
Semuanya kini tengah berada di ruang keluarga setelah makan malam usai. Alan yang duduk di karpet bersama Naufal dengan bermain mobil-mobilan pun seakan tak mempedulikan yang lainnya. Bahkan saat Nadia dan Ibu Rivan beserta Arnold berbincang pun mereka hanya terus saja bermain.
"Jadi ibu sekarang kerja dimana?" tanya Nadia dengan hati-hati.
"Saya kerjanya dimana saja, bu. Cari barang bekas yang bisa dijadikan uang," jawab Ibu Rivan.
Nadia menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah jawaban itu, tentu Nadia paham kalau kemungkinan kehidupannya begitu sulit. Pasalnya penghasilan seorang pengepul barang bekas itu tidak tentu. Bisa saja mendapatkan hasil yang banyak, tak pula juga pendapatannya tak ada sama sekali.
Nadia yang mendengar cerita dari Ibu Rivan itu tentunya merasa terharu. Perjuangan seorang single mother yang akan selalu melakukan apapun untuk kebutuhan anak-anaknya. Nadia langsung memeluk Ibu Rivan dari samping seakan memberikannya kekuatan.
"Ibu hebat. Teruslah hebat dan kuat dalam menjaga juga mendidik anak-anakmu," bisik Nadia tepat pada telinga Ibu Rivan.
Ibu Rivan menganggukkan kepalanya. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan kedua anaknya. Ia pun harus bisa bekerja keras agar cita-cita anaknya bisa tercapai. Arnold tersenyum melihat ibunya begitu perhatian dengan sesamanya. Padahal mereka baru saja kenal namun sudah seakrab ini.
"Bu, kami di sini butuh seorang asisten rumah tangga. Kalau ibu mau, ibu bisa bekerja di sini. Kan Naufal juga kasihan kalau harus ikut ibu bekerja di jalanan seperti itu," ucap Nadia menawarkan pekerjaan kepada Ibu Rivan.
Pasalnya Mbok Imah saat ini fisiknya sudah tak sekuat dulu. Mbok Imah juga harus bolak-balik pulang ke rumahnya karena melihat kondisi suaminya yang sakit. Sebenarnya Mama Anisa ingin Mbok Imah istirahat saja di rumah untuk menjaga suaminya itu. Namun Mbok Imah tak mau karena mendapatkan kenyamanan cuma-cuma tanpa bekerja.
Semua memang ditanggung oleh keluarga Farda karena Mbok Imah sudah dianggapnya sebagai keluarga. Bahkan semua biaya pengobatan suami Mbok Imah ditanggung oleh mereka. Mama Anisa kemudian berpikiran untuk menambah satu asisten rumah tangga agar bisa meringankan pekerjaan Mbok Imah. Namun belum sampai niatnya itu terwujud, Mama Anisa malah mengalami kecelakaan.
"Totok..." seru Alan sambil mengacungkan kedua jempol tangannya kearah Nadia.
"Cocok, dek. Totok itu nama orang," ucap Arnold meralat ucapan dari adiknya itu.
__ADS_1
"Matlum caja toh. Tan Alan macih tecil, talo macih nomong ndak delas tuh wajal." ucap Alan memberikan alasan.
"Katanya sudah dewasa dan besar, dek" ledek Arnold mencibir adiknya itu.
"Ish... Abang Anol nih cukana libutin hal ndak enting," ucap Alan dengan memberengut kesal.
Senjata Alan kalau sudah kalah dalam berdebat pasti seperti itu. Langsung menganggap kalau semua yang diributkan itu adalah hal yang tidak penting. Nadia yang melihat kedua anaknya berdebat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
Walaupun keduanya selalu berdebat, namun mereka mempunyai kasih sayang dan solidaritas antar sesama yang tinggi. Bahkan keduanya akan saling melindungi dan perhatian di saat sedang membutuhkan sesuatu.
"Jadi gimana, bu? Kebetulan di rumah ini memang sedang butuh. Ini bukan karena ibu ada di sini lho ya," ucap Nadia sambil terkekeh pelan.
