
"Siapa yang kamu maksud, Arnold? Nggak ada siapapun kok di sana," tanya Mama Anisa sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Ada. Orang yang mengagumi Kak Bel tadi ada di sana. Oh jangan lupakan kalau ada orang yang masih penasaran dengan hubungan keluarga kita," ucap Arnold penuh teka-teki.
Semuanya langsung mengernyitkan dahinya heran karena tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Arnold. Sifat Arnold yang hampir sama dengan Alan membuat mereka kadang tidak bisa mengerti jalan pikiran keduanya. Malah kadang tebakan keduanya itu membuat semuanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh di luar nalar.
"Tunjukkan kalau kita semua baik-baik saja. Maka dia akan keluar dengan sendirinya," ucapnya lagi.
"Kamu ngomong apa sih, nak? Siapa yang mengagumi Abel? Si Gema itu?" tanya Papa Reza.
Arnold hanya mengedikkan bahunya acuh sebagai jawaban dari atas kebingungan keluarganya. Seakan Arnold ingin membuat penasaran semuanya. Apalagi melihat kondisi kakak, nenek, dan kakeknya yang tak mungkin ikut campur dalam urusannya ini. Biarlah itu menjadi urusannya.
"Sudah, nggak usah ngomongin hal kaya itu. Arnold mau istirahat, pusing kalau ngomong terus-terusan." ucap Arnold yang kemudian memejamkan matanya.
Padahal keluarganya begitu menampilkan raut wajah penasarannya. Namun melihat Arnold yang sepertinya memang harus banyak istirahat, membuat mereka memilih membiarkannya saja. Keempatnya segera duduk di sofa untuk mengistirahatkan diri.
***
"Sialan... Kok bisa tahu sih kalau ada yang nguntit. Apa jangan-jangan dia juga tahu identitasku lagi?" gumamnya setelah berlari keluar dari area rumah sakit.
Setelah Arnold meneriakinya sebagai penguntit itu, sosok laki-laki dengan memakai celana jeans dan hoodie hitam bertopi itu langsung berlari. Ia tak mungkin menunjukkan wajahnya secepat ini. Apalagi ia masih mempunyai hutang budi pada keluarga Farda ini.
"Semoga saja Arnold nggak tahu siapa aku. Kalau iya, rugi juga aku menyamar gini." lanjutnya yang kemudian pergi berlalu dari rumah sakit.
__ADS_1
Rencananya penguntit itu akan pergi ke kantor polisi untuk menemui Andre. Ada beberapa hal yang harus ia lakukan, terutama membebaskan Andre dari penjara. Ia tak rela jika keluarga Farda hancur hanya karena kesalahpahaman.
***
"Alan, kamu jadinya mau lanjut di sekolah mana?" tanya Nenek Hulim sambil menunjukkan beberapa sekolah yang ia cari di internet.
Alan langsung mengambil ponsel milik Nenek Hulim dan melihat apa yang ada di sana. Dahinya mengernyit heran melihat tulisan yang ada di layar ponsel neneknya itu. Tulisan berbahasa Inggris yang tak terlalu Alan pahami.
"Alan mau sekolah negeri saja, nek. Yang gratis terus ada dana bantuannya itu lho. SPP-nya graris, terserah dimana." putus Alan sambil menyerahkan ponsel milik Nenek Hulim.
"Mana ada sekolah kaya gitu di sini, Alan. Kalau mau beasiswa ya kamu harus ikutan test dan membuat karya apa gitu." ucap Nenek Hulim yang geram dengan permintaan Alan.
"Emangnya nggak ada? Di Indonesia ada lho, nek. Wah gimana ini? Kalau bayar ya mending Alan nggak usah sekolah saja. Alan mau kerja aja deh di sini," ucap Alan sambil menganggukkan kepalanya.
Cucunya yang satu ini memang sangat unik. Padahal tinggal menunjuk ingin sekolah dimana tapi malah ngajak berdebat terlebih dahulu. Apalagi Alan yang malah menginginkan sekolah gratis di saat dia bisa membiayai semuanya. Bahkan jika Alan meminta disekolahkan di sekolah internasional pun ia langsung mengiyakannya.
