Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Si Mulut Pedas


__ADS_3

"Ayo masuk," ajak Arnold pada Rivan dan ibunya yang seperti takut untuk keluar dari mobil.


Pasalnya rumah di depan mereka itu sangatlah besar dan keduanya tak menyangka kalau akan menginap di sini. Ada rasa takut yang dirasakan keduanya setelah sampai di sini. Pasalnya mereka tahu kalau di dalam rumah ini pasti akan ada barang-barang mewah yang kalau dipegang bisa membahayakan.


Membahayakan dalam artian bisa rusak kalau tersenggol sedikit saja. Sedangkan Ridho sendiri sudah menggendong Naufal keluar dari mobil diikuti oleh Alan dan Arnold. Rivan dan ibunya masih terpaku dengan rumah juga sekitar halaman.


"Yo macuk, angan cungkan-cungkan. Andap caja lumah cendili, acal angan menculi di lumah Alan. Anti Alan endang tuh tati dan anganna," seru Kei memperingatkan.


Mendengar seruan dari Alan itu sontak saja membuat keduanya langsung tersadar. Lagi pula mereka memang tak berniat untuk mencuri apapun di rumah ini. Kalimat yang diucapkan oleh Kei itu seakan memberi peringatan pada keduanya agar tak macam-macam di rumahnya.


Rivan dan ibunya pun keluar dari mobil kemudian berjalan mengikuti yang lainnya masuk dalam rumah. Saat sampai di ruang tamu, mereka disambut oleh Nadia yang telah menunggu kedatangan semuanya. Terlebih Nadia sudah diberitahu oleh Andre kalau akan ada yang menginap di rumah.


"Selamat datang di rumah kami," ucap Nadia sambil tersenyum.


"Terimakasih sudah mengijinkan kami menginap di sini," ucap Ibu Rivan dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Nadia yang tahu kalau Ibu Rivan merasa canggung dan tak enak hati kepadanya pun langsung merangkul bahunya. Walaupun baru bertemu beberapa menit saja, namun Nadia bisa merasakan kalau Rivan dan keluarganya ini adalah orang baik.


"Ayo... Biar saya tunjukkan kamar untuk kalian istirahat dan membersihkan diri," ucap Nadia yang kemudian menarik tubuh Ibu Rivan.


Rivan dan Ridho yang menggendong Naufal langsung mengikutinya. Tentu saja Rivan dan Naufal harus segera mandi agar tak kedinginan terlebih hari sudah menjelang malam. Tak lupa kalau Alan dan Arnold juga langsung masuk kamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


***


"Unda, Opal tidul baleng Alan ya?" ucap Alan sambil menatap Nadia dengan tatapan permohonan.


"Maaf, nak Alan. Sepertinya Naufal biar tidur sama kami saja soalnya nanti takutnya kalau mengompol atau tidurnya nggak bisa diam," ucap Ibu Rivan menolak keinginan Alan.


Alan yang mendengar hal itu segera saja mengerucutkan bibirnya kesal. Keinginan Alan yang memang seperti sudah tak bisa diganggu gugat itu harus pupus karena alasan masuk akal dari Ibu Rivan. Namun Alan tak mau jauh dari Naufal karena sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.


"Biar ibunya yang menjaga Naufal, Alan. Kamu aja tidurnya nggak bisa diam kok, yang ada nanti Naufalnya malah kamu tendang." ucap Nadia sambil terkekeh geli.


"Unda angan pitnah Alan ya. Mana ada Alan tidulna gelak telus. Alan talo tidul tu dame dan cangat enang kok," elak Alan yang tak percaya dengan ucapan dari Nadia itu.


Arnold langsung saja menunjuk kearah CCTV yang ada di ruang keluarga. Tadi setelah semuanya membersihkan diri, langsung saja berkumpul di ruang keluarga. Rivan dan Naufal begitu senang bisa melihat tontonan TV seperti orang-orang yang mempunyai rumah asli.


