
Malam hari waktu setempat, Andre telah sampai di negara maju itu. Ia segera menginap di sebuah hotel yang berada di dekat Bandara. Untuk selanjutnya, dia akan istirahat dulu dan melakukan pencarian istri juga anaknya pada pagi hari.
"Semoga pencarianku besok berhasil. Setidaknya aku tak berlama-lama di negara ini. Apalagi mama dan papa juga anak-anak pasti sudah tak sabar menanti kedatangan Nadia dan Alan," gumam Andre yang kemudian memejamkan matanya di atas kasur empuk hotel itu.
***
Hatchi...
Malam yang lumayan dingin itu membuat seorang pemuda tanggung bersin-bersin akibat sesuatu yang ia rasakan. Ia merasa akan ada sesuatu yang menimpa dirinya hari ini atau entah kapan. Bahkan malam ini ia terbangun dengan perasaan was-was. Pemuda itu adalah Alan.
"Apa yang akan terjadi? Atau ada yang lagi ngomongin gue ya? Wah... Nggak bisa dibiarkan ini. Padahal lagi asyik-asyik tidur malah ngomongin Alan yang tampan ini. Apa dia ngefans sama Alan? Oh... Pasti, siapa juga yang nggak ngefans sama cowok paling tampan ini." gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
Kalau bunda dan neneknya tahu kegiatan Alan malam ini, pasti mereka akan tertawa. Apalagi Alan bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Alan pun melanjutkan tidurnya dan mencoba membuang perasaan was-was dalam dirinya.
***
"Alan, kok belum pakai seragam?" tanya Nadia yang melihat anaknya keluar dari kamar dengan baju santai.
"Alan nggak mau sekolah di sana lagi. Semuanya aneh bahkan Alan nggak ngerti sama bahasanya," ucap Alan menggerutu.
Kemarin sepulang sekolah, Alan memang tidak menceritakan tentang kejadian di sekolah kepada keluarganya. Ia juga malas menjelaskannya karena mereka memang menginginkan dirinya tetap masuk sekolah itu.
"Kamu kan cerdas, masa pakai bahasa begitu nggak bisa?" tanya Nenek Hulim mengernyitkan dahinya heran.
"Alan bisanya bahasa jawa dan Indonesia kali, nek. Sudahlah... Alan mau pensiun dini dari sekolah, anggap aja aku udah lulus S3," ucap Alan dengan santainya kemudian memasuki ruang makan.
__ADS_1
Nenek Hulim masih tak percaya dengan kemampuan Alan yang katanya tak bisa menyesuaikan diri dengan bahasa yang digunakan di sini. Padahal Alan sampai benar semua saat menjalankan test tertulis yang bahasanya dari negara ini.
"Alan, kalau lulus S3 itu kamu harus melewati SMA dan kuliah juga lho," ucap Nadia.
"Kan Alan bilang anggap saja, bunda." ucap Alan sambil menghela nafasnya sabar.
Nadia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ternyata kemampuannya bersilat lidah saat berdebat itu ternyata telah hilang. Padahal dulu saat remaja ia selalu pintar berkilah, namun sekarang malah semua sikapnya berpindah pada Alan.
"Sabar, nanti kita bicarakan ini pelan-pelan dengan dia. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tak mau sekolah begini," ucap Nenek Hulim dengan sedikit berbisik pada Nadia.
Nadia pun menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka bertiga makan dengan tenang, sedangkan Fikri sudah berada di kampusnya sejak pagi karena ada acara. Bahkan Alan pun ingin sekali menyusul kakaknya itu.
"Alan sudah selesai makan. Bolehkah kalau hari ini Alan pergi ke kampusnya Kak Fikri?" tanya Alan meminta ijin pada Nenek Hulim dan Nadia.
"Boleh," jawab Nenek Hulim dengan senyuman penuh artinya.
"Kita cari tahu dulu apa kesukaan Alan itu. Siapa tahu setelah melihat kampusnya Fikri, dia ada termotivasi untuk sekolah tinggi." ucap Nenek Hulim yang mengerti akan kebingungan Nadia.
