
Semua orang langsung mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang berteriak. Ternyata yang berteriak agar perlombaan itu dihentikan adalah Alan. Para panitia lomba benar-benar dibuat mengelus dada dengan tingkah Alan yang harus bersabar. Sungguh mereka baru pertama kalinya menghadapi anak kecil seaktif Alan ini.
"Ada apa lagi, Alan?" tanya salah satu panitia geregetan.
"Mana cambal cama nacina?" tanya Alan tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan oleh panitia lomba.
"Buat apa nasi sama sambal?" tanya panitia itu sambil mengernyitkan dahinya heran.
Sungguh para panitia dibuat bingung dan kewalahan kalau meladeni tingkah Alan ini. Baru saja akan memulai perlombaan namun dengan seenaknya malah dihentikan oleh bocah cilik itu. Tak lupa dengan pertanyaannya yang selalu diluar nalar mereka.
Arnold dan Anara yang melihat tingkah Alan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Keduanya yakin kalau adiknya itu pasti akan melakukan hal aneh-aneh lagi. Mereka yang sebagai saudaranya saja kadang tak bisa memahami Alan, apalagi oranglain.
"Mau dimatanlah, talo ada tlupuk macak ndak ada naci cama cambal. Ndak like ini," ucap Alan yang protes.
Para panitia yang mendengar apa yang diucapkan oleh Alan pun hanya bisa menepuk dahinya. Ini adalah lomba makan kerupuk, namun sepertinya Alan salah paham. Waktu untuk lomba jadi terganggu karena ulah Alan ini.
"Ini bukan lomba makan nasi ditambah kerupuk dan sambal, dek. Ini hanya lomba makan kerupuk saja. Ayolah... Berteman dengan kami agar acara ini selesai tepat waktu," ucap salah satu panitia dengan setengah memohon.
Pasalnya mereka sudah sangat frustasi untuk menghadapi Alan ini. Namun kalau diusir, pasti para panitia yang akan disalahkan. Bagaimanapun mereka itu sudah dewasa dan pemikirannya jauh lebih baik. Sehingga akan dipandang pihak yang salah karena melarang atau mengusir anak kecil.
"Teman Alan dah banak. Dimana talo dadi pacal Alan caja?" tanya Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kebetulan yang memohon agar Alan mau berteman dengannya itu adalah seorang perempuan. Tentu saja Alan tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merayu panitia itu. Sontak saja semua orang yang mendengar hal itu langsung terkekeh dan tertawa.
__ADS_1
Cieee... Cieeee...
Sorak sorai keriuhan teedengar akibat ucapan Alan itu. Panitia yang digombali oleh Alan itu malah terlihat kebingungan karena dirayu oleh anak kecil. Arnold yang melihat kegenitan adiknya itu langsung saja berjalan mendekat kearah Alan.
"Maafkan adik saya, kak. Obatnya ketinggalan, jadi gitu deh agak miring dan suka ngelantur omongannya," ucap Arnold dengan menatap kesal kearah adiknya itu.
"Woh... Aditna cendili ditatain ndak walas. Beldoca tamu," ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.
Arnold tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu. Arnold langsung menarik adiknya agar kembali pada posisinya yang benar. Sedangkan para panitia memilih untuk tak ikut campur lagi. Yang terpenting bagi mereka adalag acara ini segera selesai dan berjalan dengan lancar.
"Alan, kalau kamu masih membuat ulah lagi maka abang pastikan buat tarik kamu pulang ke rumah." ucap Arnold dengan sedikit mengancam adiknya.
Alan pun menganggukkan kepalanya pasrah. Padahal ia seperti ini juga untuk menghibur semua orang yang ada di sana. Namun ternyata mereka bersikap kaku dan tak bisa diajak bercanda. Tentu saja semua ini berdasarkan panitia yang ingin segera selesai kegiatannya.