"Ayo kita makan malam. Jangan sampai kita keasyikan ngobrol malah lupa untuk makan." ajak Nadia pada semuanya.


Alan dan Arnold langsung saja berdiri diikuti oleh Rivan juga ibunya. Naufal kini berada dalam gendongan ibunya. Bahkan Nadia telah menyiapkan kursi khusus untuk balita itu agar semuanya bisa makan dengan tenang. Rivan dan ibunya merasa terharu melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.


Baru kali ini mereka bisa melihat langsung bahkan makan makanan sesuatu yang hanya bisa diangankan dalam mimpi saja. Kedua mata keduanya berkaca-kaca membuat Nadia langsung mengerutkan dahinya heran. Nadia memang belum sepenuhnya tahu tentang bagaimana kehidupan Rivan dan keluarganya karena tadi sibuk bermain dengan Naufal.


"Napa angis? Matananna kulang mewah atau dimana?" tanya Alan yang melihat Rivan dan ibunya meneteskan air mata.

__ADS_1


Rivan dan ibunya yang mendengar hal itu langsung saja mengusap air mata yang jatuh pada kedua pipinya. Sedangkan Nadia dan Arnold juga langsung melihat kearah mereka. Nadia mengelus bahu Ibu Rivan yang menyunggingkan senyum tipis kearahnya.


"Ini bukan kurang mewah. Ini sangat mewah sampai kita merasa terharu karena bisa melihat bahkan merasakannya. Terimakasih tante, akhirnya makanan yang Rivan lihat di kantin sekolah itu bisa aku makan hari ini." ucap Rivan sambil tersenyum dengan tulus.


Makanan yang dijual di kantin memang beragam namun kurang lebihnya hampir sama dengan yang ada di atas meja makan. Tak lupa kalau beberapa jus buah juga tersedia di sana membuat Rivan meneguk salivanya kasar. Nadia yang mendengarnya tersenyum bahkan menahan tangisnya yang seakan ingin pecah.


"Jadi Rivan kalau di sekolah suka lihatin makanan di kantin?" tanya Nadia dengan lembut.


"Iya, bunda. Bahkan Arnold lihat kalau Rivan hanya melihat saja dan katanya udah kenyang lho," ucap Arnold.


Nadia yang mendengar hal itu tersentak kaget. Alan pun juga langsung mengerutkan dahinya heran dengan apa yang diucapkan oleh Arnold itu. Padahal kalau di kantin itu seharusnya makan buat melihat orang makan dan itu bisa kenyang.


"Mana bica liat matanan tu cudah tenyang? Kak Lipan ohong nih. Cukulin anti dimalahin Allah talo ohong," ucap Alan dengan sinisnya.


"Talo ke tantin tuh ya matan, macak liatin matanan. Naneh..." lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Nadia sudah paham kalau Rivan melakukan itu karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Nadia hanya bisa meraup wajah anak bungsunya itu karena mengucapkan ucapan pedas untuk Rivan. Rivan pun memaklumi itu karena memang tingkahnya ini sangat aneh.


"Kita makan dulu yuk. Nanti kita cerita-cerita lagi." ucap Nadia.


Semuanya menganggukkan kepalanya kemudian makan dengan tenang. Alan yang melihat Rivan dan ibunya makan dengan lahap sambil sesekali menyuapi Naufal pun diam-diam tersenyum tipis. Ini yang ia harapkan, semua orang yang ada di dekatnya bisa merasakan kecukupan walaupun dalam segi makanan.

__ADS_1


Alan segera saja melanjutkan makannya dengan sesekali dirapikan oleh Nadia. Pasalnya Alan masih sedikit kikuk saat memegang sendok dengan banyak nasi dan lauk. Bahkan nasinya juga berceceran kemana-mana, itulah yang membuat Nadia dan Arnold lebih sering menyupi Alan dibandingkan bocah cilik itu makan sendiri.


__ADS_2