Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Bunda


__ADS_3

"Bunda ngapain di sini?" tanya seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun, yang tak lain adalah Alan.


"Ya ngapain lagi kalau bukan ketemu dan pergi sama Alan. Alan itu anak kandung bunda, mana bisa jauh dari kamu." ucap Nadia sambil tersenyum.


Tadi Nadia memang tak ke kamar mandi, melainkan pergi melewati sebuah pintu keluar samping rumah sakit. Ia ingin menyusul anak bungsunya karena takut terjadi sesuatu dengannya. Walaupun ia juga menyayangi ketiga anak sambungnya, tapi Alan yang notabene anak kandungnya harus ia utamakan.


Ternyata saat berjalan melewati beberapa gang kecil dan area perkampungan, ia bertemu dengan Alan yang tengah bersembunyi. Bocah laki-laki itu bersembunyi dari kejaran Andre, Papa Reza, dan ketiga temannya. Di sebuah taman kecil di dekat area perkampungan itu keduanya bertemu. Beruntung di sana tak ada jalan besar sehingga tak mungkin dilewati oleh Andre dan yang lainnya.


"Bunda bukan disuruh mereka untuk bawa Alan kembali, kan? Ah... Tapi masa iya mereka menginginkan Alan kembali. Terutama tuh suaminya bunda," ucap Alan yang sepertinya ogah untuk menyebut papanya.


"Enggak. Ini bunda cari kamu memang ingin pergi sama kamu. Ayo kita cari kebahagiaan bersama... Kalau papa nggak menginginkan kamu, tapi bunda yang adalah ibu kandungmu akan lebih memilih kamu." ucap Nadia sambil tersenyum.


Alan yang mendengar apa yang diucapkan oleh bundanya itu langsung melihat tatapan mata Nadia. Terlihat hangat, menenangkan, teduh, dan meyakinkan. Namun ada juga pancaran seakan kasihan dengan nasib Alan.


"Bunda mending balik lagi ke rumah sakit. Abang, Anara, dan Abel butuh bunda." ucap Alan sambil menghela nafasnya pasrah.


"Memangnya Alan nggak butuh bunda?" tanya Nadia dengan mata berkaca-kaca.


"Alan sudah terbiasa sendiri. Ada atau tidaknya bunda dan yang lain, Alan masih bisa bertahan." jawab Alan dengan lirih.


Nadia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Nadia langsung menarik Alan masuk dalam pelukannya. Ini semua salahnya karena tak terlalu mempedulikan intens anak bungsunya ini. Seharusnya ia memberikan kasih sayang lebih untuk Alan.

__ADS_1


Hiks... Hiks... Hiks...


Dalam pelukan Nadia, Alan menangis terisak. Hal itu membuat Nadia juga ikut menangis. Keduanya melampiaskan sesak dan kesedihan dalam hatinya lewat tangisan juga pelukan itu. Mereka harus bisa saling menguatkan agar nantinya bisa memutuskan keputusan yang tepat.


"Bunda, Alan butuh bunda. Alan bohong kalau nggak butuh bunda. Tapi saat ini abang lebih butuh bunda," ucap Alan yang memberontak dalam pelukan Nadia.


Nadia menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan ucapan Alan. Memang Arnold membutuhkan dia di saat kondisi kritisnya. Namun Arnold sudah ditemani oleh banyak orang, sedangkan Alan sendirian. Tentu saja Nadia akan lebih fokus pada Alan daripada Arnold. Hidup di dunia luar sendiri tanpa pendamping atau orang dewasa.


"Sekali-kali kamu boleh egois, nak. Pentingkan juga hidupmu dan dirimu sendiri dibandingkan oranglain. Arnold dan kedua saudaramu memang butuh bunda, tapi kamu juga membutuhkannya. Jadi ayo kita mulai hidup berdua. Kita lewati apapun yang terjadi ke depannya bersama-sama. Kamu mau kan hidup berdua bersama bunda? Bunda bukan orang kaya seperti papamu, tapi bunda akan mengusahakan yang terbaik untukmu." ucap Nadia sambil menatap mata Alan.


