Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Mall


__ADS_3

Sesampainya di mall, Arnold segera memarkirkan kendaraannya di samping sepeda motor teman-temannya yang lain. Sedangkan Alan langsung turun dari sepeda motor abangnya. Arnold langsung menggandeng adiknya mengikuti lainnya yang telah berjalan lebih dulu.


"Mau kemana dulu kita?" tanya Dania pada semuanya.


"Gimana kalau kita beli baju atau jaket dulu? Atau mau langsung makan siang?" tanya Kaka memberi ide.


Semuanya berunding kecuali Arnold dan Alan yang seakan disisihkan. Padahal sedari di kelas tadi, mereka yang begitu antusias mengajak Arnold pergi ke mall. Namun saat sampai mall, mereka seakan bergerombol sendiri. Bahkan Arnold hanya didiamkan saja, beruntung ada Alan yang menemani.


"Ini sudah siang woyy. Alan mau makan," seru Alan tiba-tiba.


Sontak saja teman-teman Arnold yang sedari tadi berdiskusi pun mengalihakan pandangannya. Mereka tak menyangka kalau adik dari Arnold itu berani juga terhadap teman-teman abangnya. Padahal wajah-wajah teman Arnold itu sedikit jutek dan sangar.


"Oh... Iya, kita lupa kalau tadi mengajak Arnold sama adiknya. Habisnya beberapa tahun nggak pernah ikut sih, jadi lupa kan," ucap Kaka sambil terkekeh pelan.


"Dasar nggak tahu diri, udah maksa ajak ikut orang eh dilupain. Tapi nggak papa sih, abang Arnold pasti juga malas meladeni mereka kan? Ayo abang, kita makan saja. Habisin uang papa yang segunung itu," ucap Alan yang kemudian menarik tangan Arnold.


Arnold hanya diam saja melihat perdebatan Alan dengan teman-temannya. Bukan tak ingin membantu, hanya saja Alan itu lebih pintar dibanding dirinya jika berdebat dengan orang-orang seperti temannya. Arnold berjalan mengikuti Alan yang masih menarik tangannya dengan santai.


Sedangkan teman-teman Arnold hanya bisa menganga tak percaya. Mereka pikir adik dari Arnold itu imut, nice, dan lucu namun pada faktanya malah bermulut pedas. Tak berapa lama, mereka tersadar saat sudah ditinggalkan oleh Arnold dan Alan pergi menuju sebuah restorant.


"Kalian ini, kita niatnya ke sini biar bisa senang-senang. Malah buat ulah," ucap Kenny sambil geleng-geleng kepala.


Kenny pun segera mengikuti Arnold dan Alan berjalan pergi, sedangkan yang lainnya seakan kepikiran dengan ucapan temannya itu. Walaupun pada akhirnya mereka memilih mengikuti Kenny, Arnold, dan Alan.


"Nasi goreng, burger, red velvet, puding strawberry, dan air mineral. Hmm... Sama french fries masing-masing dua," ucap Alan memesan banyak makanan untuk keduanya.

__ADS_1


"Kok cuma dua?" sela Kaka saat mendengar pesanan dari Alan.


Alan mengerutkan keningnya heran mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Kaka. Mereka tadi ke restorant itu hanya berdua, ia tak peduli kalau ada oranglain yang tiba-tiba saja datang itu. Kalau mereka mau pesan, biarlah memesannya sendiri.


"Lah... Situ siapanya Alan? Alan cuma mau pesankan punya abang tersayang aku," ucap Alan dengan sinisnya.


"Kan bisa sekalian," ucap Dania sedikit kesal dengan tingkah Alan itu.


"Punya mulut kan? Tinggal pesan saja, ngapain nyuruh-nyuruh orang. Toh habis pesan itu langsung BAYAR," ucap Alan dengan berseru di akhir kalimatnya.


Alan segera membayar semua makanan yang dipesannya itu kemudian duduk di tempat yang sedikit pojok. Arnold juga mengikuti adiknya dengan sedikit melirik sinis kearah Dania dan Kaka. Sepertinya Arnold harus memberi hadiah pada Alan yang membuat teman-temannya kicep.


