngomongin cowok apalagi pacar-pacaran," ucap Arnold menegur keduanya.


"Ya elah, dek. Namanya juga anak muda. Masa nggak boleh pacaran sih? Nenek sama kakek aja nggak ngelarang kok," ucap Anara dengan wajah memelasnya.


Arnold malah menatap tajam kearah Anara. Nyali Anara sudah ciut melihat tatapan tajam adiknya itu. Tatapan tajam bak elang yang membuatnya sangat mirip dengan papanya. Beruntung sifat Arnold itu penyayang dan tidak temperamental seperti papanya.


"Di sini kita berkumpul karena ingin menyambut Arnold yang sadar. Kok malah bahas cowok sih. Itu bahas nanti saja," tegur Mama Anisa.


"Nenek nggak asyik. Kaya nggak pernah muda saja," ucap Anara dengan sedikit menyindir.


Mama Anisa hanya diam saja mendengar sindiran dari cucunya itu. Justru Mama Anisa langsung memeluk cucunya dengan erat. Beban di pundaknya sedikit hilang karena kini sang cucu sudah sadar.


"Jangan sakit-sakit lagi. Kami butuh kamu dan semoga dengan adanya kamu bisa membantu menyelesaikan semua permasalahan dalam keluarga kita. Buat papamu sadar kalau emosinya harus bisa ia kendalikan," bisik Mama Anisa.


Arnold hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia paham dengan apa yang dirasakan oleh Mama Anisa. Neneknya itu pasti kepikiran dengan anak dan cucunya. Apalagi terlihat gurat kelelahan dalam wajah tua itu.


"Nenek tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Yang kita perlukan sabar, do'a, dan berusaha. Do'akan anak dan cucumu ini ya, nek." ucap Arnold.


Kini Anara dan Abel juga langsung menghambur dalam pelukan keduanya. Papa Reza pun juga ikut berpelukan di sana. Mereka harus saling menguatkan dan mencoba memperbaiki apa yang telah rusak. Mereka yakin setelah cobaan ini, pasti hubungan semuanya akan semakin erat.


"Bantu Arnold agar cepat sembuh. Semangat dan do'a kalian yang akan menjadi penguat Arnold," ucap Arnold.


Mereka semuanya menganggukkan kepalanya dengan yakin. Sedangkan di balik pintu ruang rawat inap itu, ada seseorang yang mengintip dan mengabadikan moment kebersamaan mereka. Arnold menyadarinya dan tersenyum smirk karena tahu siapa orang itu.


"Hei penguntit, keluar kau dari tempat persembunyianmu. Jangan jadi pengecut..." teriak Arnold tiba-tiba.

__ADS_1


Sontak saja mereka langsung melepaskan pelukannya dari Arnold. Mereka menatap kearah pintu ruangan yang terbuka sedikit. Di sana tai ada siapapun membuat keempatnya kebingungan.


__ADS_2