Wajah keduanya sudah basah dengan air mata. Bahkan Alan sampai sesenggukan karena mendengar ucapan Nadia. Alan menganggukkan kepalanya. Alan menyetujui keinginan Nadia untuk hidup berdua dalam kesederhanaan. Alan juga bukan seorang yang lebay dan gengsi hidup sederhana.


Justru hidup sederhana dan bahagia bersama bundanya itu jauh lebih menyenangkan, menurutnya. Nadia menarik Alan untuk berdiri kemudian mereka berjalan mencari tempat tinggal untuk sementara waktu. Setidaknya mereka harus mempunyai tempat persembunyian sementara.


"Bunda, Alan masih punya tabungan dari uang saku yang bunda kasih. Kita lebih baik ke luar kota sekalian saja bagaimana? Kalau di sini, pasti yang lainnya tetap bisa menemukan kita." tanya Alan pada sang bunda yang sepertinya sudah kelelahan berjalan.


"Tapi apa kamu bawa uang itu, Alan? Dompet bunda saja ini lupa nggak kebawa. Di sana juga ada ATM milik bunda saat masih belum menikah dan uang nafkah dari papamu," tanya Nadia dengan tatapan menyesal.


Cerobohnya Nadia, dompet yang biasanya selalu ia bawa malah tertinggal di rumah. Yang dibawa dalam tasnya kini hanya ada ponsel. Rencananya ia akan menjual ponsel itu untuk biaya hidup sementara.


"Bawa, bunda. Kan ada di ATM," jawab Alan dengan polosnya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu punya ATM? Bukannya kamu kalau nabung itu pakai celengan ayam itu," tanya Nadia dengan sedikit bingung.


"Bunda sih nggak pernah nengok ke Alan. Ini dibantu sama abang Arnold bikin rekening dan ATM. Uang yang ada di celengan ayam, semuanya sudah dimasukkan ke sana." ucap Alan.


Jawaban Alan itu membuat Nadia merasa tertohok dan bersalah kepada anaknya sendiri. Ia malah seperti tak tahu apa-apa tentang anak bungsunya ini. Yang Nadia lihat selama ini hanyalah Alan yang selalu mendapatkan surat cinta dari sekolah.


"Maafkan bunda," ucap Nadia dengan lirih.


"Nggak papa, bunda. Lagian itu udah berlalu, Alan nggak permasalahkan. Ayo jalani hidup baru, bunda..." serunya mencoba untuk mencairkan suasana.


Lagi pula Alan itu tak bermaksud menyindir bundanya. Alan menggandeng tangan bundanya kemudian berjalan kearah ATM terdekat. Beruntung di dekat sana ada supermarket yang dalamnya terdapat ATM.


"Bunda, tunggu sebentar ya. Alan mau ambil uang dulu. Tenang saja, uang Alan banyak. Kita bisa beli pesawat juga kok pakai ATM ini," seloroh Alan dengan gaya sombongnya.


"Ada-ada aja sih, nak. Mana bisa beli pesawat pakai ATM khusus pelajar seperti itu," gumam Nadia sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya itu.


Nadia duduk di dekat pintu masuk supermarket. Ia ingin melihat area sekitar sekaligus mengawasi jika ada yang mengikuti. Lingkungan di sini lumayan sepi, apalagi pada jam-jam ini masih banyak yang bekerja.


Tak berapa lama, Alan keluar dari supermarket dan menyerahkan segepok uang pada sang bunda. Nadia mengernyitkan dahinya heran dengan uang yang diberikan oleh anaknya itu. ATM yang digunakan oleh Alan itu pasti ada limitnya dan hanya bisa untuk penarikan di bawah 20 juta. Sedangkan yang ada di tangannya ini melebihi jumlah itu.


"Kamu dapat uang sebanyak ini darimana Alan? Kan ATM kamu nggak mungkin bisa ngeluarin uang sebanyak itu dalam penarikannya," tanya Nadia yang malah takut sendiri.

__ADS_1


"Alan punya uang banyak. Tadi habis ngepet di dalam," ucap Alan yang malah bercanda.


Tanpa mempedulikan kebingungan sang bunda, Alan menarik tangan Nadia agar segera pergi. Bahkan Nadia tak diperkenankan bertanya apapun tentang uang itu. Nadia malah ngeri sendiri saat memegang uang yang ada di tangannya itu.


__ADS_2