"Hole... Alan bapat banak adiah lho. Mayan nih talo didual, Alan dadi taya." ucap Alan yang membawa semua hadiahnya dalam satu kantong plastik besar.
Hampir semua perlombaan Alan ikuti dan bocah cilik itu selalu menang. Itu semua tentunya karena semua anak-anak yang mengikuti lomba yang sama dengannya selalu diintimidasi olehnya. Walaupun begitu, ketangkasan dan kecepatan bocah cilik itu memang perlu diacungi jempol.
"Itu kan hadiahnya ada alat tulis dan beberapa makanan, masa iya dijual. Bisa dimakan atau buat sekolah lho," ucap Arnold yang membantu adiknya membawa semua hadiah itu.
Alan, Anara, dan Rivan juga mendapatkan beberapa hadiah dalam perlombaan ini. Namun memang mereka hanya mengikuti 3 lomba saja. Mereka tak ingin mendominasi perlombaan karena khawatir kalau yang lainnya tak mendapatkan hadiah.
"Cuka-cuka Alan dong. Tan ni adiahna Alan, telcelah Alan mau diapatan." ucap Alan yang yang seakan tak terima dengan saran yang diberikan oleh Arnold itu.
__ADS_1
Arnold pun sekarang memilih diam saja karena malas berdebat dengan adiknya. Tak berapa lama berjalan, mereka pun akhirnya sampai di rumah. Mereka segera membersihkan diri kemudian makan malam bersama.
***
"Alan ndak ucah cekolah. Alan mawu ke lumah cakit caja," ucap Alan yang memberi perintah Ridho agar tak mengantarkannya ke sekolah.
Setelah sarapan tadi, Ridho langsung mengantar ketiga anak majikannya dan Rivan ke sekolah. Setelah sampai di sekolah Arnold, Anara, dan Rivan segera saja ia memastikan ketiganya masuk dengan selamat. Ridho melajukan mobilnya kembali menuju sekolah Alan.
Namun Alan malah tak ingin diantarkan ke sekolah. Justru anak majikannya yang satu ini memintanya untuk mengantar ke rumah sakit. Ridho sedikit bimbang karena takut mendapat amukan dari majikannya jika membuat Alan membolos sekolah lagi.
"Nanti papa dan bunda marah lho kalau kamu membolos sekolah lagi. Kak Abel sudah ada yang menjaga di rumah sakit, jadi kamu tenang saja." ucap Ridho memberi pengertian.
"Alan mau te lumah cakit butan buwat dagain Kak Bel lho. Sok tau ih," ucap Alan dengan menatap sinis kearah Ridho.
Ridho yang mendengar hal itu langsung mengernyitkan dahinya bingung. Perasaan kalau anak majikannya itu ingin ke rumah sakit pasti akan menjenguk atau menjaga Abel. Hal ini membuat Ridho sedikit was-was, pasalnya tingkah Alan ini kadang tak terduga.
"Lalu den Alan ini mau ngapain ke rumah sakit? Kalau bukan menjaga atau menjenguk Kakak Abel," tanya Ridho dengan tatapan penasarannya.
"Dangan tepo ulucan nanak tecil, paman." ucap Alan memperingati.
"Lho? Bukannya den Alan ini sudah bukan nanak tecil lagi ya," ucap Ridho sedikit meledek sambil menirukan ucapan cadel anak majikannya itu.
Alan merasa acuh dengan ledekan dari sopir keluarganya itu. Alan terus memaksa Ridho agar melajukan mobilnya kearah rumah sakit. Ridho pun akhirnya pasrah saja mengikuti keinginan Alan itu. Walaupun resikonya tentu akan diomeli oleh majikannya. Tak berapa lama, mobil berhenti di rumah sakit yang sama dengan Abel yang juga dirawat di sana.
__ADS_1
"Paman Lidho di cini caja, ndak ucah itutin Alan." peringat Alan yang langsung keluar dari mobil setelah kendaraan itu terparkir rapi.