"Apa nenek yakin? Pasalnya Alan itu suka godain cewek-cewek lho, nek. Nanti malah bikin pusing Fikri," ucap Nadia sedikit khawatir.
"Nggak papa. Biar dia lakukan apa yang dia inginkan. Pasti kampus juga bakalan heboh nih dengan kedatangan cucu tampan nenek" ucap Nenek Hulim tak kalah antusiasnya.
Nenek Hulim langsung pergi ke kamar untuk ganti pakaian. Ia juga akan ikut ke kampus Fikri demi memeriahkan acara di sana. Tentu saja bersama Alan nanti akan membuat kampus heboh. Sedangkan Nadia hanya bisa bengong melihat keduanya itu.
***
__ADS_1
"Ayo semangat, Andre. Hari ini berkeliling dulu di dekat perusahaannya Nenek Hulim. Pasti aku bisa mendapatkan petunjuk dari sana," gumam Andre setelah memastikan dirinya siap.
Pakaian tertutup digunakan oleh Andre agar bisa menyamar. Apalagi orang-orang Nenek Hulim itu begitu cerdik. Jangan sampai ia ketahuan dengan Nenek Hulim dan anak buahnya. Pasti akan semakin susah ia mendapatkan informasi tentang keberadaan keduanya.
Andre melakukan check out di hotel dengan menarik kopernya. Setelah selesai, ia memasuki sebuah mobil yang disewanya selama empat hari ke depan. Ia mengendarai mobilnya dengan mengandalkan sebuah aplikasi maps menuju perusahaan Nenek Hulim.
"Kok belum ada tanda-tanda Nenek Hulim atau Frank datang ya? Padahal aku sampai juga sebelum jam masuk kerja. Apa mereka nggak datang? Atau malah sudah datang duluan tapi sembunyi-sembunyi," gumam Andre dari dalam mobilnya.
Ia bisa memasuki halaman parkir perusahaan Nenek Hulim karena saat itu bersamaan dengan masuknya karyawan ke sana. Setelah itu, Andre memilih untuk duduk di dalam mobilnya agar bisa mengawasi sekitar. Apalagi tempat parkirnya itu begitu strategis karena berdekatan dengan area parkir milik pemilik perusahaan.
"Pak, Pak Frank sedang berada di kantor tidak ya? Ini saya hubungi kok nggak bisa," tanya Andre pada satpam yang berjaga.
Terpaksa Andre keluar dari tempat persembunyiannya dan menanyakan tentang keberadaan Frank. Sudah lebih dari dua jam ia menunggu, namun tak ada tanda-tanda kedatangan laki-laki itu. Satpam yang melihat kedatangannya pun langsung saja menatap Andre penuh selidik.
"Anda siapa? Kok pakai masker dan topi kaya orang-orang lagi nyamar gitu," tanya satpam itu yang waspada dengan kehadiran Andre.
"Saya teman kecilnya. Saya ke sini untuk memberikan kejutan, tapi kok malah nggak datang-datang ya." ucap Andre dengan memberikan alasan.
"Coba hubungi dulu, pak. Atau saya hubungi Pak Frank saja," ucap satpam itu membuat Andre sedikit panik.
Tak mungkin juga kalau Frank itu langsung percaya dengan apa yang diucapkan oleh satpam di perusahaannya. Pasti Frank akan menyuruh anak buah Nenek Hulim agar memeriksa tamunya itu. Andre dengan cepat memutar otak untuk mencari alasan yang tepat.
"Eh... Kalau kasih tahu Frank berarti nggak jadi kejutan dong. Saya kan ke sini mau kasih kejutan soalnya dia belum tahu kalau saya pulang dari Indonesia," ucap Andre mencoba menahan aksi dari satpam itu.
"Jadi tolong kasih tahu saya dimana keberadaannya sekarang," ucap Andre dengan sedikit memohon.
__ADS_1
Satpam itu terdiam sebentar. Posisinya akan terancam kalau sampai salah memberi keputusan. Apalagi ini menyangkut orang penting di tempatnya bekerja.