Nadia tak ingin Ibu Rivan salah paham kepadanya. Tentu saja Ibu Rivan akan berpikir kalau Nadia kasihan pada keluarganya sehingga memaksakan memberi pekerjaan kepadanya. Nadia harus meluruskan itu semua agar tak terjadi salah paham.
"Rivan terserah sama ibu saja. Lagi pula jarak rumah Arnold dan tempat tinggal kita nggak jauh banget kok. Setengah jam kalau jalan kaki," ucap Rivan sambil tersenyum.
Apapun yang dilakukan oleh ibunya adalah yang terbaik untuk keluarganya. Rivan tak pernah malu dengan pekerjaan ibunya karena yang terpenting apa yang didapatnya itu halal. Ibu Rivan langsung menganggukkan kepalanya setuju untuk bekerja sebagai ART di rumah ini. Lagi pula akan lebih baik jika ia bekerja di sini karena keamanan Naufal akan lebih terjamin.
"Saya mau, bu." ucap Ibu Rivan dengan mata berkaca-kaca.
Setidaknya ia bisa mendapatkan pekerjaan dan pendapatan tetap. Ibu Rivan sungguh bersyukur karena nanti uang yang didapatkannya bisa ia gunakan untuk menyewa rumah yang layak huni. Sehingga keluarga mereka tak perlu takut lagi kalau suatu saat akan kena gusuran.
"Tinggallah di rumah belakang. Itu khusus untuk ART di sini. Hanya saja, kebetulan Mbok Imah yang masih ART di sini juga itu sudah mempunyai rumah sehingga tak tinggal di sana. Mbok Imah itu sudah tua dan lama ikut kami, makanya saya mencari orang untuk membantu beliau agar tak kelelahan," ucap Nadia menjelaskan.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Ibu Rivan yang langsung memeluk Nadia.
Ternyata rencananya tentang menyewa rumah langsung ia hapus segera dalam pikirannya. Ia sudah mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk anak-anaknya. Ibu Rivan tak lagi bisa menyembunyikan kebahagiaannya, begitu pula dengan anak sulungnya.
"Terimakasih, tante. Saya akan membantu pekerjaan di rumah ini setelah pulang dan libur sekolah," ucap Rivan dengan antusias.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya. Nadia berpikir kalau Rivan itu membantu pekerjaan rumah ini karena ingin mengurangi beban ibunya. Alan begitu senang mendengar pembicaraan dari Nadia dan Ibu Rivan. Yang pasti kebahagiaannya itu karena setiap hari akan bertemu dengan Naufal.
"Opal, tita atan temu cetiap hali lho. Tamu pati cenang tan temu abang Alan yang danteng ni tiap hali? Cenang dong. Ayo ilang cenang ditu," ucap Alan mengajak Naufal berbicara.
Naufal yang mendengar Alan seperti mengomelinya itu langsung melengkungkan bibirnya. Apalagi Alan terlihat terus berceloteh tanpa menampilkan ekspresi apapun. Bahkan bibirnya mengerucut seperti sedang kesal dengan dirinya.
Huaaaaa....
Sontak saja semua yang ada di sana langsung mengalihkan pandangannya kearah Naufal yang menangis. Mereka terkejut, pasalnya tadi Naufal sedang sibuk bermain dengan Alan. Alan pun merasa kebingungan dengan Naufal yang tiba-tiba menangis.
"Wooo... Alan nakal ya, Naufal. Makanya jangan dekat-dekat sama Alan," ucap Arnold yang seakan memprovokasi Naufal agar tak dekat-dekat dengan adiknya itu.
"Angan ekat-ekat cama Opal. Opal cuma adit atu," seru Alan saat melihat Arnold akan menggendong Naufal.
Bahkan kini Alan langsung memeluk Naufal yang masih menangis. Tentu saja hal itu membuat Alan cemberut karena merasa disalahkan. Bahkan Alan tak ingin ada seorang pun yang mendekati Naufal. Ibu Rivan pun yang ingin menggendong anaknya juga langsung dihalangi oleh Alan.
"Dangan centuh adit atu," serunya sambil memelototkan matanya kearah semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Pocecip..." ledek Arnold dengan bibir yang menye-menye.