"Alan tahunya di bawa ke sini buat sukses, nek. Bukan buat sekolah. Lagian cari ilmu itu nggak harus dari sekolah kan? Nenek sudah tua lho. Kalau sampai saat ini masih kerja dan mikirin soal sekolah Alan, kapan nenek istirahat dengan tenangnya?" tanya Alan dengan wajah disedih-sedihkan.
"Kamu do'ain nenek istirahat dengan tenang di kuburan gitu?" seru Nenek Hulim yang kesal dengan ucapan Alan itu.
"Astaghfirullah... Nenek salah paham nih. Maksudnya istirahat di rumah dan nggak usah mikirin kerjaan. Kasihan badannya lho, nek." ucap Alan langsung meralat ucapannya.
Nenek Hulim terus saja menghela nafasnya berulangkali karena berbincang dengan Alan ini memang butuh tenaga dan kesabaran yang ekstra. Ia sampai bingung sendiri harus bagaimana menghadapi Alan yang begitu cerewet dan pintar bersilat lidah ini.
__ADS_1
"Kamu ini sebenarnya memang perhatian sama nenek atau merayu agar dibolehin kerja heh? Ingat ya Alan, nenek nggak akan pernah biarin kamu kerja saat usia kamu aja masih di bawah 17 tahun. Nenek masih bisa membiayai kamu makan dan sekolah bahkan sampai S3," ucap Nenek Hulim dengan tegas.
"Sayangnya Alan ndak mau sekolah setinggi itu, nek." ucap Alan yang kemudian merebahkan kepalanya di atas pangkuan neneknya.
"Bocah aneh. Di sekolahin gratis sampai kuliah nggak mau. Malah pingin kerja, maumu tuh apa to sebenarnya?" tanya Nenek Hulim yang gemas dengan cucunya itu.
"Mau Alan itu bisa buktiin pada laki-laki itu kalau Alan bisa hidup tanpa dia. Entah bagaimana caranya, tapi Alan mau kerja." ucap Alan dengan tegas.
Bahkan kedua telapak tangan Alan mengepal dengan eratnya. Nenek Hulim yang melihat hal itu segera saja mengelus lembut lengan tangan Alan. Nenek Hulim juga kesal dengan sikap Andre yang terkesan membeda-bedakan perlakuannya pada tiga anaknya yang lain. Namun ia juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan laki-laki itu.
"Jangan terlalu benci sama papamu. Bagaimanapun juga dia adalah orangtuamu yang patut kamu hormati. Seburuk-buruknya dia, Andre adalah papamu. Alan kan anak baik, jadi nggak boleh dendam sama papanya. Memberi peringatan dan pelajaran itu nggak papa, tapi jangan sampai dendam." ucap Nenek Hulim memberi pengertian.
"Alan bukan anak baik. Alan anak sialan, pecicilan, begajulan, bodoh, dan nggak berguna. Jadi bolehlah ya kalau dendam dan tak menghormati dia?" ucap Alan sambil terkekeh sinis.
Sontak saja Nenek Hulim hanya bisa menghela nafasnya kasar. Sepertinya akan sangat susah bagi Nenek Hulim untuk membuat Alan tak membenci papanya itu. Namun ia yakin kalau Alan itu mempunyai sisi lembut apalagi terhadap keluarganya sendiri.
Alan langsung saja beranjak dari baringannya dan pergi dari hadapan Nenek Hulim. Kedua tangannya juga masih terlihat mengepal erat saat Alan pergi dari sana. Nenek Hulim segera pergi menemui Nadia di kamarnya untuk membicarakan masalah Alan.
"Sialan... Gue bakalan bales tamparan yang anda berikan. Entah itu secara langsung atau tidak," gumam Alan yang kini berada di belakang rumah sambil menatap lurus ke depan.
Menatap tajam pohon besar yang ada di depannya seakan apa yang kini ada di hadapannya itu adalah Andre. Telapak tangannya terangkat ketas kemudian...
Bugh... Bugh...
__ADS_1