Apalagi ia tahu maksud dari Kaka dan Dania yang ingin ikut memesan makanan bersama itu. Pasti itu karena ingin sekalian dibayarin. Enak saja, Alan dan Arnold itu bukanlah orang yang mudah dibohongi. Kenny juga langsung memesan makanannya dan beranjak pergi.


"Jangan membuat ulah. Aku murni ingin berteman dengan Arnold. Lagian siapa juga yang mau bayarin makanan orang-orang tak tulus kaya kalian," ucap Kenny dengan sedikit berbisik kearah Dania.


Karena Kaka tak terlalu suka dan dekat dengan Arnold, ia akhirnya mengajak Kenny. Walaupun tak terlalu dekat, namun Kenny itu orangnya friendly pada siapapun. Sehingga dengan Arnold mempunyai hubungan pertemanan yang baik walaupun hanya berkomunikasi saat di sekolah saja.


***


"Arnold, ini aku ada salah sayur lho. Mau aku suapin?" tanya Dania dengan antusiasnya memulai aksi pendekatannya.


"Emangnya tangan abangku lumpuh, sampai makan aja harus disuapin." ucap Alan dengan sedikit menyindir Dania.


Arnold dan Kenny menahan tawanya mendengar ucapan pedas dari Alan itu. Bukannya marah, Arnold malah setuju dengan apa yang diucapkan oleh Alan. Sedangkan Dania hanya bisa menahan malu dan kekesalannya karena merasa kehadirannya tak dianggap.

__ADS_1


"Bukan gitu maksudku, Dania kan cuma ingin Arnold merasakan salad sayur ini. Siapa tahu diq juga suka," elak Dania.


"Kita ini orang kaya, kalau mau beli salad ya tinggal bilang saja. Ngapain pakai nyicipin pakai punyai oranglain," ucap Alan dengan sombongnya.


Di mata Alan, apa yang dilakukan oleh Dania itu membuatnya risih. Apalagi sok mau dekat dengan abangnya. Padahal abangnya itu tidak mau memikirkan hal-hal tentang pacaran. Hubungannya dengan Nilam dulu saja hanya sebatas sebagai sahabat saja hingga kini.


"Sombong banget sih kamu, anak kecil. Nggak usah ikut-ikutan deh," seru Dania yang kesal dengan Alan.


"Biarin sombong. Toh Alan punya semua itu, buka nyombongin yang nggak aku miliki." ucap Alan dengan santainya.


Dania sampai menghentakkan kakinya berulangkali karena kesal tak bisa membalas ucapan Alan. Padahal ia juga bermulut pedas, tapi tak sepedas Alan itu. Sedangkan Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perdebatan itu.


"Dania, tolong jangan ajak adikku berdebat. Cukup makan dan nikmati saja makananmu. Saya tak terbiasa mencicipi makanan milik oranglain," ucap Arnold dengan tegasnya.


"Satu lagi, saya tahu maksudmu melakukan itu. Kalau kamu bermaksud mendekati saya karena tertarik, maaf saya sedang tak berminat menjalin hubungan lebih dari teman." lanjutnya dengan ucapan formalnya.


Bahkan Arnold langsung mempercepat kegiatan makannya itu. Ia ingin segera pergi dari sana membuat Alan ikut mempercepat makannya. Bahkan dengan tak tahu malunya, Alan mengambil kotak bekalnya yang kosong kemudian mengambil puding dan cake yang belum dimakan.


Beruntung tadi temannya mengembalikan kotak bekal yang dipinjam kemarin. Sedangkan Dania sudah seperti tak punya muka lagi karena modusnya ketahuan. Kenny hanya diam mencerna perdebatan itu sambil makan makanannya.


"Alan, masa puding dan cake kamu jadiin satu gitu ih." kesal Arnold menegur adiknya.


"Mubadzir, bang. Sudah dibayar ini lho, mayan ini buat oleh-oleh bunda sama nenek." ucap Alan sambil tersenyum.


"Nggak sopan. Kan bisa kita yang makan saja, masa dibawa pulang." sindir Kaka.

__ADS_1


"Dih... Mau? Beli dong," seru Alan dengan mulut nyinyirnya membuat Kaka ingin sekali menaboknya.


__ADS_2